Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 61



Akhirnya malam itu Arsen pulang dengan lesu, sang istri tetap tak membiarkan dirinya masuk barang sedikitpun.


Arsen tak pulang kerumahnya, melainkan kerumah Kakek Raymond.


"Katanya mau menginap di rumah Rena ?" Tanya kakek Raymond sembari menatap wajah Arsen dengan seksama.


"Dia tak mengizinkan kek" jawab Arsen lirih.


Kakek Raymond menepuk pundak Arsen dengan lembut, memberi kekuatan pada cucu kesayangannya itu.


"Biarkan Rena sendiri dulu, kamu juga harus mengerti bagaimana perasaannya, Rena pasti sangat terluka saat mendengar semua ini"


"Aku tau kek, tapi kenapa Rena tidak mau percaya pada ku, dulu dia berjanji akan selalu percaya pada ku"


"Sulit bagi Rena untuk percaya Sen. Apalagi dengan video yang Talia berikan padanya, mungkin jika kamu ada di posisi Rena pun akan melakukan hal yang sama"


Mata Arsen memerah, setetes air mata mulai membasahi pipinya. Kakek Raymond tidak pernah melihat cucunya seperti ini.


"Tolong bantu aku kek, bantu aku menjelaskan pada Rena kalau aku tidak salah, bukan aku yang menghamili Talia" kali ini Arsen berjongkok, memohon pada sang kakek agar membantunya. Sungguh ia tak kuat jika kehilangan sosok sang istri.


"Pasti !! Kakek akan membantumu. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah mengetahui siapa yang menghamili Talia"


Arsen mengangguk, benar apa yang dikatakan sang kakek kalau dirinya harus membawa pria yang menghamili Talia.


Tapi semua itu tak bukanlah hal yang mudah, apalagi selama ini Arsen tak pernah peduli tentang wanita itu.


"Sana istirahat, kakek juga mau istirahat" pinta kakek Raymond.


"Baik kek" balas Arsen "selamat malam" sambungnya lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam semakin larut, Akan tetapi sampai sekarang Rena tak kunjung menutup matanya. Pikirannya gelisa dan jiwanya tak tenang.


Mungkin ia sudah biasa tidur bersama sang suami, jadi sekarang semuanya terasa sepi. Di liriknya kesamping ada Elvan yang tidur dengan pulas.


"Maafkan mama ya nak" gumam Rena, ia mengelus kepala Elvan dengan lembut.


"Semoga apa yang mama lakukan adalah yang terbaik untuk kita berdua"


Cairan bening itu kembali menetes, entah sampai kapan semuanya akan begini, mungkin saat dirinya bisa mengikhlaskan Arsen. Tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama.


-------------


Pagi kembali datang, sinar matahari mulai memberi kehangatan pada setiap penduduk bumi. Saat ini Rena sedang berada di dapur, memasak makanan untuknya dan Elvan.


Beruntung tadi ada tukang sayuran yang lewat, sehingga Rena tidak usah jauh-jauh pergi kepasar.


Selesai memasak, Rena menyapu rumah. Juga membersihkan halaman depan yang banyak dedaunan kering.


"Pagi Ren" sapa bu Tanti ramah.


"Pagi bu"


"Mana suami kamu ? Belum bangun ya ?" Bu Tanti terlihat memanjangkan lehernya untuk mencari keberadaan Arsen.


"Dia tidak ada bu"


"Loh kenapa ?"


Rena tersenyum masam, tetangganya satu ini memang sedikit kepo apalagi dengan pria tampan.


"Tidak apa-apa bu, Mas Arsen ada kerjaan" jawab Rena berbohong, ia tak mungkin mengatakan masalah keluarganya pada bu Tanti.


"Oh. Ya udah deh kue nya aku bawa lagi, kirain ada suami kamu"


Rena hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bu Tanti. Ia pun kembali melanjutkan membersihkan halaman setelah bu Tanti pergi.


Kerjaanya terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Ada kakek Raymond dan juga Robert yang datang membuat Rena mengernyit heran tentang kedatangan dua laki-laki itu.


"Selamat pagi nona Rena" sapa Robert.


"Pagi" jawabnya pada Robert "pagi kek" lanjutnya pada kakek Raymond, kemudian mencium punggung tangan kakek Raymond dengan sopan.


