
Dalam perjalanan pulang tiba-tiba Rena menginginkan sesuatu. Ia baru saja melihat sebuah postingan ikan nila di siram sambal nanas. Membuat Rena menelan ludahnya berkali-kali.
"Mas"
"Hmmmm"
"Aku pengen sesuatu" ucap Rena.
"Apa itu sayang ? coba katakan !"
"Aku ingin ikan nila di siram sambal nanas, tapi...." Rena tampak ragu mengatakannya.
"Tapi apa sayang ?"
"Aku maunya mas yang masakin"
"Hah...." Arsen langsung melongo seketika, bagaimana mungkin ia bisa memasak makanan yang di inginkan sang istri. Bahkan cara memasak nasi saja ia tidak bisa.
"Sayang, bukannya aku tidak mau. Tapi aku gak bisa masak" jawab Arsen dengan jujur.
Rena cemberut, ia juga tidak tau kenapa begitu menginginkan makanan tersebut, tapi yang masak harus sang suami.
Melihat sang istri terdiam, Arsen langsung sadar kalau istrinya itu marah dengannya. Ia meraih tangan Rena lalu menggenggamnya dengan erat.
"Maafin aku ya, aku memang bukan suami yang siaga buat kamu, harusnya kan aku bisa menuruti apa yang kamu mau"
Rena menoleh lalu menatap sang suami dengan intens "Tidak apa-apa mas, aku akan menyuruh bi Marni membuatnya"
Setelah tiba di rumah Rena langsung menemui Marni dan langsung mengutarakan keinginannya. Tentu saja Marni langsung menyetujui dan akan menghidangkan makanan tersebut 30 menit lagi.
Rena menunggu di meja makan, rasanya ia sudah tak sabar untuk mencicipi makanan tersebut, pasti akan sangat lezat apalagi makan dengan nasi hangat.
"Kamu udah pulang nak" tanya Dian yang baru datang.
"Iya bu.. Oh ya mana El ?"
"Tadi di ajak sama Ayah sebentar"
Rena mengangguk paham, kakek Raymond memang sering sekali membawa Elvan keluar, katanya itu sangat menyenangkan. Padahal menurut Rena membawa Elvan mala merepotkan apalagi sekarang Elvan selalu meminta yang aneh-aneh.
"Arsen mana sayang ?" tanya Dian lagi.
"Kakamar sebentar bu, nanti mau ke kantor lagi katanya"
"Oh" Dian memilih duduk di hadapan Rena. "Kamu nungguin apa nak ?"
"Lagi nungguin makanan Bu, Rena lagi kepengan makan ikan nila goreng, di siram sambal nanas"
"Tapi jangan kebanyakan ya makan nanasnya, kan gak baik buat kandungan kamu"
"Iya bu, cuman pengen aja"..
Tak berapa lama Marni sudah selesai memasak makanan yang di inginkan Rena. Wanita itu menghidangkan seekor ikan nila berukuran besar dengan sambal nanas di atasnya. Wangi harum dari buah nanasnya begitu mengguga selera membuat Dian juga ikut menelan ludahnya...
"Ini nasi nya nyonya" Leni membawakan nasi hangat sesuai yang Rena inginkan.
"Saya juga mau bi" sahut Dian kemudian "Gak papakan nak ibu minta sedikit" tanyanya pada sang menantu.
"Iya gak papa lah bu, ini juga ikan nya besar sekali. Mana mungkin habis sama Rena"
Mendengar hal itu Dian langsung tersenyum, kedua wanita itu makan dengan lahap tanpa memperdulikan Arsen yang dari tadi mengamati dari atas tangga. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali melihat keseruan antara ibu dan istrinya itu.
Dalam hidup Arsen tak pernah ia membayangkan kalau akan berkumpul lagi dengan sang ibu. Dulu ia berpikir ibunya telah tiada karena hilang bagaikan di telan bumi. Dan lagi pula kebencian Arsen membuat dirinya melupakan wanita yang telah melahirkan dirinya.
"Wah enak banget kayanya. Wanginya sampai kecium dari kamar" canda Arsen mendekati sang istri.
"Mas mau ?" tawar Rena.
"Boleh, tuh yang dari tangan kamu suapin aja ke aku"
Rena langsung menyuapi sang suami "Gimana enak gak mas ?"
