
Arsen benar-benar tidak menyangka kalau sang kakek lah yang menyembunyikan istri dan anaknya, pantas saja pria paruh baya itu terlihat sangat santai saat ia mengatakan kalau Rena dan Elvan menghilang.
Sedari tadi Arsen terus menggerutu, membuat Rena terkekeh melihat sang suami.
"Bisa-bisanya dua pria itu bersekongkol untuk mengerjaiku"
"Hehehe"
"Kamu ketawa terus sayang, apa gak kasihan sama suami kamu ini"
"Enggak tuh"
Arsen mencebikan bibirnya saat mendengar balasan dari sang istri.
"Awas kau malam ini" ancam Arsen.
"Kamu belum bisa melakukan itu padaku Mas, karena aku sedang hamil muda. Nanti saja jika aku sudah selesai periksa kedokter"
"Kok gitu ? jadi malam ini juniorku nganggur lagi dong"
"Kan selama ini juga nganggur"
"Hiiiisssss" Arsen kembali merasa kesal "Ya sudah yuk pulang ke Jakarta, aku juga tidak sabar ingin memeriksa kandungan kamu"
Rena berpikir sejenak, ia juga ingin segera pulang ke Jakarta, tapi Rena ingin mengajak ibu mertuanya itu juga.
Akankah Arsen setuju kalau dirinya mengajak Dian sekalian.
"Sayang..." panggil Arsen dengan suara lembut "Kamu kenapa ?" tanyanya lagi.
"Ehhmm, tidak mas" jawab Rena ragu untuk mengatakan keinginannya pada sang suami.
"Katakan saja ada apa ! jangan di pendam sendiri"
"Tapi janji mas tidak akan marah !"
"Janji sayang" balas Arsen yang langsung menautkan jari kelingkingnya di jari Rena.
"Aku ingin mengajak ibu mas, kasihan dia tinggal sendiri disini"
Arsen langsung terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Arsen belum bisa menerima sang ibu.
"Mas"
"Iya"
"Bagaimana boleh gak ?"
"Terserah kamu saja sayang, jika memang itu yang bisa membuatmu bahagia aku setuju saja"
"Tapi mas tidak keberatan kan ?"
"Tidak sayang.." balas Arsen kemudian.
Rena tersenyum, walau ia tahu suaminya masih sangat sulit menerima semua ini. Tapi ia bangga pada Arsen yang tetap bersedia jika Dian ikut ke Jakarta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bu, apa ibu mau ikut kita ke Jakarta ?" tanya Rena langsung.
Tadi, setelah dapat izin dari sang suami Rena langsung mencari Dian.
"Ikut kejakarta" Tanya Dian memastikan "Tapi bagaimana dengan suami kamu nak, apa dia setuju"
"Iya bu Mas Arsen setuju kalau aku mau membawa ibu ke Jakarta, untuk sikap Mas Arsen ibu harus sabar ya, mungkin dia masih belum bisa menerima semuanya"
Dian tak masalah akan hal itu, dia paham mungkin Arsen butuh waktu untuk menerima semua ini.
"Bagaimana bu ? apa ibu bersedia ?"
"Iya nak, ibu mau" balas Dian dengan cepat.
Rena tersenyum mendengarnya, ia langsung memeluk Dian dengan erat. Mungkiin jika Dian dan Arsen sering bersama akan membuat kemarahan dan kebencian Arsen meredah.
"Ya sudah ibu siap-siap, kita pulang hari ini"
"Nanti ibu tinggal dimana nak ? apa satu rumah dengan Ayah Raymond ?"..
"Tidak bu, nanti kita tinggal di rumah yang berbeda, semenjak aku dan Mas Arsen menikah kami sudah memiliki rumah sendiri"
Dian mengangguk paham kemudian pamit untuk membereskan pakaiannya, sementara Rena mencari bi Surti untuk berpamitan.
Banyak yang Rena katakan pada wanita itu, salah satunya terima kasih karena sudah membantu nya selama ini, menemani dirinya dan Elvan dalam kondisi apapun.
"Saya akan sangat merindukan nyonya dan den Elvan" bi Surti tampak menyusut air matanya.
