
Talia pulang dengan kekesalan yang amat dalam, ia menghempaskan tubuhnya pada sofa, tentu saja tingkahnya menarik perhatian Willi yang saat itu sedang menikmati secangkir teh hangat sembari menonton televisi.
"Kau kenapa lagi ?" tanya Willi heran.
"Aku kesal paman, kenapa sih Arsen tuh susah banget di taklukan"
Willi mengukir senyum, ia pun berpindah tempat duduk "Memangnya kau habis dari kantor Arsen ?"
Talia menjawab dengan anggukan "Setiap aku kesana pasti di usir secara tidak hormat"
"Sabar sayang, kamu harus sabar menghadapi Arsen. Yakin lah suatu hari nanti Arsen akan bertekuk lutut padamu"
"Tapi sampai kapan aku harus sabar paman ? sikap Arsen tu bikin aku naik darah terus tau gak"
Willi menarik Talia kedalam pelukannya, wanita itu bersandar didada bidang Willi. .
"Jangan main sekarang ya paman, aku capek sekali" gumam Talia namun bisa di dengar jelas oleh Willi.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Willi tertawa terbahak-bahak, Talia begitu hapal dengan tingkahnya.
"Tenang saja sayang, aku tidak meminta itu sekarang. Kan semalam kita sudah puas melakukannya, bahkan kau memberikan servis yang begitu dahsyat yang membuat aku selalu ketagihan" Jari jemari Willi mengelus pipi Talia, memberikan sensasi aneh namun menyenangkan.
Entah sudah berapa kali keduanya melakukan hubungan terlarang itu, keduanya sama-sama menikmati setiap permainan masing-masing. Talia selalu kalah dengan permainan Willi yang begitu jago bermain di atas tubuhnya yang seksi.
Begitupun dengan Willi, laki-laki yang umurnya sudah kepala tiga itu selalu merasa ketagihan bermain dengan Talia. Wanita bertubuh cantik dan seksi itu berhasil membuatnya hilang arah.
"Nanti malam kau ikut aku" ucap Willi kemudian.
Talia mendongak, ia sedikit mengangkat kepalanya didada bidang Willi "Mau kemana paman ?"..
"Kita akan masuk ke kantor Arsen dengan cara diam-diam, aku merasa ada yang Arsen sembunyikan"
"Bagaimana caranya ? bukankah kantor itu di jaga dengan ketat walaupun malam hari, dan juga CCTV berada dimana-mana"
"Jangan panggil aku William jika aku tak bisa masuk kesana tanpa ketahuan orang lain"
Sudut bibir Willi membentuk lengkungan, membuat Talia pun ikut tersenyum, walau sebenarnya ia bingung untuk apa Willi ingin masuk kedalam kantor Arsen.
Rasa penasaran juga langsung Talia rasakan, semoga saja nanti malam mereka menemukan sesuatu yang akan membuat Arsen hancur.
"Ya sudah aku mau istirahat dulu kalau begitu" Talia beranjak, ia membenarkan dress yang menampakan paha putih dan mulusnya.
"Astaga, melihat ini membuat adik kecilku bangun sayang" Willi mere mas bo kong seksi Talia, membuat perempuan cantik itu tertawa kecil, namun di sela tawanya ia mende sah..
"Hei kau nakal sekali ya" Willi menggerutu kesal, namun Talia semakin memberikan suara Aneh yang akan membangkitkan Willi kedalam balutan hasrat yang bergelora.
"Hahaha, maafkan aku paman" Talia berlari meninggalkan Willi seorang diri.
Setelah kepergian Talia, Willi menggelengkan kepalanya.
"Astaga kenapa aku selalu ingin bermain di atas tubuhnya". gumam Willi dalam hati.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di Restoran x....
Arsen dan Robert baru saja tiba di restoran, keduanya langsung memasuki ruangan VVIP dimana sudah ada tiga orang menunggu keduanya.
Seperti biasa Arsen akan bersikap dingin, laki-laki itu tak suka terlalu bertele-tele. Bahkan Arsen langsung ingin memulai meetingnya tanpa adanya embel-embel perkenalan.
