
Setiba di rumah sakit, Arsen dan Rena langsung menuju ruangan dimana Talia berada. Didepan ruangan tersebut sudah ada Dian dan kakek Raymond yang menunggu.
"Assalamualaikum kek, Ibu" ucap Arsen dan Rena serempak.
"Waalaikumsalam" jawab Dian dan kakek Raymond bersamaan.
"Bagaimana keadaan mbak Talia ?" tanya Rena.
"Masih di cek oleh dokter nak"
Rena duduk disamping Dian. Mendadak wajah Rena menjadi pucat, entahlah ia merasa takut dengan persalinan padahal ini bukan lagi yang pertama baginya.
Melihat raut wajah sang istri yang berubah, Arsen langsung mendekat.
"Kamu kenapa sayang ?" tanya Arsen berbisik.
"Aku takut mas, padahal aku sudah pernah ngalamin"
Arsen menarik sang istri kedalam pelukannya, ia mengelus punggung itu dengan lembut. Bukan hanya Rena yang takut dirinya juga takut saat mendengar orang akan menjalani persalinan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dokter Ratna baru saja keluar dari ruangan Talia.
"Bagaimana keadaan menantu saya dok ?" tanya kakek Raymond.
"Sudah pembukaan empat pak, sebentar lagi akan kami pindahkan keruang bersalin"
"Jadi dia bisa lahiran normal ?"
"Bisa kok pak sesuai permintaan ibu Talia sendiri"
Kakek Raymond merasa lega karena mendengar hal itu. Memang dari awal Talia ingin melahirkan secara normal.
"Boleh kami melihat keadaan nya dok ?" tanya Dian kemudian.
"Silahkan"
Setelah dokter Ratna pergi, semuanya memasuki ruangan Talia. Disana mereka melihat Talia meringis menahan rasa sakit.
Talia di anjurkan tidur miring kekiri, supaya mempercepat proses pembukaan.
"Astaghfirullah" gumam Talia saat kembali merasakan kontraksi.
"Tante sakit banget" Talia meraih tangan Dian lalu menggenggam nya dengan erat.
"Iya nak, kalau gak sakit bayinya gak bisa keluar"
"Tapi ini sakit banget bu...."
Rena hanya menatap tanpa mengeluarkan sepata katapun, tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut. Padahal yang akan menjalani persalinan adalah Talia.
"Mas aku takut" bisik Rena.
"Ya sudah kita tunggu di luar saja"
"Tapi aku mau lihat mbak Talia"
"Kalau keadaan kamu seperti ini bagaimana kamu akan melihat keadaan Talia. Nanti kamu pingsan sayang"
Akhirnya Rena menurut, ia menunggu di luar bersama sang suami.
Satu jam kemudian Talia sudah di pindahkan keruang bersalin, hanya Dian yang menemani wanita itu didalam.
Dengan sangat sabar Dian memberikan semangat pada wanita itu, ia rela tangannya di genggam dengan erat oleh Talia. Melihat Talia yang terus meringis kesakitan membuat Dian merasa tak tega.
"Ya Allah ini sakit sekali"
"Iya nak, tante tau"
"Tolongin Talia Tante. Panggilin dokter"
"Iya sebentar lagi dokternya akan datang, kamunya jangan panik !"
Talia kembali meringis, menahan rasa sakit yang kian mendera. Kalau bisa ia ganti rasanya Talia ingin mengganti rasa sakit ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arsen masih mengelus punggung sang istri dengan gerakan lembut.
"Apa gak sebaiknya kamu bawa saja Rena pulang, kasihan dia" ujar kakek Raymond.
"Tidak kek, aku gak papa kok"
"Yakin" sahut Arsen kemudian.
"Yakin mas"
Tiga jam kemudian, Suara tangisan bayi sudah terdengar membuat semua orang bernapas legah karena Talia sudah berhasil melahirkan bayinya.
Rena sudah tak panik lagi, ia mengucapkan syukur berkali-kali saat suara tangisan bayi begitu menggema.
"Alhamdulillah, mbak Talia sudah jadi ibu" ucap Rena dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu juga sudah menjadi ibu sayang, dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak kembar kita"
"Iya mas. Nikmat Allah begitu indah"
Tidak berapa lama Dian keluar.
