Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 47



"Mas" pekik Rena.


Arsen langsung menoleh, mendapati istrinya ada disana Arsen langsung melepaskan tubuh Talia, sehingga membuat Talia terjatuh kelantai. Wanita itu meringis menahana sakit di punggungnya.


"Sayang ini gak seperti yang kamu lihat" ucap Arsen yang langsung mendekati istrinya, ia begitu takut kalau Rena akan salah paham.


"Ini drama wanita ular ini, kamu jangan langsung percaya ya!" sambung Arsen lagi.


Rena menatap suaminya dengan tajam membuat nyali Arsen benar-benar menciut, ia tak pernah melihat tatapan setajam itu dari Rena.


"Mati gue, Rena pasti bakalan marah" batin Arsen deg-degkan.


Sesaat kemudian Rena justru tersenyum, ia menggenggam tangan suaminya dengan erat, kemudian mengecup punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang.


"Aku percaya kok sama kamu. Mas Arsen tidak mungkin mau melakukan hal bodoh. Iya kan"


Arsen menarik napas penuh kelegaan, ia begitu takut kalau Rena bakalan marah.


"Terima kasih sayang, sudah percaya sama Mas"


"Sama-sama Mas, sudah menjadi tugas seorang istri agar selalu percaya sama suaminya"


Arsen merangkul pundak sang istri.


"Tapi, walaupun aku percaya sama Mas bukan berarti Mas harus melakukan itu lagi. Awas aja kalau aku melihat untuk yang kedua kalinya" sambung Rena lagi.


"Memangnya kalau Mas melakukan itu lagi kamu mau apa Sayang" tanya Arsen penuh keingin tahuan, ia ingin mengetahui apa yang akan istrinya lakukan jika dirinya melakukan kesalahan lagi.


"Ku potong burungmu" ancam Rena.


Gleeekkkk.


Sesaat Arsen dan Robert saling pandang, kedua laki-laki itu penuh ketakutan.


"Astaga kenapa aku yang ngeri sendiri ya mendengar ancamam nona Rena, padahal yang suaminya adalah Tuan Arsen". batin Robert.


"Jangan sampai aku melakukan kesalahan lagi, bisa-bisa burungku benar-benar akan di potong. Mendengarnya saja sudah membuat bulu ku merinding" ucap Arsen dalam hati.


Talia yang masih terduduk di lantai kembali merasakan kekesalan, ia tak di perdulikan sama sekali disana. Akhirnya sambil menahan malu Talia berdiri dari duduknya.


"Arsen, kenapa kau tega menjatuhkan aku" ucap Talia


"Lah itukan salah mu sendiri, ngapain peluk-peluk Tuan Arsen" bukan Arsen yang menjawab melainkan Robert.


"Diam kau, aku tak berbicara padamu sekretaris sialan" balas Talia sembari menatap Robert dengan tajam.


Rena tersenyum ia berjalan mendekati Talia "Aku tau mbak Talia mau membuat aku cemburu kan" ucapnya sambil tersenyum "Tapi sayangnya apa yang mbak lakukan sudah aku ketahui, jadi aku tak akan cemburu dengan semua itu"


Talia menggepalkan kedua tangannya, ingin sekali dirinya menonjok wanita itu tapi sayang ia tak punya keberanian untuk melakukan itu, apalagi melihat tatapan Arsen yang begitu tajam.


"Robert" panggil Arsen


"Iya Tuan"


"Kau tau kan apa yang harus kau lakukan" ucap Arsen tapi matanya tetap menatap Talia.


"Iya tuan, saya akan paham"


Arsen mengangguk, kemudian ia mengajak sang istri untuk kekamar meninggalkan Talia bersama Robert.


"Ayo sayang, kita tidur aku tak sabar ingin berpelukan denganmu" kata Arsen yang sengaja meninggikan suaranya.


"Apa sih Mas" balas Rena.


Sekarang tinggalah Robert dan Talia, saat Talia hendak meninggalkan Robert laki-laki itu langsung mencekal pergelangan tangan Talia dengan kuat.


"Hei apa yang kau lakukan ? lepaskan ! aku mau tidur" teriak Talia.


