
Setelah acara resepsi selesai, Robert langsung membawa Jasmin kekamar, rasanya ia sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama dengan wanita cantik itu.
"Mas aku lelah sekali, bisakah malam pertamanya di tunda" ucap Jasmin
"Kalau di tunda bukan malam pertama lagi namanya, melainkan malam kedua, ketiga, dan seterusnya"
"Tapi mas...." Belum selesai Jasmin melanjutkan ucapannya, Robert langsung menyerang bibir ranum itu, membuat mata Jasmin membulat seketika, ia memukul dada sang suami saat merasakan pasokan oksigennya mulai habis.
"Kamu udah gila mas, kalau mau nyerang tu pakai aba-aba dulu" ucap Jasmin kesal "Udah ah aku gak mau melakukan malam pertama sama kamu, terlanjur kesal aku" sambungnya lagi.
Robert melongo mendengar ucapan sang istri, kalau Jasmin tidak mau melakukan malam pertama dengannya lalu dengan siapa Jasmin akan melakukan hal itu. Terus gunanya pernikahan ini untuk apa.
Ia menatap punggung sang istri yang memasuki kamar mandi, punggung seputih susu yang tak sengaja matanya lihat membuat Robert benar-benar gila.
"Kamu mau kemana yang ?" tanya Robert saat melihat sang istri hendak meninggalkan kamar usai berganti pakaian.
Jasmin menoleh sejenak "Tidur dikamar lain, kalau tidur disini bisa-bisa besok aku gak bisa jalan"
"Lah kok gitu yang ? gunanya kita menikah untuk apa kalau bukan melakukan malam pertama"
"Iya aku tau mas, tapi maksudku malam pertamanya di tunda saja."
"Ok-ok, kita tunda malam pertama, tapi kamu tidur disini malam ini"
Mendengar hal itu Jasmin langsung tersenyum, ia menyadari kalau dirinya berdosa karena menolak sang suami, namun Jasmin benar-benar lelah sekarang. Apalagi kakinya seperti mau patah karena kelamaan berdiri.
"Janji ya"
"Iya"
"Ok deh, aku akan tidur disini"
Jasmin kembali menuju ranjang, ia langsung membaringkan tubuhnya tak peduli walau Robert menatapnya terus.
Yang Jasmin inginkan adalah tidur dengan lelap tanpa ada gangguan, lagian besok siang ia juga akan melakukan perjalanan ke korea untuk bulan madu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu Rena tenga bersiap untuk keberangkatannya kekorea besok siang bersama pasangan yang baru saja menikah tadi.
Sedangkan Arsen mencari cara bagaimana menggagalkan rencana sang istri. Ia bukan tak ingin menuruti keinginan istrinya hanya saja Arsen takut terjadi apa-apa dengan kandungan Rena. Apalagi tadi Dian mengatakan kalau rentan membawa Rena yang sedang hamil besar.
"Coba minta tolong sama dokter Ratna , semoga dia bisa membantu". batin Arsen.
Dalam keadaan seperti ini ia tak mungkin menghubungi Dokter Ratna, karena Rena pasti akan mengetahui. Hingga akhirnya Arsen mengirimi dokter Ratna pesan berharap pesannya akan segera di balas.
[Assalamualaikum, selamat malam dok, maaf mengganggu waktunya, tapi saya mau minta tolong]
Pesan singkat itu baru saja Arsen kirimkan pada dokter Ratna, ia menunggu dengan perasaan deg-degkan.
"Mas ini mau dibawa gak ?" tanya Rena menunjukan dua kemeja pada sang suami.
"Bawa aja sayang" jawab Arsen
"Ok deh"
Arsen tersenyum saat melihat sang istri sangat bersemangat memasukan pakaian kedalam koper, ia menjadi tak tega jika besok batal berangkat.
Tak berapa lama ponsel yang sedang Arsen genggam bergetar, buru-buru Arsen mengecek ponselnya, senyumnya langsung mengembang saat melihat balasan dari dokter Ratna.
