Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 86



Usai melakukan pemeriksaan USG, Rena kembali keruangannya. Ia lebih banyak diam sekarang sementara sang suami duduk di pinggir ranjang sembari menggenggam tangannya dengan lembut.


"Kamu jangan banyak pikirann sayang"


"Tapi aku ingin melahirkan secara normal mas".


"Kamu dengar sendirikan kata dokter kamu tidak bisa melahirkan secara normal, kita nurut aja sama dokter sayang, karena itu adalah yang terbaik"


Rena kembali terdiam, mungkin memang ia harus melupakan melahirkan secara normla, dan menerima kalau harus melahirkan secara Caesar. Asal kedua anak yang ia kandung dapat selamat dan baik-baik saja.


Pintu ruangan terbuka, ada Dian dan kakek Raymond yang baru saja tiba.


"Maaf ya ibu dan kakek baru bisa datang sekarang" ucap Dian


"Tidak apa-apa bu" jawab Arsen lalu berdiri dan memberikan kursi pada sang ibu.


"Bagaaimana keadaan Rena ?" tanya kakek Raymond.


"Rena kelelahan kek, dan dia mengalami Plasenta Previa sehingga menyebabkan pendarahan"


"Astaghfirullah" ucap kakek Raymond dan Dian secara serempak.


"Kamu yang sabar ya nak !"


"Iya bu"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mau ikut gak ?" tanya Robert pada sang kekasih.


"Kemana ?"


"Kerumah sakit, nona Rena masuk rumah sakit"


"Iya aku ikut" jawab Jasmin antusias. Ia tak mungkin melewatkan melihat keadaan Rena.


"Ya sudah ayo"


Sebelum meninggalkan meja kerjanya, Jasmin terlebih dahulu membereskan meja yang tadi berantakan, menyimpan beberapa berkas penting.


"Yuk" ajak Jasmin setelah memberekan meja kerjanya.


"Gandeng dong !"


"Malulah... Udah yuk jalan kek biasanya"


Robert mencebikkan bibirnya, ia sering kali ingin bersikap romantis tapi Jasmin selalu acuh padanya.


"Di ajak romantis selalu aja gak mau, dasar..." maki Robert dalam hati


Saat di perjalanan kerumah sakit, Jasmin meminta berhenti didepan toko kue, ia ingin membawa oleh-oleh untuk istri bosnya itu


"Kira-kira kue kesuksaan nona Rena apa ?" tanya Jasmin.


"Mana aku tau, kan aku bukan suaminya"


"Ya kan kamu dekat sama tuan Arsen, siapa tau dia pernah berbagi cerita tentang kesukaan nona Rena"


"Mana mungkin tuan Arsen akan melakukan hal itu, tak sengaja menatap nona Rena saja aku sudah di hajar"


"Terus beli kue apa ?"


"Apa saja lah, nona Rena sepertinya tak memilih makanan"


"Baiklah kalau gitu"


Jasmin meninggalkan Robert sebentar, menuju toko kue untuk membelikan Rena. Pilihan Jasmin tertuju pada kue bolu dengan taburan keju yang melimpah.


Setelah membeli kue keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit, hingga beberapa saat kemudian keduanya telah tiba di rumah sakit.


"Ruangannya dimana ?" tanya Jasmin.


"Udah ikut aja, aku tau kok dimana ruangannya"


Jasmin mengikuti langka kaki Robert, hingga tiba di sebuah ruangan dimana Rena di rawat.


"Selamat siang nona Rena" sapa Jasmin tersenyum ramah.


"Siang Jasmin"


"Bagaimana keadaan nona ? apa sudah lebih baik"


"Alhamdulillah Jasmin"


"Oh ya ini kue semoga nona suka"


"Masya Allah, terima kasih Jasmin udabh repot-repot"


"Sama-sama nona"


Jika Jasmin dan Rena sedang mengobrol dengan seru, Arsen dan Robert juga tak mau kalah. Kedua laki-laki yang sedang bucin itu juga sedang mengobrol hal seru.


"Kapan tanggal pernikahan kalian ?" tanya Arsen, pasalnya ia memang tak bisa menghadiri acara pertunangan Robert dan Jasmin waktu itu.