"Aku juga bi, lain kali kalau aku ada waktu aku akan kesini lagi"
"Aamiin"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dian membawa sebuah tas besar menuju mobil Arsen. Tampak laki-laki itu sedang memasukan barang-barang kedalam bagasi mobil. Melihat Dian yang seperti keberatan membawa tasnya Arsen langsung membantu.
"Terima kasih nak" ucap Dian.
Arsen tak menjawab apa-apa, tapi tetap saja Dian merasa senang karena setidaknya Arsen masih peduli dengannya, sikap Arsen yang acuh mengingatkan dirinya pada sosok Daniel.
Sepanjang perjalanan Elvan selalu berhasil mengundang tawa, bocah menggemaskan itu ada saja yang di ceritakan walau kata-katanya masih berantakan. Membuat Arsen selalu dan selalu ingin bertanya lagi.
"Mas mampir dulu yuk, aku laper" ucap Rena.
"Didepan ada rumah makan yang enak nak, kalau mau kita bisa mampir disana" sahut Dian dari kursi belakang.
"Ayo mas, pilihan ibu pasti enak"
"Dimana tempatnya ?" tanya Arsen
"Maju dikit lagi" pinta Dian.
Arsen menurut, ia memelankan mobilnya hingga tiba di sebuah rumah makan yang tampak begitu ramai. Rumah makan sederhana dimana membuat Arsen ragu untuk menyuruh anak istrinya makan disana.
"Yakin mau makan disini ?" tanya Arsen ragu.
"Iya mas, yuk ah aku udah lapar banget"
Rena langsung menarik tangan sang suami, sementara Elvan di gandeng oleh Dian. Mereka berempat duduk di lantai yang beralaskan karpet. Menghadap ke meja makan yang sudah di isi oleh beraneka ragam makanan khas jawa.
Tanpa pikir panjang Rena langsung mengisi piringnya dengan nasi, kemudian mengambil gulai ayam kampung yang begitu mengguga selera. Tak hanya itu Rena juga mengambil sayuran hijau yang di rebus sampai empuk.
Melihat porsi makan Rena , membuat Arsen langsung merasa kenyang.
"Sayang kamu ini kek gak pernah makan saja" ucap Arsen.
"Biarian ih, aku kan laper"
"Memangnya berapa minggu kamu gak makan ?"
Rena tak lagi menanggapi, membuat Dian terkekeh.
"Biarin saja nak, istrimu kan sedang mengandung" sahut Dian.
Arsen memperhatikan cara makan Rena, begitu lahap dan begitu menggiurkan. Membuat Arsen penasaran dengan rasa masakan tersebut.
"Makan aja mas jangan ragu, ini nikmat sekali gak jauh beda sama makanan restoran"
Dengan sedikit keraguan Arsen akhirnya mengambil nasi, untuk lauknya ia hanya mengambil ayam goreng.
"Gak mau nyoba yang ini Mas ?" tanya Rena.
"Enggak ah" balas Arsen.
"Suamimu memang tidak terlalu suka dengan kuah bersantan sayang" sahut Dian yang ternyata masih mengingat apa saja makanan yang tidak di sukai Arsen.
"Siapa bilang, aku suka kok" balas Arsen, ia pun menyiram nasi di piringnya menggunakan kuah santan.
"Mas kalau kamu tidak suka jangan di paksa"
"Siapa bilang, nih lihat aku makan semuanya"
Arsen menyendokan makanan itu kedalam mulutnya, terasa aneh dan rasanya boleh Arsen akui kalau itu sangat nikmat.
"Bagaimana ?"
"Lumayan"
"Papa, El mau ayam goleng lagi" ucap Elvan yang sejak tadi diam saja, karena menikmati makan siang nya dengan nikmat.
"Ini nak, El harus makan yang banyak supaya cepat besar"
"Iya Papa"
Dian menatap kearah Arsen dan Elvan dengan seksama, terasa ada yang berbeda bagi Dian, karena tak ada kemiripan antara Arsen dan Elvan. Bahkan dengan Rena saja tidak mirip.
"Aku pikir Elvan mirip dengan Arsen tapi ternyata tidak. Kira-kira Elvan mirip siapa ya ? kok sama Arsen jauh banget bedanya. Kalau dengan Rena hanya matanya saja yang mirip" batin Dian.
---
....LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...