"Ayo masuk" ajaknya pada kedua pria itu.


Ini kali pertama kakek Raymond menginjakan kaki kerumah Rena. Laki-laki paruh baya itu menatap sekitar, apalagi saat masuk kedalam rumah.


Satu kata yang ia pikirkan adalah sederhana. Namun rumah ini sangat nyaman di tempati, karena bersih dan tataannya yang sangat rapih.


"Mana Elvan nak ?" Tanya kakek Raymond basa-basi.


"El masih tidur kek, tadi habis menemani Rena sholat subuh dia ketiduran lagi"


"Sebentar aku bikinin teh dulu"


Baru saja Rena hendak melangkahkan kakinya menuju dapur, kakek Raymond langsung mencegahnya, membuat Rena kembali duduk di tempatnya semula.


"Kedatangan kami kesini untuk membahas hal penting nak" ucap kakek Raymond.


"Apa ini berhubungan dengan Mas Arsen kek ?"


"Iya Rena, kakek tau kamu terluka, tapi kakek mau nanya apa kamu percaya kalau anak yang d kandung Talia adalah anaknya Arsen ?"


Rena menarik napas panjang, ia sebenarnya sedikit ragu untuk percaya semua ini, tapi video itu berhasil mengalahkan semuanya.


"Entahlah kek Rena bingung"


"Kakek mengerti, untuk itu kakek menyuruhmu pergi dari rumah ini"


Rena terhenyak kaget, kenapa kakek Raymond mengusirnya ?


"Pergilah kedesa ini, Robert akan mengatarmu kesana" jelas kakek Raymond.


"Tapi kenapa kek ?" Tanya Rena bingung.


"Kita tak pernah tau apa yang di rencanakan oleh Talia. Makanya kakek menyuruhmu pergi kedesa ini, semua ini hanya sementara, nanti setelah masalah ini selesai Kakek akan menyuruh Arsen menjemput"


Rena masih tak paham dengan penjelasan kakek Raymond, ia terdiam mencerna semuanya.


"Mungkin nona bingung, tapi semua ini kami lakukan untuk kebaikan nona dan Elvan. Beri kami waktu 2 sampai 3 bulan, kami akan mengungkap kalau tuan Arsen tidak salah" sahut Robert kemudian.


"Lalu disana aku akan tinggal dimana ?"


"Kakek ada rumah disana, kakek yakin kamu akan betah, disana kakek memiliki perkebunan"


"Hemmm, baiklah kek kalau memang ini yang terbaik, aku akan kesana"


"Maafkan kakek ya Ren, kalau kakek memisahkan kamu dengan Arsen" .


Rena hanya menganggukan kepalanya, tanpa di pisahkan seperti ini mungkin ia dan Arsen tetap akan terpisah. Mungkin lebih baik begini ia pergi dari kehidupan Arsen.


"Bersiaplah nona, karena kita akan berangkan sekarang" pinta Robert.


"Se-karang?" Tanya Rena gugup.


"Iya nona, sebelum tuan Arsen mengetahui semuanya"


"Baiklah"


Rena berjalan dengan gontai menuju kamarnya, meninggalkan kakek Raymond dan Robert di ruang tamu.


"Pastikan mereka tiba dengan selamat, jangan sampai terjadi apa-apa dengannya"


"Baik Tuan"


Didalam kamar Rena meneteskan air matanya saat mengemasi barang-barangnya kembali,sekarang ia akan benar-benar berpisah dengan sang suami. Walau kata kakek Raymond itu hanya sementara.


"Ssmoga kamu selalu bahagia Mas, doaku akan selalu menyertaimu"


Setelah mengemasi barangnya, Rena membangunkan Elvan. Ia mengelus kepala Elvan dengan lembut.


"Sayang, ayo bangun nak !" bisiknya di telinga Elvan.


Tubuh kecil Elvan merespon, ia menggeliat lalu perlahan membuka matanyaa.


"Ada apa Ma ?"


"Ayo bangun, kita mau pergi"


"Apa kita pulang ke lumah Papa ?"


Rena tak menjawab, ia hanya tersenyum kearah putranya itu.


"El gak usah mandi ya nak, ganti pakaian saja"


"Baik Ma"


...-------...


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...