
Sebelum berkunjung kerumah lama Rena. Arsen mengajak anak istrinya itu untuk kemakam Rizal terlebih dahulu.
Setiba dimakam, Rena dan Elvan duduk berdekatan di samping makam Rizal. Sementara Arsen duduk bersebrangan dengan Rena.
"Assalamualaikum Mas, aku datang" ucap Rena dengan suara bergetar.
"Tapi kali ini aku tak datang berdua dengan El, melainkan dengan suamiku yang sekarang"
"Maaf ya Mas aku baru bisa datang hari ini, tapi bukan berarti aku udah lupain kamu"
Pipi Rena sudah basa karena air mata, memang sering begitu setiap kali ia mengunjungi makam Rizal. Ia tak bisa menahan tangisnya.
"El sudah besar Mas, wajahnya sangat mirip denganmu" Rena kembali berucap dengan isakan tangisnya.
Melihat sang istri menangis, Arsen menjulurkan tangannya, ia genggam tangan sang istri bermaksud untuk menghibur semua itu.
"Dulu aku pikir aku tak akan bisa melewati semua ini Mas, kepergianmu begitu cepat apalagi dalam kondisiku yang sedang hamil besar, tapi ternyata di balik semua ini Allah memberikan aku kebahagiaan, Allah memberikan sosok Mas Arsen untukku dan juga Elvan"
"Mama tenapa nangis telus ?" suara cadal Elvan membuat Rena menoleh, ia mengelus kepala putranya itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku gak cuka liat Mama nangis" ucap Elvan lagi.
"Iya sayang maafkan Mama" balas Rena dengan suara lembut.
"Yuk baca surat yasin dulu" ajak Arsen kemudian.
Mereka membaca surat yasin terlebih dahulu untuk mendoakan Almarhum Rizal. setelah itu barulah mereka mengunjungi rumah lama Rena.
Mobil Arsen berhenti tepat didepan rumah kecil itu, dulu pertama kali ia datang kesini untuk memaksa Rena menjadi istrinya, tak pernah terbayangkan oleh Arsen kalau ia akan bertekuk lutut pada wanita yang masih duduk disampingnya itu.
"Yuk turun !" ajak Arsen.
"Kenapa aku ragu ya Mas, aku takut jadi bahan gunjingan sama tetangga disini"
"Ya jangan kamu dengerin sayang, mereka kan cuman tetangga"
"Tapi mas gak paham aja kalau tetangg ku disini pada rese, lihat hal yang aneh aja udah jadi bahan gosip. Dulu aku juga bilang kemereka mau jadi Art bukan mau menikah"
Arsen menggenggam tangan istrinya "Ya itu salah kamu, kenapa kamu ngaku begitu, kan tinggal bilang aja kalau kamu akan menikah dengan orang terkaya di kota ini" canda Arsen menahan tawanya, padahal ia ingat kalau dirinya yang menyuruh Rena agar merahasiakan pernikahan mereka.
"Lupa atau pura-pura lupa tuan Arsen yang terhormat". Balas Rena kesal.
"Hehehe, iya-iya. Maafkan Mas. Ya sudah yuk turun nanti kalau tetangganya pada rese entar kita rese in balik" Arsen membuka pintu mobil kemudian berlari mengelilingi mobil untuk membukakan pintu untuk istrinya.
Benar saja saat kaki Rena menginjakan kaki dihalaman rumahnya, para tetangga sudah berkerumun untuk melihat kearah Rena.
Sontak saja Rena menundukan kepalanya, sementara Arsen tampak acuh, ia terus berjalan dengan santai sembari menggendong Elvan. Ia bahkan tersenyum kearah para ibu-ibu seolah sedang tebar pesona.
"Hai Rena, kau pulang juga ya akhirnya." Bu Tanti menyapa, ia tetangga yang rumahnya paling dekat dengan rumah Rena.
"I--ya bu. Bagaimana kabar ibu ?"
"Baik" jawab Bu Tanti tapi matanya tetap melihat kearah Arsen "Oh megat, dia tampan sekali" batin bu Tanti dengan menggunakan bahasa inggris yang salah.
"Siapa dia Rena ?" tanya Bu Tanti lagi.
