
Mendengar ancaman Arsen, membuat Talia bergidik ngeri. Ia paham betul dengan Arsen apapun ucapan laki-laki itu akan menjadi kenyataan.
Tapi mau bagaimana lagi, Talia terpaksa melakukan hal ini. Ia ingin anak di kandungannya lahir ada sosok Ayah, dan Arsen lah laki-laki yang pas untuk menjadi ayah anaknya. Di tambah Arsen masih ada ikatan darah dengan Willi.
"Robert ayo pergi, berlama-lama di sini bisa-bisa membuat aku membunuhnya" ucap Arsen dengan tugas dan lugas.
Gleeekkk.
Talia menelan ludanya berkali-kali, kata membunuh yang di ucapkan Arsen seperti sebuah ancaman yang inimematikan untuknya.
Talia menatap kepergian Arsen dan Robert. Setelah kedua laki-laki itu tak terlihat lagi, Talia menarik napas berat, telapak tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
"Maaf Sen, aku terpaksa melakukan ini. Anak ini butuh Ayahnya" gumam Talia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di perjalanan menuju kantor lagi Arsen terlihat menyandarkan kepalanya di jok mobil. Laki-laki seperti begitu frustasi akan sebuah masalah yang terjadi.
Sampai saat ini sang istri belum mengetahui kejadian sebenarnya, Arsen begitu takut Rena akan terluka lalu menangis karena ulahnya.
"Tuan, kalau anda mau pulang akan saya antar" ucap Robert.
"Tidak, kita balik kekantor saja. Masih banyak kerjaan disana"
Robert menurut, ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tak berapa lama ponsel Arsen berbunyi, buru-buru laki-laki itu melihat siapa yang menelpon. Senyumnya langsung mengembang saat nama Rena tertera disana.
"Halo, Assalamualaikum sayang" ucap Arsen setelah menggeser menu hijau di layar segi empat miliknya.
"Mas, aku mau izin". ucap Rena di seberang sana.
"Izin kemana ?"
"Aku sama El mau ke Mall, ada barang yang ingin aku beli, apa boleh Mas ?"
"Boleh sayang, minta antar sama sopir nanti Mas menyusul kesana"
"Baik Mas, kalau menyusul cari aku di toko pakaian ya !"
"Iya sayang, hati-hati berangkatnya. Kabari Mas kalau ada apa-apa"
"Heem. Ya sudah kalau gitu aku mau berangkat, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah panggilan telepon terputus, Arsen masih saja tersenyum.
"Setelah ini aku mau langsung menyusul istriku, kau handle semua pekerjaan ku" perintahnya pada Robert.
"Baik Tuan"
Benar saja saat tiba di kantor Arsen langsung kembali pergi, ia mengemudikan mobilnya sendiri, melaju dengan kecepatan tinggi supaya segera tiba di pusat pembelanjaan.
Ia ingin menemani Rena belanja, menjauhkan sang istri dari hal bahaya terutama pandangan laki-laki yang selalu kagum terhadap sang istri.
Beberapa saat kemudian Arsen telah tiba di pusat perbelanjaan yang Rena katakan. Saat keluar dari mobil ia melihat mobil yang mengantar sang istri baru saja kembali. Itu berarti Rena dan Elvan baru saja tiba.
Arsen mempercepat langkahnya, ia mencari keberadaan sang istri di tengah keramaian. Ternyata bukan hal yang mudah. Hingga akhirnya Arsen menghubungi sang istri untuk menanyakan posisi Rena dimana.
"Aku masih menuju toko pakaian di lantai 3 Mas". begitu kata Rena saat dirinya bertanya.
"Mas akan menyusul"
Di lantai 3 Arsen langsung menemukan sang istri, penampilan Rena hari itu begitu cantik. Ia memakain gamis berwarna hijau toska dan di padukan dengan hijab segi empat syar'i.
"Sayang..." panggil Arsen.
"Papa" teriak Elvan bahagia saat melihat kedatangan Arsen.
