
Dengan langkah yang cepat Rena membawa Elvan kerumah bidan yang letaknya tak jauh dari rumah yang ia tempati.
...BIDAN KARUNIA...
...BUKA PRAKTEK \= PAGI JAM 07:00-09:00 WIB...
... \= SIANG JAM 14:00-20:00 WIB...
Begitu yang tertulis pada plang di depan rumah itu, Rena mendesah karena jam segini bidan itu belum buka. Ia kembali melirik Elvan yang sampai sekarang masih memejamkan matanya.
"Sabar ya Sayang, kita kerumah sakit aja kalau gitu" ucapnya dengan pelan.
Namun sebelum beranjak pergi seseorang memanggil, membuat Rena menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Ada apa Bu ?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru keluar dari rumah bidan tersebut.
"Saya mau berobat Bu, tapi bu bidannya belum buka" jelas Rena kemudian.
"Yang sakit anaknya ?" Wanita paruh baya itu kembali bertanya.
Rena mengangguk, membuat wanita itu membukakan pintu pagar dengan lebar.
"Ayo masuk, Ibu nya sudah bangun kok" ajaknya kemudian.
Rena begitu senang mendengarnya, ia langsung mengikuti langkah wanita paruh baya itu untuk masuk kedalam rumah bidan tersebut.
Saat berada di ruangan bidan, Rena di sambut dengan ramah.
"Kenapa anak nya Bu ?" tanya Bidan Karunia,
"Gak tau bu Bidan, tiba-tiba langsung panas begini" jelas Rena.
"Ya sudah ayo di tidurkan dulu anaknya, biar saya periksa"
Rena menurut, ia menidurkan Elvan di atas brankar yang telah di sediakan. Namun ternyata Elvan berontak dan tak mau lepas dari Rena.
"Ganteng tiduran dulu ya biar bu Bidan periksa" ucap Bidan Karunia dengan lembut.
"Tidak mau Ma, El takut"
"Loh kok takut Nak, katanya El anak pintar, Bu bidannya cuman bentar kok" Rena mengelus kepala Elvan dengan lembut, membuat Elvan akhirnya luluh dan mau di periksa oleh bidan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sementara itu Arsen baru saja selesai bersiap, ia sudah rapih dengan setelan jas kantornya. Tanpa sedikitpun terpikir bagaimana keadaan Rena dan Elvan.
Saat kakinya hendak melangkah mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu. Arsen menunduk untuk melihat apa yang telah ia injak. Ternyata itu adalah kartu debit yang tadi ia lemparkan kearah Rena akan tetapi tak Rena ambil.
"Ciih, sombong sekali dia sampai tak mau mengambil kartu ini" gumam Arsen sembari mengambil kartu tersebut.
"Lihat saja nanti, dia pasti akan meminta uang padaku untuk biaya rumah sakit anaknya"
"Dia pikir tanpa uang bisa mengobati anaknya... Rena-Rena"
Arsen terus melontarkan kata-katanya, tak ada sedikitpun rasa bersalahnya karena tak mengantar Rena dan Elvan kerumah sakit.
Arsen kembali memasukan kartu tersebut kedalam dompetnya, lalu melangkahkan kakinya keluar kamar tak lupa membawa tas kerjanya.
Saat di lantai bawa, Marni mendekat.
"Tuan, apa Tuan mau menyusul Nyonya ?" tanya Marni sembari meletakkan segelas kopi kehadapan Arsen.
"Saya sibuk, banyak kerjaan" jawab Arsen dingin.
"Oh kirain Tuan mau menyusul Nyonya, soalnya tadi saya lihat Nyonya begitu khawatir dengan kondisi anaknya"
Arsen mendongak, ia menatap Marni tanpa ekspresi membuat Marni sedikit takut denga tatapan Arsen.
"Saya permisi dulu tuan" ucap Marni dan langsung kembali ke dapur.
Arsen hanya diam saja, ia tak menghabiskan kopinya dan langsung berlalu pergi dari sana.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Anak saya sakit apa Bu ?" tanya Rena setelah Bidan Karunia selesai memeriksa keadaan Elvan.