"Tanggal 25 bulan depan tuan"


"Tentu saja tuan, kami akan berbulan madu ke korea"


Mendengar hal itu Arsen langsung menyuruh Robert memelankan suaranya, jangan sampai Rena sampai tau kalau Robert dan Jasmin akan ke korea nanti. Pasalnya sampai sekarang Rena masih ingin pergi kenegara itu.


Akan tetapi karena rasa cemburu Arsen tak menuruti keinginan Rena. Hingga keduanya bulan madu di villa yang mana membuat Rena kesal.


"Jangan sampai istriku tau hal ini" ucap Arsen.


"Memangnya kenapa tuan"


"Kau tau kan kalau Rena sangat menginginkan pergi kekorea, dia ingin berfoto pada laki-laki yang suka joged itu"


Mendengar hal itu Robert menahan tawanya, ternyata Arsen masih saja cemburu, padahal Rena hanya ingin berfoto saja.


"Awas saja kalau kau sampai mengatakan hal ini pada Rena. Akan ku potong burungmu" ancam Arsen membuat Robert reflek menutup pangkal pahanya.


"Kalau di potong bagaimana aku akan melakukan malam pertama tuan"


"Iya itu urusanmu"..


"Kenapa ancaman tuan begitu menakutkan ?"


"Karena kalau tak menakutkan kau tidak akan takut bodoh"


Keduanya langsung terdiam saat melihat Jasmin berjalan mendekat.


"Ayo pulang" ajak Jasmin. "Nona Rena pasti mau istirahat dulu"


"Iya sana pulang, aku juga mau istirahat" usir Arsen kemudian.


"Mas jangan seperti itu" sahut Rena yang tak suka dengan kelakuan sang suami.


"Iya sayang maaf" balas Arsen membuat Robert terkekeh lucu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua hari sudah Rena di rawat, dan hari ini ia sudah di perbolehka pulang kerumah. Rasanya Rena sudah sangat bosan berada di ruangan bernuansa putih ini.


"Ingat ya bu, selalu berhati-hati karena ibu masih mengalami pendarahan" pesan dokter Ratna mengingatkan.


"Baik dok, saya akan selalu menjaga kandungan saya"


"Dan untuk pak Arsen di tahan dulu ya ! karena kasus ibu Rena tidak bisa melakukan hubungan suami istri dulu"


Arsen mengangguk, ia tak mempermasalahkan hal itu, yang terpenting baginya istri dan anaknya akan baik-baik saja.


Setelah barang-barang selesai diberesi Arsen dan Rena pulang kerumah. Rena juga sangat merindukan anaknya Elvan.


Setiba di rumah Rena langsung di sambut oleh putra kecilnya. Membuat Rena langsung tersenyum.


"Mama dak cakit lagi kan ?"


"Tidak nak, mama baik-baik saja sekarang"


"Dedeknya juga baik kan ma"


"Alhamdulillah.. Oh ya El gak nakal kan selama mama tinggal"


Elvan menggelengkan kepalanya berulang.


"Jagoan papa memang pintar, sini papa gendong"


Elvan langsung merentangkan kedua tangannya, sementara Arsen langsung menggendong putranya itu, ia ciumi kedua pipi Elvan dengan gemas.


Tiba-tiba seorang wanita berpakaian elegan dan terlihat sangat cantik keluar, menghampiri Rena dan Arsen.


"Tante mawar ?" gumam Arsen.


"Siapa dia mas ?"


"Dia mamanya Talia"


Mawar berjalan mendekati Arsen dan tanpa aba-aba wanita itu menampar wajah Arsen dengan keras, membuat Rena begitu terkejut.


"Kenapa ibu menampar suami saya ?" tanya Rena


"Diam kamu, atau kamu mau saya tampar juga"


"Jangan pernah sentuh istri saya !"


"Ciih.." Mawar mengeluarkan ludahnya.


"Ini balasan untuk kalian karena menyebabkan anak saya meninggal dunia" ucap Mawar dengan geram.


"Talia meninggal karena kecelakaan bukan karena saya dan Rena"


"Terserah apa katamu, yang jelas Talia tinggal bersama kalian, tapi dia meninggal.. Dan kamu Arsen kamu tega tak mengabari saya saat Talia meninggal dunia"


"Untuk hal itu tolong maafkan saya tante"


"Maka dari itu bayi Talia akan saya bawa keluar negeri.."