[Waalaikumsalam pak Arsen, mau minta tolong apa pak ?] / Dokter Ratna
[Istri saya ingin liburan ke korea, apakah aman jika dibawa kesana dok ? mengingat istri saya sedang hamil besar] / Arsen
[Sebaiknya jangan dulu pak, apalagi ibu Rena mengalami plasentra previa. Takutnya terjadi apa-apa dengan bu Rena dan juga bayi dalam kandungannya] / dokter Ratna
[Makanya itu dok, bisakah dokter membatalkan rencana istri saya, soalnya kalau saya yang bicara dia akan marah] /Arsen
[Baik pak akan saya bantu] /dokter Ratna
[Tapi tolong jangan kasih tau saya kalau saya yang meminta dokter] /Arsen
[Iya pak] /dokter Ratna.
"Maafkan mas ya sayang, mas melakukan ini untuk kebaikan kamu dan calon anak kita". batin Arsen sembari menatap sang istri
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya.
Sejak pagi tadi Rena terus menangis, karena ia terpaksa membatalkan keberangkatannya kekorea, Ia baru saja di hubungi oleh dokter Ratna kalau sudah waktunya memeriksakan kandungan.
Rena tak sedikitpun curiga kalau itu perbuatan sang suami, karena dokter Ratna juga tak membahas masalah perjalanan Rena kekorea.
"Udah dong sayang, kasihan kan dedeknya kalau kamu nangis terus" ucap Arsen
"Tapi aku gagal lagi ke koreanya mas, padahal semalam aku sudah memasukan pakaian ku ke koper"
"Mau bagaimana lagi kalau dokter tak mengizinkan, ini juga untuk kebaikan kamu dan calon anak kita kan, kamu gak mau kan terjadi apa-apa dengan mereka"
Rena menggeleng, tentu saja ia tak mau terjadi apa-apa dengan kedua anaknya, Mungkin memang belum waktunya untuknya menginjakkan kaki kekorea.
"Sebagai gantinya biar kamu gak sedih mas ajak jalan-jalan setelah pemeriksaan nanti"
"Gak pengen" jawab Rena malas.
"Terus pengennya apa ?"
"Aku mau mas menyuruh Robert dan Jasmin untuk jangan meng_upload foto saat mereka dikorea"
"Itu masalah gampang sayang.."
"Ya udah sana hubungi"
"Ok sayangku"
Untuk masalah itu tentu saja Arsen langsung menyetujui, bahkan ia bisa menggagalkan keberangkatan Robert dan Jasmin kalau memang Rena mau.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa usia kandungan Rena sudah menginjak usia 9 bulan, perutnya sangat besar mungkin karena ia mengalami kehamilan kembar.
Arsen dengan siaga menjaga sang istri, karena menurut dokter jadwal operasi caesar akan di laksanakan 4 hari lagi..
Namun Rena tetap merasa takut saat akan menghadapi persalinannya nanti, walau kata orang-orang dengan melahirkan menggunakan metode caesar tidak akan sakit, tapi tetap saja Rena takut.
"Kamu masih takut sayang ?" tanya Arsen
"Iya mas, bahkan setiap hari ketakutan ku semakin besar"
Arsen menatap sang ibu yang memang kini sedang bergabung bersama nya dan Rena.
"Bagaimana kalau nanti malam kita mengadakan pengajian nak, kebetulan kan malam ini malam jum'at" usul Dian
"Iya bu, aku setuju kok"
"Kalau begitu ibu akan mengundang ibu-ibu pengajian dulu, terus sekalian mesan makanan juga"
Arsen mengangguk patuh, apapun akan ia lakukan supaya sang istri tak merasa takut lagi. Ia paham apa yang di rasakan oleh Rena, bahkan bukan hanya Rena yang takut melainkan dirinya juga.
Dian pamit untuk mengundang ibu-ibu pengajian, sementara Arsen masih menemani sang istri.
"Mas.."..
"Iya sayang"
"Doakan aku ya mas supaya persalinanku nanti lancar"
"Tanpa kamu minta pun aku akan selalu mendoakan kamu sayang.."
Cup..
Arsen mencium kening sang istri dengan penuh kasih sayang...