"Asem sayang" balas Arsen.
"Tapi enak kan mas"..
"Enak sih enak, tapi asemnya itu. Kamu juga jangan banyak-banyak makan nanas nya"
Dian terkekeh pelan, mungkin ia ketularan mengidam. Makanya ia hampir menghabiskan sambal nanas tersebut.
"Mas udah mau berangkat lagi"
"Iya, gak papakan aku tinggal ?"
"Enggak kok mas, kan ada ibu sekarang"
"Ya sudah mas berangkat ya, kamu jaga diri baik-baik di rumah"
Sebelum pergi Arsen mencium kening istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tujuan Arsen saat ini bukanlah kekanto melainkan kesebuah pemakaman umum dimana makam sang Ayah ada disana.
Sebelum memasuki area pemakaman, Arsen memberikan uang kepada petugas yang selalu membersihkan makam sang Ayah.
"Terima kasih mas Arsen" ucap pria paruh baya itu.
"Sama-sama pak, semoga sehat selalu agar bisa menjaga dan merawat makam Ayahku"
Pria itu hanya menjawab dengan anggukan, tak berapa lama Arsen meninggalkannya.
Di sebuah makam bertuliskan nama sang Ayah. Arsen duduk berjongkok. Ia melepaskan kaca mata hitamnya. Jari jemarinya mengelus batu nisan itu.
"Ayah... Bolehkan aku membencimu sekarang ? karena Ayah aku sampai membenci wanita yang telah melahirkan diriku. Aku membenci ibuku sendiri dan ini semua karena cerita bohong Ayah"
Arsen menundukan kepalanya, jika saja sang Ayah masih hidup mungkin ia sudah menghajar pria itu. Ia benar-benar merasa bersalah karena membenci orang yang salah.
"Harusnya Ayah yang pantas di benci bukan ibu"
"Ayah kejam, Ayah tukang selingkuh"
"Lalu Ayah malah melampiaskan semuanya ke ibu"
Air mata menetes membasahi pipi Arsen. Laki-laki itu terlihat rapuh sekarang. Bertahun-tahun ia menyimpan kebencian pada orang yang salah.
Puas marah-marah Arsen langsung meninggalkan makam sang Ayah. Tak ada acara membaca yasin seperti yang selalu ia lakukan selama ini.
Arsen memasuki mobilnya, ia menyusut air mata yang membasahi pipinya.
"Ternyata aku lemah juga, sampai menangis seperti ini" gumam Arsen.
Ia kembali memacu mobilnya, kali ini tujuannya adalah kantor. Ia sudah selesai mengunjungi makam sang Ayah.
Setiba di kantor ia langsung menuju ruangan. Lalu meminta jadwal selanjutnya pada Jasmin.
"Ada pertemuan dengan investor satu jam lagi tuan" jelas Jasmin.
"Berkasnya sudah siap ?"
"Sudah tuan"
"Bagus, keluarlah ! nanti panggil aku kalau sudah waktunya"
Jasmin mengangguk, kali ini ia tak menggoda Arsen lagi menggunakan pakaian seksinya. Bahkan Jasmin sudah berpakain sopan walau masih terbilang ketat.
Jasmin keluar dari ruangan Arsen, namun saat di ambang pintu ia bertabrakan dengan Robert, membuat Jasmin kehilangan keseimbangannya, beruntung Robert masih bisa menahan tubuh wanita itu.
"Hei lepaskan aku" ucap Jasmin menatap Robert tak suka.
"Kau ini bukannya berterima kasih, mala marah-marah. Dasar wanita tak tau diri"
"Apa katamu tadi ? wanita tak tau diri ?..." Jasmin tersulut emosi "Dasar pria kulkas"
Robert pun menatap tajam kearah Jasmin. Sementara Arsen mendadak pusing karena mendengar perdebatan kedua bawahannya itu.
"Hei kalian berdua, kalau mau bertengkar jangan disini" bentak Arsen.
"Lalu dimana tempat yang bagus tuan ?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Robert dan Jasmin secara bersamaan.
"Kalian mau tau ?" tanya Arsen sembari memijit pangkal hidungnya, tentu saja langsung di angguki oleh Robert dan Jasmin "Di hotel" sambung Arsen lagi.