"Dia hanya demam biasa bu, ini saya resepkan obat penurun panas, tapi kalau dalam 3 hari belum ada perubahan di bawa kesini lagi" jelas Bidan Karunia sembari mengambil obat untuk Elvan.
Rena menarik nafas penuh kelegaan, ia bersyukur kalau Elvan hanya demam biasa, walau tadi ia begitu panik karena tubuh Elvan begitu panas.
Setelah selesai membayar obat Elvan dan pemeriksaan, Rena langsung pamit pulang. Ia kembali menggendong Elvan dengan berjalan pelan menuju rumah.
Saat di perjalanan pulang, mobil Arsen lewat. Akan tetapi tak berhenti seperti yang Rena harapkan.
"Astaghfirullah. Sadar Ren untuk apa kamu berharap kalau Mas Arsen akan menanyakan kondisi El, dia saja bahkan tak peduli" gumam Rena dengan pelan.
Sesampai di rumah Marni dan Leni langsung menyambut kedatangan Rena.
"Bagaimana Nyonya, anaknya sakit apa ?" tanya Marni antusias.
"Alhamdulillah El tidak apa-apa Bu, dia hanya demam biasa"
"Syukurlah kalau gitu, kita udah panik dari tadi takut Den Elvan kenapa-napa" Sahut Leni kemudian.
Rena tersenyum setidaknya masih ada orang lain yang memperhatikan Elvan. Walau itu bukan Arsen sebagai Ayah sambungnya.
"Kalau gitu Nyonya istirahat lagi aja sama Den Arsen, kalau mau makan tinggal bilang sama kita"
"Terima kasih sebelumnya Bu, kalau begitu saya mau bawa El kekamar dulu"
"Silahkan Nyonya" jawab Marni dan Leni serempak.
Rena pergi, ia menuju kamarnya bukan kamar Arsen. Rena tak ingin Elvan kembali sakit akibat suhu ruangan yang terlalu dingin.
"El tiduran dulu ya Nak, Mama mau kekamar mandi" ucap Rena dengan lembut.
Elvan mengangguk lemah.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di dalam mobil Arsen menatap sekeliling, saat berhenti tepat di lampu merah.
"Dia gak pergi kerumah sakit ternyata"
"Pantesan dia gak mau menerima kartu yang ku berikan"
"Ciih, apa-apaan sih aku ini, kenapa mikirin dia, terserah dia mau bawa anaknya kemana, kan bukan urusan ku"
Dennnn--Dennnnn
.
Suara klakson mobil dari belakang membuat Arsen menghentikan gerutuannya, ia langsung menjalankan mobilnya kembali karena merasa kesal.
"Gak sabaran" ucap Arsen kesal, bahkan ia sampai membalas membunyikan klakson mobilnya dengan kencang dan berulang.
Tak cukup lama Arsen tiba di kantornya, ia langsung di sambut oleh Robert yang sedari tadi sudah menunggu. Karena semenjak tinggal bersama Rena. Arsen tak pernah memakai sopir lagi.
"Selamat pagi Tuan" ucap Robert.
"Hmmmmm" balas Arsen.
Kedua pria itu berjalan dengan tegap dan angkuh memasuki perusahaan megah itu. Para karyawan yang berpapasan dengan mereka langsung membungkukan badanya sebagai tanda hormat.
Saat pintu ruangan di buka oleh Robert keduanya langsung terkejut saat mendapati seorang perempuan yang begitu Arsen kenal.
"Hai Arsen" sapa Talia teman masa kecil Arsen.
Arsen menatap Talia tanpa ekspresi "Kapan kau berada disini ?".tanyanya dengan nada dingin.
"Dari tadi, aku sengaja tak memberi tahumu supaya kau terkejut" Talia mendekat kemudian bergelayut manja di lengan Arsen "Kau terkejyut kan Sen ?" tanyanya kemudian.
"Sangat terkejut, saking terkejutnya aku sampai ingin muntah" jelas Arsen membuat Talia memanyunkan bibirnya.
Sementara Robert langsung menahan tawanya mendengar ucapan Arsen.
"Heh, diam kau jangan sampai tertawa !" hardik Talia pada Robert.
"Lepaskan tanganmu Talia, atau mau aku hempaskan" pinta Arsen.
-----
.
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...