
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam. Rena tiba di sebuah desa. Robert menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah minimalis namun begitu cantik.
Mata Rena menyapu sekitar, pemandangannya bagus sekali. Tumbuhan berwarna hijau begitu subur.
"Masya Allah" gumam Rena, ia merentangkan kedua tanganya, menghirup udara di sekitar.
"Ayo nona kita masuk kedalam" ajak Robert membuyarkan kesenangan Rena.
Rena membuka matanya, ia menggandeng tangan Elvan untuk memasuki rumah tersebut, tidak ada pagar pembatas seperti rumah mewah pada umumnya. Di samping kiri dan kanan terdapat aneka sayuran yang tumbuh dengan subur.
Seorang wanita paruh baya membukakan pintu, ia menyambut Rena dengan senyum yang ramah.
"Ini Bi Surti Nona, dia yang akan menemani anda tinggal disini" jelas Robert memperkenalkan wanita paruh baya itu.
"Assalamualaikum bi, saya Rena dan ini anak saya Elvan"
"Iya nyonya, semoga kalian betah tinggal disini"
"Aamiin"
"Ayo masuk" ajak Bi Surti kemudian.
Sama dengan penampakan luarnya yang sejuk, rumah bagian dalamnya juga tak kalah indah.
"Rumah ini di bangun sendiri oleh tuan Raymond" jelas Robert sebelum Rena mengajukan pertanyaan.
"Pantas bagus banget, aku suka sama desain rumahnya"
"Syukurlah kalau anda menyukainya" balas Robert lagi "Kamar anda dan Elvan ada di ujung sana, dan sudah di bersihkan oleh Bi Surti" sambungnya lagi.
"Terima kasih Robert"
"Sama-sama nona, ini sudah menjadi tugas saya menjaga keluarga tuan Arsen"
Rena salut terhadap hasil kerja keras Robert, selama ini ia tak pernah mendengar laki-laki itu mengeluh walau Arsen memberinya pekerjaan yang banyak. Bahkan Rena bertanya-tanya terbuat dari apa fisik laki-laki itu.
"Kalau begitu saya mau pamit dulu nona, saya tidak bisa berlama-lama disini"
"Iya Robert, tolong jaga mas Arsen ya ! kalau memang bukan dia yang menghamili mbak Talia semoga masalah ini cepat selesai"
"Aamiin, saya yakin bukan tuan Arsen pelakunya"..
Rena mengantar kepergian Robert, wanita itu menatap dengan wajah yang lesu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu disebuah kafe ternama ada kakek Raymond sedang berbicara dengan seseorang, tampak keduanya sedang berbicara serius.
"Ada apa tuan ingin bertemu dengan saya ?" tanya Satria, seseorang yang selalu menjadi andalan kakek Raymond.
"Aku ada tugas untukmu" balas kakek Raymond.
"Apa itu tuan, akan saya kerjakan sekarang"
Itu yang kakek Raymond suka, Satria tak pernah menolak apapun tugas yang ia perintahkan. Dan yang pasti apa yang di kerjakan oleh Satria selalu beres.
Kakek Raymond membuka ponselnya, lalu memutar sebuah rekaman video dimana menampakan sang cucu sedang di kroyok.
"Apa kamu mengenal salah satu di antara mereka" tanya kakek Raymond.
Satria mengambil ponselnya, ia mengerutkan dahi "ada apa dengan mereka tuan ? apa mereka mengganggu keluarga tuan ?"
"Betul, orang yang sedang mereka pukuli adalah cucuku"
"Brengsek" terlihat Satria menggepalkan tangannya.
"Kenapa apa kamu mengenal mereka ?"
"Iya aku mengenal mereka, dan aku tau dimana mereka sekarang"
"Bagus, kau bisa kan bawa dia ke hadapan saya ataupun Arsen ?"
"Bisa tuan"
Sedikit kelegaan di hati kakek Raymond, setidaknya ia akan segera mengetahui siapa yang mengeroyok Arsen. Kakek Raymond sudah yakin kalau mereka adalah orang-orang suruhan.
"Aku tunggu info secepatnya" kakek Raymond berdiri dari duduknya, kemudian mengeluarkan sebuah amplop yang isinya cukup tebal. Tak perlu di tanya lagi apa isinya yang pasti adalah uang.