"Diamlah nona ! suara anda akan mengganggu tidur semua orang"


"Makanya lepaskan tanganku, aku juga mau tidur"


"Kau tidak boleh tidur disini, karena Tuan Arsen tak mengizinkan"


Talia kembali berontak tapi tenaganya tak bisa mengalahkan tenaga Robert. Tentu saja perbuatan Robert membuat Talia ingin marah apalagi saat laki-laki itu menyeretnya keluar rumah.


"Silahkan anda pulang saja kerumah mu, karena disini anda akan bikin masalah"


Talia berdiri dari duduknya, ia menatap Robert dengan tajam "Kau tidak lihat ya ini sudah malam, pikir dong aku ini perempuan, bagaimana kalau terjadi apa-apa padaku"


Robert tersenyum misterius "itu bukan urusanku"


"Sialan pria ini, awas aja akan aku balas kamu"


"Ini kunci mobil anda" Robert melemparkan kunci mobil pada Talia "bukankah anda sudah sering pulang larut malam, ku rasa kau tak perlu takut jika mengulangnya lagi"


"Dasar laki-laki tak punya perasaan, ku sumpahin kau tidak akan dapat jodoh" geram Talia sambil menunjuk wajah Robert.


"Saya tak takut dengan ancaman anda nona"


Akhirnya Talia meninggalkan rumah kakek Raymond dengan perasaan kesal bercampur marah. Ia mengumpat terus menerus dan akan membalas semua perbuatan yang tidak menyenangkan.


Di perjalan pulang Talia memacu mobilnya dengan cepat, matanya sudah mengantuk di tambah lelah.


"Awas kamu Rena"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Didalam kamar Arsen sedang menunggu sang istri dikamar mandi, ia tersenyum saat menerima pesan dari Robert kalau Talia sudah tak ada di rumah.


"Kamu kenapa Mas senyum-senyum seperti itu ?" tanya Rena membuat Arsen mendongak.


"Tidak sayang, ini aku baca pesan dari Robert"


"Memangnya pesan apa yang di kirimkan Robert sampai kamu senyum-senyum seperti itu ?"


Arsen menarik tangan sang istri agar duduk di sampingnya.


"Jangan cemburu gitu ah,, masa cemburu sama Robert, memangnya suami mu ini apa" Arsen menarik hidung Rena dengan gemas, ia pun memberikan ponselnya pada Rena supaya istrinya itu bisa baca sendiri.


"Maksudnya apa Mas ?" tanya Rena yang tak mengerti maksud pesan itu.


"Tadi Robert aku suruh menguair Talia, dan katanya dia sudah berhasil melakukan itu"


"Astaga, kenapa Mas melakukan itu ? inikan sudah malam Mas, kasian kan mbak Talia nya"


Arsen tertegun mendengar ucapan sang istri, walau Talia sudah membuat masalah pada Rena, tapi Rena masih saja kasihan pada wanita itu.


"Dia sudah biasa pulang malam sayang, jadi jangan khawatirkan dia"


"Tapi harusnya Mas jangan melakukan itu, dendam itu tidak boleh Mas. Kalau Mas selalu membalas perbuatan mbak Talia artinya Mas sama saja dengannya"


"Masya Allah adem sekali punya istri seperti ini" balas Arsen tersenyum, ia mengelus rambut panjang Rena karena memang saat ini Rena sudah melepas hijabnya.


"Terima kasih ya Allah sudah mengirimkan wanita seperti ini pada hamba, jaga lah ia selalu dan jagalah pernikahan kami Ya Allah" doa Arsen dalam hati


"Tidur yuk Mas, aku udah ngantuk"


"Gak main dulu ? sayang loh waktunya"


"Aaawwwwww" jerit Arsen saat menerima cubitan dari sang istri "Salahku apa sayang ? kenapa di cubit ?"


"Mas lupa ya kalau semalam sudah, masa iya tiap malam ? kan capek"


"Kamu tu capeknya apa sih sayang, perasaan kerjamu di bawa terus. Aku yang selalu bekerja ektra"


Ingin sekali rasanya Rena menjahit mulut sang suami, saat Arsen berbicara tanpa filter.


 


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...