Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 24



Saat sarapan pagi, tak biasanya Arsen bergabung bersama Rena dan juga Elvan. Karena selama ini laki-laki itu tak pernah mau sarapan bersama, bahkan melirik masakan Rena saja ia enggan.


Namun pagi ini Arsen makan dengan lahap, membuat Rena keheranan dengan sikap suaminya sekarang.


"Kenapa dengan Mas Arsen ya ? tak biasanya dia mau sarapan bersama dengan ku dan Elvan". batin Rena.


Selesai sarapan Arsen beranjak, namun sebelum meninggalkan meja makan ia mendekati Elvan.


"Papa kerja dulu ya nak!"


What ...???.


Rena tak salah dengar kan apa yang barusan Arsen katakan... 'Papa' bukankah laki-laki itu sama sekali tak menyuakai jika Elvan memanggilnya Papa.


"Iya Pa" jawab Elvan dengan riang.


Arsen melirik kearah Rena, kemudian menjulurkan tangannya membuat Rena bingung.


"Ada apa Mas ? apa tangannya kotor ?" tanya Rena.


"Suamimu ini mau berangkat bekerja, sebagai istri yang baik harusnya kau mencium tanganku" balas Arsen.


Mendengar hal itu Rena kembali terdiam, ada apa dengan suaminya itu ? apa saat mandi tadi kepala Arsen terkena sesuatu ??... Ah entahlah Rena tak ingin bertanya ia bergegas menyambut tangan sang suami lalu menempelkan bibirnya disana.


"Pintar" ucap Arsen seolah Rena adalah seorang anak kecil.


"Aku berangkat ya ! kau baik-baik di rumah" sambung Arsen lagi.


"Iya Mas" jawab Rena gugup, entahlah ia merasa begitu asing dengan sikap Arsen sekarang, mungkin karena ia sudah terbiasa dengan sikap Arsen yang dingin dan menyebalkan.


Arsen meninggalkan meja makan, mata Rena masih menatap kearah sang suami.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


*Praaangggg..


Prangggggg


Pranggggg*.


Suara lemparan kaca dari seseorang memecahkan keheningan di pagi itu, entah sudah berapa botol yang ia lempar, tapi dirinya tak peduli. Kemarahan dan kekecewaannya bertakhta menjadi satu.


"Hentikan paman !!" teriak Talia menggema.


"Diamlah ! aku sedang tak butuh omongan apa-apa"


"Talia tau kalau paman marah karena semalam, tapi gak ada begini caranya paman, kita masih punya 1000 cara untuk menghancurkan Arsen"


Lemparan terakhir kembali terdengar, Talia dengan cepat memundurkan kakinya, karena kalau tidak otomatis pecahan botol itu akan melukai kakinya.


"Cara apa yang akan kau lakukan ? aku tidak akan bisa hidup tenang kalau tak melihat Arsen hancur"


"Makanya paman tenang dulu, biar kita bisa mencari cara. Kalau Paman marah-marah kita gak akan menemukan solusi apapun"


Paman Willi merebahkan tubuhnya di sofa, melihat laki-laki itu sudah sedikit tenang Talia mendekat, ia duduk di samping paman Willi.


"Aku yang akan menghancurkan Arsen paman, aku yang akan membalaskan semua kekecewaan paman"


Sontak saja paman Willi menoleh dan menatap kearah Talia "Rencana apa yang ada di otakmu ?"


Senyum misterius Talia tampakkan "Aku akan mendekati Arsen, dan mencari tau kelemahan Arsen"


"Kau kira mudah mendekati Arsen, kau lupa ya bagaimana cara Arsen menatapmu" balas Paman Willi yang mengingat saat Talia mendekati Arsen.


"Makanya usaha paman, kalau cuman sekali ya gak akan berhasil"


"Terserah kau saja" Paman Willi bangkit hendak melangkahkan kakinya kekamar. "Kau bereskan semua ini, saya mau tidur"


Talia mencebikkan bibirnya "Memangnya paman kira aku tak ngantuk, dari semalam aku menemami paman marah-marah, dan sekarang paman seenaknya saja menyuruhku membersihkan semua ini" gerutu Talia kesal, namun semua kekesalannya hanya dapat ia sendiri yang mendengar karena Paman Willi sudah melenggang pergi kekamarnya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Di Perusahaan.....


