
Malam harinya atau lebih tepat pukul 10 malam. Arsen dan Robert baru saja keluar dari kantor. Kedua laki-laki itu baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Para karyawan sudah banyak yang pulang, tinggal 2 security yang bertugas menjaga keamanan perusahaan itu.
"Silahkan Tuan" Robert membukakan pintu kemudi untuk Arsen.
"Hemm. Kau hati-hati Bert, sampai jumpa besok" Arsen masuk kedalam mobil.
Saat mobil Arsen melaju, Robert membungkukan badannnya, barulah setelah itu ia berjalan menuju mobilnya sendiri. Saat melewati dua security Robert menghentikan mobilnya kemudian membuka kaca jendela
"Jaga kantor ini baik-baik, jangan sampai kejadian dulu terulang lagi" pesan Robert.
"Baik Tuan, akan kami lakukan"
"Ini uang untuk kalian, silahkan beli kopi atau cemilan"
"Terima kasih tuan"
"Hemmmm" Robert kembali menutup kaca jendela mobilnya, kemudian memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mobil Arsen menembus jalanan ibu kota yang gelap gulita, hanya lampu di pinggir jalan yang menjadi penerangnya, atau lampu dari beberapa gedung di pinggir jalan.
Arsen terus memacu kendaraannya dengan cepat, berharap ia segera tiba di rumah. Karena ada satu nama yang membuat Arsen selalu betah di rumah.
Rena... Nama itu yang selalu ada di ingatannya, membuat rasa cinta itu semakin besar.
Ciiiiiiiiiiitttt.
Bunyi rem dari mobil Arsen begitu nyaring terdengar, Arsen sengaja menghentikan mobilnya saat di depannya ada beberapa orang yang menghalangi jalannya.
"Mau apa mereka ?" gumam Arsen.
"Hei turun kau" seseorang mendekat lalu menggedor kaca mobil Arsen dengan kencang.
Arsen menghitung jumlah mereka, ada 8 orang dan tubuh mereka begitu kekar. Sebenarnya Arsen tak takut karena dirinya pernah berlatih bela diri, namun mengingat dirinya hanya sendiri membuat Arsen tak yakin.
"Bismilllah" kembali dirinya bergumam. Lalu membuka pintu mobil untuk menghadapi para pria berbadan kekar itu.
"Mau apa kalian ?" tanya Arsen, ia menatap wajah mereka satu persatu, tapi sayangnya tak ada satupun yang Arsen kenali.
"Hah, jangan banyak bicara. Hajar dia" perintah pria berbadan paling besar yang tadi mengetok pintu mobil Arsen.
Serangan pertaman, Arsen berhasil melumpuhkan mereka. Tapi saat serangan kedua Arsen tumbang karena salah satu dari mereka memukul punggung Arsen sehingga membuat laki-laki itu terjungkal.
"Aaaaaaahhhhhhh" Arsen mengerang, punggungnya terasa sangat sakit.
"Lindungi hamba Ya Allah !"
"Re---na"
Buuuuuuuuggggggggg.
Mata Arsen terpejam saat seseorang kembali memukul tubuhnya.
"Ayo bawa dia ke hotel X sesuai yang bos minta"
Mereka semua mengangkat tubuh Arsen. Laki-laki itu sudah tak berdaya karena pukulan di punggungnya begitu kuat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Astaghfirullah" ucap Rena saat tasbih yang sedang ia pegang putus dan berantakan.
Perasaan Rena tak karuan, memang sejak tadi ia tak bisa tidur. Ia belum tenang sebelum sang suami pulang dengan selamat.
Memang bukan ini pertama kali Arsen lembur, tapi entah kenapa kali ini sangat membuat perasaannya khawatir. Rena memegang dadanya, saat rasa cemas begitu mendera.
"Ya Allah sudah jam 11 malam, tapi kenapa Mas Arsen belum pulang"
"Lindungi suami ku Ya Allah"
Pipinya sudah basah karena air mata, Rena membuka hordeng jendela untuk melihat keluar siapa tau mobil suaminya sudah ada disana.
"Coba aku hubungi dulu" ia bergegas menuju meja nakas untuk mengambil ponselnya. Setelah mendapatkannya hanya sebuah jawaban yang membuat perasaan cemas itu semakin besar.
(Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan)
Iya hanya jawaban yang membuat Rena kesal. Kemana suaminya sekarang ? apa dia baik-baik saja ?. Begitu pikir Rena
"Robert, mending aku hubungi dia"
"Iya Nona, ada apa ?"
"Robert kalian belum pulang ya ? ini sudah malam sekali ?"
"Kami semua sudah pulang sejak satu jam yang lalu nona, saya saja sudah di Apartemen"
"Sudah pulang ? lalu dimana Mas Arsen ?"
"Bukankah tuan pulang duluan ? harusnya dia sudah tiba di rumah"
"Belum Robert, Mas Arsen belum sampai di rumah makanya aku khawatir, di telfon juga gak aktif"
"Astaga, tak biasanya tuan Arsen seperti ini. Baiklah nona anda tenang dulu saya akan mencari tuan Arsen sekarang"
"Terima kasih Robert"
"Sama-sama nona"
Setelah panggilan terputus Air mata Rena semakin deras, ia kembali ke atas Sajadah dan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
"Ya Allah Ya Robbi, hamba mohon jaga suami hamba dimanapun dia berada, lindungi dia ya Allah ! hamba mohon hiks--hiks--hiks". tangis Rena pecah di atas sajadah itu. Menumpahkan semua masalahnya kepada sang pencipta. Karena hanya kepada Allah tempat Rena mengadu saat ini.
"Mas Arsen kamu dimana sayang ? semoga kamu baik-baik saja disana"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Masukan dia kedalam" perinta Talia.
"Baik Bos"
Tubuh Arsen di papa masuk kedalam kamar hotel itu, ia dibaringkan di atas kasur. Talia tersenyum puas saat melihat Arsen sudah berada di kamar dengannya.
"Sekarang apa yang harus kami lakukan lagi bos ?"
"Tidak ada semuanya sudah perfek. Dan ini sisah bayarannya. Ingat kalian jangan pernah muncul lagi di kehidupan saya !"
Kedua lelaki yang membawa Arsen tadi tersenyum puas saat menerima sisah uangnya.
Setelah mereka semua pergi, Rena mengambil sebuah kamera di dalam tasnya.
"Aku tak akan melakukan apa-apa padamu Sayang, aku hanya ingin kamu menjadi Ayah dari anakku"
Talia mengelus pipi Arsen, ia melepaskan satu persatu kancing kemeja yang Arsen kenakan. Sehingga tak berapa lama tubuh Arsen polos bagian atasnya.
"Ok bagus, dan tinggal mengambil videonya"
Talia pun beranjak lalu memasang sebuah kamera di sampingnya, disana tampak dengan jelas apa yang akan terjadi kedepannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rena berjalan mondar-mandir dikamarnya, sampai saat ini Arsen belum juga pulang, dan itu semakin membuat Rena panik. Robert pun belum menghubunginya lagi.
"Ya Allah dimana kamu Mas"
Berulang kali Rena menghubungi nomor Arsen dan tetap saja tidak aktif, Rena mendesah frustasi ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada suaminya.
"Robert" gumam Rena saat ponselnya berdering dan menampakan nama Robert disana. Rena langsung menempelkan benda segi empat itu di daun telinganya setelah menggeser menu hijau itu.
"Halo Robert, bagaimana ? apa kau sudah menemukan suamiku ?"
"Saya hanya menemukan mobilnya, tapi Tuan Arsen tidak ada di tempat"
"Astaghfirullah, tolong cari suami saya Robert ku mohon"
"Baik nona, sebentar saya menemukan ponsel tuan Arsen nona"
"Tolong cek, apa ada tanda-tanda kalau Mas Arsen pergi ?"
"Tidak ada nona, ponselnya mati"
"Ya Allah"
Rena kembali menarik napas panjang, dimana suaminya sekarang ?
"Apa Mas Arsen kerumah kakek ?"
"Tidak mungkin nona ? saya yakin tuan Arsen mengalami sesuatu"