"Ini sebagai bentuk terima kasih ku"
"Tidak perlu tuan, saya ikhlas membantu"
"Ambil saja, kau tau kan kalau aku tak suka di tolak"
Satria paham betul bagaimana kakek Raymond, ia pun segera mengambil amplop itu dan memasukannya ke saku jaket yang ia kenakan.
"Saya duluan, kabari saya secepatnya"
"Baik tuan, hati-hati"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kamu jahat sayang, kenapa kamu pergi" gumam Arsen...
Tidak berapa lama terdengar suara ponselnya berbunyi, Arsen pun mengecek siapa yang menghubunginya. Robert sang Asisten yang sedang melakukan panggilan suara padanya.
"Ada apa ?" tanya Arsen dengan nada dingin.
"Bisakah kita bertemu tuan ? ada yang ingin saya bahas"
"Dimana ? dan bukankah kau sedang ada kerjaan ?"
"Sudah beres tuan, di kantor saja"
"Baik saya akan kesana sekarang"
Setelah panggilan terputus Arsen berdiri dari duduknya, namun ia terkejut saat kedua tangan melingkar di perutnya.
"Kamu mau kemana lagi sayang ? tidak bisakah kamu menemani aku ? anak kita rindu padamu" suara manja Talia membuat Arsen rasanya ingin muntah
"Lepaskan tangamu Talia"
"Tidak mau, kalau aku lepaskan kamu akan pergi"
"Talia" Arsen menggeram, ia ingin melepaskan tangan itu dengan paksa, tapi Arsen takut Talia terjatuh dan membahayakan anak di kandungannya.
Walaupun Arsen yakin itu bukan anaknya, tapi ia tak tega jika harus menyingkirkan anak yang tak berdosa itu.
"Jangan buat aku marah Talia, tolong lepaskan !"
"Tidak mau, aku masih kangen sama kamu sayang" Talia mengelus perut rata Arsen, jari jemarinya seolah memberi rangsangan, hingga dengan sengaja Talia mere mas apa yang ada di balik celana Arsen.
"Brengsek" umpat Arsen kemudian, kali ini ia tak bisa menahan amarahnya lagi, ia melepaskan tangan itu dengan paksa.
"Kenapa sayang ? bukankah malam itu kita sama-sama menikmati"
"Hentikan omong kosong mu Talia, aku tak pernah menyentuh wanita lain selain istriku"
"Tapi malam itu kamu melakukannya Arsen, buktinya aku mengandung anakmu"
"Ciiiih" Arsen berdecih menatap jijik kearah Talia "Itu bukan anakku wanita murahan"
Setelah mengatakan itu Arsen meninggalkan Talia sendiri.
"Iiiihhh. Gagal terus" ucap Talia yang menatap kepergian Arsen.
"Aku harus mencari cara lain supaya Arsen percaya kalau ini anaknya"
Talia berpikir dengan keras, hingga senyuman maut terpancar di wajahnya.
"Obat perangsang" gumam Talia "Baiklah kalau itu mau kamu Arsen, nanti malam kita akan bermain dengan sesungguhnya"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bibi mau kemana ?" tanya Rena saat melihat Bi Surti hendak keluar.
"Saya mau melihat perkebunan nyonya, kalau anda mau makan saya sudah memasak"
"Bolehkan aku ikut bi, aku bosan di rumah"
"Boleh nyonya"
Sebelum pergi Rena mengajak Elvan, ia tak mungkin meninggalkan Elvan sendiri di rumah itu.
Bi Surti mengajak Rena berkeliling, ada banyak aneka sayuran disana.
"Mau kemana Bu ?" tanya seorang wanita.
"Mau keliling Dian, kamu sendiri mau kemana ?"
"Biasa, mau ambil pupuk buat kebun"
Mata wanita yang terlihat masih muda dari bi Surti itu tertuju pada Rena. Membuat Rena tersenyum ramah.
"Siapa ini Bu ? saya baru lihat"
"Ini istri majikan saya Dian, namanya Rena dan itu anaknya Elvan"
"Kamu cantik sekali" entah kenapa Dian langsung memeluk tubuh Rena dengan kuat, membuat Rena kaget.
...-------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...