"Saya Arsen ibu, suaminya Rena" jawab Arsen
Sontak saja ucapan Arsen membuat semua orang melongo, mereka menatap kearah Rena untuk mencari kebenaran.
Mendapatkan tatapan seperti itu Rena langsung menarik tangan sang suami menuju rumahnya. Membuka pintu dengan tergesa-gesa supaya para tetangga berhenti menatap suaminya.
Bukan cemburu, hanya saja Rena merasa risih melihat tatapan ibu-ibu itu.
"Kenapa sih sayang ? kok main tarik aja, kan aku mau kenalan sama tetangga kamu" Arsen cemberut seolah ia marah dengan kelakuan sang istri.
"Kamu mau kenalan apa mau tebar pesona ? dari tadi kok senyum-senyum begitu"
"Hahahaha" Arsen tertawa terbahak-bahak "Apakah nyonya Arsen ini sedang cemburu" godanya pada sang istri.
"Siapa yang cemburu ?" dalih Rena "Aku gak cemburu ya, mana ada aku cemburu sama ibu-ibu"
"Dah ah, aku mau beres-beres dulu, banyak banget debunya" Rena berjalan meninggalkan sang suami. Menuju sebuah kamar dimana dulu ia menghabiskan waktu berdua bersama Elvan.
Sementara Arsen, usai mendudukan Elvan ia mengelilingi rumah sederhana itu. Tak dapat Arsen bayangkan bagaimana kehidupan istrinya dulu.
Ia merabah sebuah dapur yang mejanya telah usang, di situlah dulu Rena memasak makanan untuk Elvan. Kemudian menuju kamar mandi yang begitu sempit.
"Sayang begitu kuat kamu dulu menjalani kehidupan ini, maafkan aku sayang karena baru bisa menemukan kamu" batin Arsen lirih.
"Papa" teriak Elvan.
"Iya nak, ada apa ?"
"Ini tempat mandinya El cama Mama. Cempit ya Pa gak cama kaya lumah Papa"
Arsen berjongkok ia tersenyum kearah Elvan "Tapi di rumah ini El tumbuh dengan sehat, El harus bersyukur Allah masih memberikan tempat tinggal. Di luar sana banyak orang yang gak punya, tidur di jalanan"
"Tapi, El maunya lumah kaya Papa. Becal, ada banyak tamal nya"
Arsen mengacak-ngacak rambut Elvan dengan gemas, kehidupan yang ia jalani benar-benar harus di syukuri, setelah melihat rumah lama istrinya Arsen menyadari kalau selama ini hidupnya penuh dengan kemewahan.
Tak berapa lama Rena keluar dari kamar, wanita itu baru saja membersihkan kamarnya.
"Sayang aku mau lihat kamarnya boleh gak ?"
"Boleh lihat aja, udah aku bersihkan kok"
Arsen melangkah memasuki kamar, sangat sederhana.
"Ya Allah ternyata disini dulu istriku tidur" gumam Arsen menahan tangisnya.
Ia duduk di pinggir ranjang, satu yang Arsen rasakan yaitu keras, mungkin karena kasurnya yang bukan kasur busa seperti di rumahnya.
"Mas" panggil Rena yang menyusul sang suami.
"Iya sayang"
"Kasurnya keras ya"
Arsen tak menjawab, ia justru tersenyum kearah sang istri.
"Malam ini kita nginap disini ya" ucap Arsen.
"Ngapain ? pulang aja lah, lagian Mas gak akan betah tidur disini"
"Kata siapa ? kan belum coba"
"Gak usah di coba Mas, dari pada badan mas sakit semua"
Arsen kembali terkekeh, istrinya sudah memahami kehidupannya.
"Tapi aku tetap mau menginap disini ?" ucap Arsen keras kepala.
"Memangnya mau ngapain sih Mas mau menginap disini, mau tebar pesona lagi sama ibu-ibu tadi"
Arsen menarik hidung sang istri dengan gemas "kalau cemburu cantik nya kelihatan banget"
"Apa sih," Rena memalingkan wajahnya karena malu "Terus mas mau menginap disini kenapa ?"
"Mau nyoba kasurnya buat main kuda-kudaan sama kamu"
"Apaaaaaaa".
...-------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...