"Sini El gendong Papa saja, soalnya disini ramai. Kita ikutin Mama mau belanja apa"
"Nanti capek Mas, biar aja El jalan dulu. Nanti kalau dia lelah kita istirahat"
"Tidak mengapa sayang, ayo katanya mau belanja"
"Ya sudah ayo"
Mereka berjalan memasuki toko khusus menjual hijab, disana Rena memilih hijab yang memang dia belum punya.
"Mas bagusan mana, warna ini atau warna ini ?" tanya Rena meminta pendapat sang suami, ia memperlihatkan dua buah hijab yang kini di tangannya.
"Dua-duanya bagus sayang, ambil aja" jawab Arsen.
"Kebanyakan kalau dua Mas, ayo bantuin pilih"
"Ya sudah pilih yang warna ini saja" Arsen menunjuk hijab ditangan kanan Rena.
"Tapi kok cantikan yang ini ya Mas"
Arsen terkekeh, ternyata begini menemani sang istri belanja, ada lucunya dan ada juga kesalnya. Apalagi saat di suruh memilih tentu saja Arsen tak punya pengalaman akan hal itu
"Ambil dua-duaanya aja sayang, dari pada bingung" kembali Arsen membuka suara saat sang istri masih terlihat kebingungan soal memilih warna.
"Kan aku udah bilang kebanyakan Mas" jawab Ren lagi, tak berapa lama Rena kembali meletakkan kedua hijab itu di raknya lalu memilih pergi dimana membuat Arsen kebingungan.
"Yuk pergi" ajaknya pada sang suami.
"Kok hijabnya gak di ambil ?"
"Enggak jadi, habis kamu gak bantuin aku milih warna"
"Astaga...." Arsen menepuk jidadnya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktu berlalu begtiu cepat, rumah tangga Arsen dan Rena semakin romantis. Setiap hari ada saja tingka Arsen yang begitu menyebalkan. Akan tetapi selalu bisa membuat Rena bahagia dan merasa di cintai.
Setelah sarapan bersama Arsen langsung berpamitan pada sang istri. Seperti biasa sebelum pergi Arsen akan mencium kening, kedua pipi dan terakhir bibir Rena. Sementara Rena hanya membalas mencium punggung tangan sang suami.
"Papa, aku mau juga di cium cepelti mama" ucap Elvan, anak tiri dari Arsen itu sekarang tak secadal dulu kalau bicara.
"Sini sayang Papa cium"
Cup..
Arsen mengecup kedua pipi Elvan dengan gemas.
"Jagain Mama ya, Papa mau kerja dulu, cari uang yang banyak buat El"
"Ciap Papa" balas Elvan sembari memberi hormat.
"Pintar" Arsen mengacak-acak rambut Elvan.
"Dah Papa" Elvan melambaikan tangannya pada Arsen yang melangkah kearah mobil.
"Dah sayang" balas Arsen.
Mobil Arsen melaju meninggalkan perkarangan rumah. Barulah Rena dan Elvan kembali masuk kedalam. Namun sebelum berhasil masuk langkah Rena langsung terhenti, saat sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan rumahnya.
Rena terkejut melihat kedatangan Talia, untuk apa wanita itu datang kerumahnya. Pikir Rena.
"Mana Arsen ?" tanya Talia langsung.
"Mas Arsen kerja, ada apa ya ?"
"Dia harus bertanggung jawab atas kehamilanku, karena Arsen aku sekarang mengandung anaknya" Talia melemparkan sebuah taspack kehadapan Rena, membuat Rena gelagapan menangkap benda itu.
Tangan Rena bergetar saat mengambil benda persegi panjang itu.
"Tidak mungkin ini ulah Mas Arsen, kau bohong kan ? aku tak percaya padamu"
Talia tersenyum "Mungkin kau akan percaya setelah melihat video ini" balas Talia, ia mengeluarkan ponselnya setelah membuka video"
Rena menonton video tersebut, matanya langsung membulat saat menonton video itu. Air matanya langsung menetes dengan deras.
Bagaimana mungkin disana Rena melihat dengan jelas sebuah video adegan dewasa, dimana sang suami sedang bermain diatas tubuh Talia.
"Ya Allah, kamu mengkhianati aku Mas" gumam Rena dengan sua