Sejak memasuki perusahaan nya, Arsen langsung menuju ruangannya, ternyata disana sudah ada Robert yang menunggu.


"Ada apa kau pagi-pagi sudah ada di ruanganku ?" tanya Arsen sembari menuju kursi kebesarannya.


"Emmmm begini tuan, saya kesini mau memberikan surat kontrak pernikahan anda dan nona Rena"


Kening Arsen mengkerut, ia bingung dengan ucapan asisten nya itu.


"Kan tuan sudah mendapatkan apa yang tuan mau, bukankah di dalam surat itu kalau Tuan sudah berhasil memiliki perusahaan ini, Tuan akan menceraikan nona Rena ?"


"Lalu ?"


"Sudah saatnya Anda bercerai dengan nona Rena tuan" ucap Robert.


Braaakkkk.


Arsen menggebrak meja dengan kuat, membuat Robert kaget di buatnya.


"Siapa kau sampai berani berbicara seperti itu ?" bentak Arsen membuat Robert langsung ketakutan.


"Maafkan saya Tuan, saya hanya mengingatkan ?"


"Tak perlu kau ingatkan, karena saya masih ingat dengan perjanjian itu. Lagian di surat kontrak itu pernikahan ku dengan Rena 1 tahun. Dan ini baru mau berjalan 2 bulan Robert"


Robert menundukan kepalanya, ia tak menyangka kalau reaksi Arsen akan semarah ini. Membuat Robert yakin kalau Arsen sudah mencintai Rena.


"Maaf Tuan kalau saya lancang, apa tuan sudah mencintai nona Rena?" tanya Robert dengan ragu.


"Cinta ...?" eja Arsen "Kau tau Robert kalau aku tak mempercayai yang namanya cinta, bagiku cinta hanya kata menjijikan"


Entahlah bagaimana perasaan Arsen, ia sekarang sudah mendapatkan apa yang dia mau, namun kenapa ia enggan untuk menceraikan Rena ? bukankah laki-laki itu tak mempercayai yang namanya cinta.


"Sana keluar ! dan tinggalkan berkas itu" pinta Arsen mengusir Robert.


"Baik Tuan"


Setelah Robert pergi, Arsen membuka berkas tersebut. Sebuah dokumen pernyataan kalau dirinya dan Rena resmi akan bercerai. Arsen geram ia meremuk berkas itu sekuat tenaga.


Hingga bayangannya kembali terinngat tentang kejadian tadi pagi, bagaimanan wajah polos Rena yang kebingungan saat pindah tempat tidur, padahal itu ulah Arsen yang memindahkan.


Arsen terkekeh geli saat membayangkan semua itu.


"Kenapa wajah polosnya begitu candu"


"Astaga, tadi pagi dia begitu lucu"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Kira-kira kapan ya Mas Arsen akan menalak aku" gumam Rena yang sedari tadi murung karena memikirkan nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi janda lagi.


"Mas Arsen kan sudah mendapatkan apa yang dia mau"


"Bukankah di perjanjian dulu, Mas Arsen akan menceraikan aku jika perusahaannya sudah jatuh ketangannya"


Rena tampak murung, saat ini ia duduk di balkon kamar, sesekali wanita itu menghapus air matanya. Antara sedih dan senang dengan status yang akan ia alami nanti.


"Mama" teriak Elvan memanggil.


Dengan cepat Rena benar-benar menghapus sisah air matanya, lalu mendekati putrnya itu.


"Ada apa El ?" tanya Rena


"Ada Kiliman (kiriman) untuk Mama"


"Kiriman apa Nak ?"


Elvan mengangkat kedua bahunya tanda kalau dirinya tak tau apa-apa..


"Ya sudah yuk kita lihat" ajak Rena.


Elvan mengangguk, mereka berjalan meninggalkan kamar untuk menuju ruang tamu.


"Nyonya ada banyak paket untuk nyonya" ucap Leni saat berpapasan dengan Rena.


"Dari siapa ya bu ?"


"Saya tidak tau nyonya, silahkan nyonya lihat dulu"


Rena kembali mendekati ruang tamu, seketika matanya melotot saat melihat begitu banyak paper bag yang terletak di atas meja.


"Astaghfirullah, ini apa ? kok banyak sekali" gumam Rena.


------


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...