"Bagaimana Tuan Arsen ? apa anda bersedia berkerja sama dengan perusahaan kami" tanya Handoko
"Saya tak bisa menjawab sekarang, tapi berkas ini akan kami bawa. Dua hari kedepan Asisten saya akan mengabari anda" balas Arsen kemudian.
Handoko terlihat menganggukan kepalanya, ia begitu berharap Arsen akan menerima kerja sama mereka, karena dengan bekerja sama dengan perusahaan Arsen otomatis perusahaannya akan meraup keuntungan yang lumayan besar.
Sedari tadi Asisten Handoko menatap Arsen dengan seksama, sebenarnya Arsen bukan tak menyadari hanya saja laki-laki itu pura-pura tak tau apa-apa.
"Sudah selesai Robert ?" tanya Arsen pada Asistennya.
"Sudah tuan" jawab Robert.
Mendengar hal itu Handoko langsung menatap Asiatennya yang bernama Bella, ia menatap Bella dengan tajam, baginya Bella sudah terlalu lancang dan sangat memalukan.
Menyadari tatapan Handoko, membuat Bella langsung menundukan kepalanya.
"Baiklah pak Handoko, kami mau pamit dan tunggu kabar dari saya dua hari lagi" ucap Robert.
"Apa tidak makan dulu Tuan, saya yang akan membayar makanannya"
Arsen terkekeh "Kau kira saya mau menerima bantuan dari anda, kalau saya mau makan saya bisa membayarnya dengan uang saya sendiri" balas Arsen dengan sombongnya.
"Maafkan saya tuan" Handoko menundukan kepalanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di rumah Arsen......
Rena berjalan kearah lemari pakaiannya, perlahan ia buka pintu lemari itu dimana ia menyimpan kiriman yang dulu ia terima. Tangan Rena terulur kemudian mengambil salah satu paper bag disana.
"Aku merasa ini dari Mas Arsen" gumamnya sembari menatap isi didalamnya.
Sebuah ponsel keluaran terbaru, Rena yakin kalau harganya sangatlah mahal. Tak mungkin jika orang salah kirim untuknya, apalagi tidak ada yang tau alamat tempat tinggalnya sekarang.
Rena membuka kotak ponsel itu, sesaat kemudian ia melihat sebuah ponsel warna pink dengan gambar buah apel yang di gigit bagian atasnya.
"Masya Allah indah sekali" gumam Rena
Tak disangka saat ponsel itu ia hidupnya, sebuah foto muncul di layar ponselnya, tentu saja Rena terkekeh karena foto disana adalah foto Arsen.
"Dasar Mas Arsen, dulu katanya ini bukan darinya" Rena menggelengkan kepala, saat mengingat bagaimana dulu Arsen membantah kalau barang itu darinya.
"Makasih ya Mas"
"Aku suka barangnya"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sementara itu Arsen dan Robert kembali kekantornya, walaupun Arsen ingin sekali pulang namun harus ia tahan karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Robert"
"Iya Tuan"
"Kapan jadwalku yang tidak padat ?"
Robert sesaat terdiam, nampaknya ia sedang berpikir "Sepertinya minggu depa tuan, memangnya kenapa ?"
"Aku mau mengajak Rena dan Elvan liburan, jadi minggu depan kau siapkan semuanya. Aku tak ingin liburanku bersama mereka ada yang mengganggu"
"Baik Tuan, akan saya siapkan sekarang"
Arsen tersenyum, ia berencana akan membawa Rena dan Elvan liburan. Atau bisa di bilang ia ingin bulan madu bersama Rena.
"Hmmm, tuan rencananya mau kemana ?" tanya Robert lagi.
"Menurutmu kemana enaknya liburan"
Astaga kenapa harus bertanya dengan Robert ? laki-laki itu tentu saja tidak akan pernah tau tempat-tempat yang romantis untuk liburan, karena selama ini yang ada di pikiran Robert hanya bekerja dan bekerja.
"Saya akan mencari tau dimana tempat yang bagus tuan"
"Dasar bo doh" Hardik Arsen kesal "Masa itu saja tidak tau, makanya kau jangan kaku amat jadi laki-laki"
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIt...