
Tidak berapa lama, Arsen kembali dimana Rena dan Elvan berada, laki-laki itu membawa sepiring makanan dan satu botol susu. Membuat Rena bingung.
"Mas Arsen lapar juga ?" tanya Rena penuh ingin tahu.
"Enggak" jawab Arsen singkat sembari mendudukan dirinya di samping Rena "Ini makanan buat kamu" ujar Arsen lagi.
Rena tersenyum malu-malu, ia merasa begitu bahagia sekarang karena bisa merasakan sikap hangat dari Arsen.
"Dan ini" kali ini Arsen mengangkat botol susu "Untuk anak Papa yang pintar" kemudian menyerahkan susu itu pada Elvan.
"Makasih ya Mas" rasa haru begitu Rena rasakan.
"Untuk apa makasih, ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai seorang suami dan Ayah"
Astaga, siapa yang tak akan meleleh di perlakukan seperti ini oleh Arsen. Laki-laki tampan itu berbicara dengan sangat lembut, membuat siapa saja yang mendengar pasti akan jatuh cinta.
-----------
Malam harinya usai makan malam, Arsen dan Rena duduk di atas ranjang tempat tidur. Mulai malam ini keduanya akan tidur bersama, bahkan kasur yang biasa Rena tempati entah kemana perginya.
Keduanya masih terdiam, akan tetapi jari jemari Arsen memainkan rambut panjang Rena. Usai melaksanakan sholat isya Arsen tak mengizinkan Rena memakai hijabnya lagi.
"Mas"
"Hmmmmm"
"Aku masih gak nyangka tau gak kalau kita akan menjadi suami istri seutuhnya"
Arsen menghentikan kegiatannya "Kata siapa seutuhnya ? belum lah kan kamu belum memberikan hakmu sebagai istri"
Deeegggggg.
Detak jantung Rena berdegup sangat kencang, saat kata HAK terucap di bibir Arsen. Walau ini bukanlah hal pertama bagi Rena namun setelah sekian tahun ia menjanda, entah kenapa rasanya sama dimana saat dirinya baru menjadi istri Rizal.
"Kenapa tanganmu gemetar ? apa kau takut melakukannya ?" tanya Arsen lagi.
"Ti--dak Mas" jawab Rena gugup.
Arsen mengu lum senyumnya, ia merasa lucu dengan sikap Rena. Arsen tau kalau istrinya itu sedang merasakan kegugupan yang luar biasa.
"Rena" panggil Arsen.
"Iya Mas"
"Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa. Aku akan coba mengerti"
"Ya Allah ada apa dengan diriku, kenapa aku belum siap melakukan tugasku, padahal ini bukanlah hal pertama bagiku" batin Rena kemudian.
Arsen menggenggam tangan Rena dengan erat. "Ya sudah sana tidur, kamu kan harus banyak istirahat"
"Maafkan aku Mas, kalau malam ini aku belum siap melakukanya" jujur Rena dengan rasa bersalah. Wajahnya menunduk takut kalau suaminya itu akan marah.
"Sudah tidur saja, jangan pikirkan semua itu. Aku mengerti apa yang kamu rasakan"
Rena membaringkan tubuhnya, sementara Arsen tetap dengan posisi semula. Duduk sambil menatap lurus kedepan.
Sekarang statusnya benar-benar terasa berbeda, jika kemaren-kemaren ia merasa masih bujangan terus, sekarang tidak lagi. Ada dua orang yang harus ia jaga dengan baik.
"Besok aku harus menyuruh Robert membakar surat perjanjian itu, jangan sampai ada yang mengetahuinya" batin Arsen.
Malam semakin larut, mata Arsen mulai merasa ngantuk. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur di samping Rena.
Sekarang ia tak perlu lagi malu-malu memeluk Rena, atau memindahkan Rena dengan diam-diam keatas ranjang. Karena kini wanita cantik itu sudah berada di sampingnya untuk malam ini dan selamanya.
Keduanya tidur sambil berpelukan, lengan Arsen ia jadikan bantal untuk kepala Rena, terlihat sekali kalau Rena begitu nyaman.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi-pagi sekali usai melaksanakan sholat subuh, Rena sudah berkutat di dapur. Ia akan memasak untuk suaminya bekerja. Syukur-syukur kalau Arsen mau membawa bekal ke kantor supaya makanan yang dimakan Arsen terjaga kesehatannya.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya ?" tanya Leni setelah selesai mencuci piring.
Setelah selesai memasak sarapan Rena kembali kekamar, niatnya untuk membangunkan sang suami. Namun saat pintu ia buka Arsen sudah siap dengan pakaian kerjanya.
"Kirain belum bangun Mas" ucap Rena yang berjalan mendekati Arsen.
"Memangnya kapan suami mu ini bangunnya siang-siang" balas Arsen sembari mencubit hidung Rena dengan gemas.
"Iya juga sih, sini aku bantuin masang dasi"
Dengan senang hati Arsen menyerahkan dasinya pada Rena. Karena tubuh Arsen yang tinggi membuat Rena harus berjinjit agar sejajar.
Sementara kedua tangan Arsen ia letakkan di pinggang Rena, sungguh pemandangan yang sangat menentramkan bagi siapa saja yang melihat.
"Sepertinya aku harus mencari kursi kecil agar kamu gak susah memasangkan dasi" ujar Arsen sembari tertawa kecil.
"Makanya kamu jangan ketinggian Mas, biar gak susah"
"Lah kok nyalahin aku, kamunya aja yang kependekan"
Rena memanyunkan bibirnya, dan hal tak terduga terjadi. Arsen yang merasa gemas langsung mendaratkan ciumannya di bibir Rena. Seketika kedua mata Rena membulat namun lama kelamaan ia memejamkan matanya dan menikmati permainan suaminya..
Li dah Arsen masuk kedalam rongga mulut Rena, menyapu setiap inci didalamnya. Mata Arsen terbuka untuk melihat reaksi sang istri. Melihat mata Rena terpejam Arsen kembali bermain walau permainannya tak di balas oleh Rena.
Karena merasa kehabisan napas Rena mendorong dada Arsen.
"Ternyata kau belum jago ya bermain seperti itu" ucap Arsen meremehkan.
"Harus banyak belajar berarti, ku kira kau sudah ahli" lanjut Arsen lagi.
"Aaawwwwwww" Arsen menjerit saat sebuah cubitan ia terima dari Rena.
"Udah yuk kebawa, aku udah masak buat kamu" ajak Rena dengan wajah memerah karena malu.
Arsen terkekeh, ia mengikuti langka istrinya.
Saat di meja makan, Arsen belum melihat Elvan bangun.
"Mana Elvan ?"
"Dikamarnya Mas, mungkin dia tidur lagi. Tadi sih udah bangun" jelas Rena
"Oh" Arsen mengangguk kemudian matanya menatap hidangan di atas meja, semua menu mengguga selera.
"Wah makan besar ini, seperti nya enak semua. Jadi pengen bawa bekal kekantor"
Mendengar hal itu Rena langsung tersenyum bahagia "Benarkah Mas mau membawa bekal ? kalau mau aku siapkan" ucap Rena dengan senang.
"Astaga aku salah bicara, bisa-bisa karyawan kantor akan kaget melihat aku bawa bekal" batin Arsen meringis.
Ingin menolak namun tidak tega melihat senyum kebahagiaan dari Rena..Namun jika ia membawa bekal pasti semua karyawan kantor akan menertawakan dirinya, karena selama ini Arsen tak pernah melakukan itu.
"Mas, mau lauk apa saja ?" tanya Rena dengan semangat, ia sudah memasukan nasi kedalam rantang yang barusan ia ambil di dapur.
"Apa saja, semuanya enak" balas Arsen
"Ya sudah Mas Arsen bawa aja semuanya"
"Memangnya suamimu ini apaan Rena, kamu suruh bawa semuanya, gak akan habis aku makan"
"Ajaklah teman Mas itu makan juga"
"Gak boleh, hanya aku yang boleh makan masakanmu" balas Arsen cepat.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...