"Dia baik-baik saja Yah, anaknya cantik dan sehat"
"Alhamdulillah kalau begitu"
"Kapan mbak Talia akan di pindahkan bu ?" tanya Rena kemudian.
"Sebentar lagi nak, dokter masih membersihkan Talia dan bayinya"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari sudah beranjak sore, Talia kini sudah di pindakan keruang rawat. Disamping ranjang miliknya ada seorang bayi mungil yang baru saja melihat dunia.
Berulang kali Talia menghapus air matanya, apalagi saat melihat anaknya. Entah bagaimana ia menjelaskan Ayahnya nanti.
Kakek Raymond baru saja mengumandangkan adzan, membuat bayi mungil itu terdiam seketika. Matanya yang kecil dan bulat menatap wajah kakek Raymond.
"Kenapa sayang, ini kakek nak." ucap kakek Raymond.
Tatapan mata bayi mungil itu mengingatkan kakek Raymond dengan almarhum Willi. Mungkin diatas sana Willi sedang melihat kalau anaknya sudah lahir dengan selamat.
"Selamat ya mbak, akhirnya mbak jadi ibu juga sekarang" ucap Rena.
"Iya Ren" balas Talia sembari tersenyum.
"Bagaimana rasanya mbak ?"
"Masya Allah nikmat banget Ren, seperti seluruh tulang patah semua"
Arsen langsung menutup kedua telinga sang istri, ia tidak mau istrinya akan semakin takut mendengar hal itu. Ia ingin Rena selalu rileks saat akan menghadapi persalinannya nanti.
"Kenapa sih mas" tanya Rena kesal.
"Kamu jangan dengerin kaya gitu, tadi aja kamu ketakutan, nanti malah semakin takut"
Rena terkekeh, tapi ia penasaran mendengar cerita Talia.
"Kamu istirahat dulu Ren ! ingat kamu sedang hamil" ujar Talia.
"Iya mbak, aku mau pamit pulang dulu. Besok aku akan datang lagi kesini"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di perusahaan, Jasmin sedang menunggu sebuah taksi. Karena hari ini tak membawa mobil. Namun anehnya sudah hampir 15 menit ia menunggu belum ada taksi yang lewat.
Robert yang melihat hal itu langsung menghentikan mobilnya di depan Jasmin. Membuat wanita itu mengernyit bingung.
"Mau ikut ?" tawar Robert sembari membuka kaca mobil.
"Enggak usah, aku mending nungguin taksi dari pada pulang sama kamu"
Robert mencibir "Yakin mau nungguin taksi, bagaimana kalau tidak ada taksi yang lewat ?"
"Pasti ada kok"
"Mumpung aku lagi baik, ayo pulang bersama ku !"
"Dasar pemaksa" balas Jasmin kemudian membuka pintu mobil bagian belakang.
"Hei aku bukan sopirmu"
"Terus ??"
"Pindah kedepan"
"Tidak mau"
"Ya sudah kita tidak akan pulang kalau kamu tidak pindah kedepan"
Jasmin kembali mendengus, Robert selalu membuat emosinya naik. Ia membuka pintu depan kemudian menutupnya dengan kencang.
"Astaga, untung aku tidak jantungan" ucap Robert mengelus dadanya.
"Berisik, ayo cepat jalan"
Robert hanya mencebikan bibirnya, kemudian menghidupkan mesin mobil. Ia memacu kemudinya dengan cepat.
Sepanjang perjalanan keduanya sama sama terdiam, Jasmin tak ada niat sedikitpun untuk membuka suara. Hingga beberapa saat kemudian mobil berhenti tepat didepan rumah Jasmin.
"Tunggu disini dan jangan pulang dulu".pinta Jasmin.
"Memangnya kenapa ?"
"Udah diam aja"
"Ok"
Jasmin keluar dari mobil kemudian memasuki rumahnya, Mata Robert terus menatap kearah Jasmin ia terkekeh lucu karena tingka Jasmin saat ini.
Menurutnya wanita itu sungguh menggemaskan.
Kaca mobil kembali di ketok, Robert menurun kan kaca mobilnya lalu menatap kearah Jasmin.
"Nih ongkosnya, tadi aku gak punya uang kes makanya aku suruh kamu nunggu" ucap Jasmin dan langsung berlalu dari sana.
"Apa-apaan ini" gumam Robert sembari melihat selembar uang seratus ribu yang ada di tangannya.