Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 15



Malam semakin larut, usai melaksanakan sholat isya tadi Rena dan Elvan sudah tertidur dengan sangat pulas, mungkin mereka sudah terbiasa tidur di jam seperti itu.


Sementara Arsen, laki-laki itu sedang sibuk membolak-balikan tubuhnya di atas kasur yang di gelar di lantai, mungkin ia sedang mencari posisi ternyaman karena dari tadi ia terus melakukan hal serupa.


"Aaashhhhhh" Arsen kembali bangun, kedua kakinya ia tekuk. Kemudian ia mengusap rambutnya dengan kasar.


"Sialan, kenapa gue gak bisa tidur"


Matanya teralih menatap sang istri dan anak sambungnya, mereka tidur dengan nyaman. Sebenarnya Arsen bisa saja pindah ke samping Rena, lagian mereka juga sudah halal.


"Astaga, pikiran macam apa ini ? kenapa bisa-bisanya aku berpikiran untuk tidur di samping dia"


Arsen kembali mengusap kepalanya, ia begitu frustasi malam ini. Jelas ini bukan salah Rena karena dirinya sendiri yang ingin tidur di lantai dan menyuruh Rena tidur di atas ranjang.


"Tapi kelihatannya nyaman banget tidur disana"


Entah dorongan dari mana perlahan Arsen naik keatas ranjang, lalu tidur tepat di samping Rena.


"Betulkan nyaman banget"


"Pantesan mereka tidur begitu nyenyak"


Karena sudah mengantuk mata Arsen langsung terpejam, dan tak berapa lama ia sudah hanyut dalam mimpi yang indah.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Jam 02 dini hari Rena terbangun, ia merasakan sesuatu yang menimpah perutnya, seperti ada yang memeluk nya dengan erat. Akan tetapi siapa ?. Berbagai pikiran negatif hanyut dalam pikiran Rena membuat wanita itu memberanikan diri merabah atas perutnya.


"Tangan siapa ini ?" gumam Rena.


Rena menoleh, ia terkejut melihat sang suami tidur dengan sangat pulas di sampingnya.


"Mas Arsen"


"Astaga kenapa dia bisa tidur di sini ? bukannya dia memilih tidur di bawah ?"


Perlahan Rena menurunkan tangan Arsen dari atas perutnya, namun matanya tak bisa beralih menatap wajah sang suami. Begitu tampan dan nyaman di pandang.


Akibat gerakan Rena membuat Arsen terbangun, laki-laki itu juga terkejut karena bisa sedekat itu dengan Rena, padahal semalam ia sudah mewanti-wanti agar menjaga jarak dengan Rena .


"Tuan kenapa bisa tidur di sini ?" tanya Rena.


"Memangnya kenapa ? lagian ini juga kasurku" jawab Arsen menahan rasa malunya.


Arsen beranjak lalu pindah ke tempat tidur di bawah, ia membelakangi tubuh Rena.


"Kalau memang Tuan tidak nyaman tidur di sana kenapa tak membangunkan aku saja, biar aku dan El bisa pindah"


"Diamlah aku masih mengantuk, lagian kenapa kau bangun tengah malam begini ? mengganggu saja"


"Maaf Tuan, tapi saya hendak melaksanakan sholat tahajud" jelas Rena.


Mendengar hal itu Arsen menoleh "Sholat lagi ?" tanyanya seperti orang bodoh.


Rena mengangguk "Iya Tuan, saya mau melaksanakan sholat sunah. Apa Tuan mau ikut ?"


"Ah tidak, kau saja !"


Ingin sekali Rena memaksa sang suami untuk ikut sholat dengannya, seperti dulu saat ia bersama dengan Rizal, bagaimana dulu Rizal selalu membangunkan Rena untuk mengajaknya sholat.


Namun sekarang Rena tak punya keberanian lebih untuk memaksa Arsen, apalagi mengingat pernikahan mereka hanya sementara. Setiap mengingat itu Rena merasa begitu berdosa karena mempermainkan pernikahan.


"Baik Tuan, kalau begitu saya sholat sendiri saja"


"Hemmm"


Rena beranjak, ia masuk kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Disana Rena menatap dirinya di pantulan cermin, bayangan tangan kekar yang melingkar di perutnya seakan masih terasa.


Rena mengelus perutnya. "Apakah suatu hari nanti aku bisa membuat Mas Arsen menganggapku istri seutuhnya ?"


Selesai berwudhu, Rena kembali kekamar. Di lihatnya Arsen sibuk memainkan ponselnya. Ia tak berani menegur Rena hanya lewat saja sembari membawa mukena dan sajadah.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Keesokan paginya Rena sudah bangun lebih dulu, ia juga sudah tampil cantik dengan memakai gamis hitam di padukan dengan hijau berwarna dusty pink. Begitu pas di badan Rena yang putih dan bersih.


Rena mendekat "Anak Mama sudah bangun, sini sayang peluk Mama"


Elvan langsung memeluk tubuh sang Mama dengan erat, tangan mungilnya mengelus-elus pinggang Rena dengan lembut. Hingga tak berapa lama Arsen pun ikut terbangun entah jam berapa laki-laki itu kembali tidur usai menemani Rena sholat tahajud.


"Kau sudah mandi ?" tanya Arsen


"Sudah tuan, habis sholat subuh saya langsung mandi"


"Oh" Balas Arsen singkat


"Sial kenapa dia cantik sekali pagi ini, wajahnya kelihatan segar, coba saja kalau aku mencintai dia mungkin aku sudah memeluknya dengan erat" sambungnya dalam hati.


"Tuan mandi saja, biar saya siapkan pakaiannya" Rena menawarkan diri untuk menyiapkan keperluan Arsen, karena selama menikah Rena belum pernah menyiapkan apa-apa.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri" tolak Arsen dengan cepat


Hati Rena teriris, sebegitu tak sukanya Arsen sampai ia yang ingin menyiapkan pakaian saja langsung di tolak.


"Kau jangan turun duluan sebelum aku selesai" sambung Arsen


"Baik Tuan" jawab Rena patuh.


Selama Arsen mandi, Rena membereskan tempat tidur. Kebetulan Elvan juga sudah terjaga dengan benar, dan langsung bermain.


Beberapa saat kemudian Arsen sudah menyelesaikan mandinya.


"Kau mandikan dulu anakmu, aku mau ganti baju" pinta Arsen.


Rena hanya menjawab dengan anggukan, dan dengan cepat Rena membawa Elvan kekamar mandi. Sementara Arsen berganti pakaian.


"Sialan, bisa-bisanya semalam aku tidur sambil memeluk dia" batin Arsen saat pikirannya kembali teringat dengan kejadian semalam.


"Wanita itu pasti berbangga diri karena aku peluk"


Padahal tanpa Arsen sadari kalau Rena juga terkejut, bukan berbangga diri seperti yang ia bayangkan.


🍀🍀🍀🍀


Setelah semuanya selesai Arsen membawa Rena dan Elvan untuk sarapan bersama, dimeja makan sudah menunggu Kakek Raymond dan juga paman Willi.


Kakek Raymond hanya diam sembari menatap Rena, berbeda dengan Paman Willi yang langsung menampilkan senyum nya walaupun tak di balas oleh Rena.


"Silahkan sayang !" ucap Arsen setelah menarik kursi untuk Rena duduki.


"Terima kasih Mas" jawab Rena.


"Ayo sarapan !" ajak Kakek Raymond.


Rena hanya mengambil satu buah roti tawar dan juga selainya, lantas memberikan roti itu pada Elvan.


"Kenapa kamu tak sarapan ?" tanya Paman Willi.


"Nanti saja Paman setelah El selesai" jawab Rena.


"Kau memang ibu yang hebat, kau mendahulukan anakmu dulu" puji Paman Willi.


Lagi dan lagi Arsen tak suka dengan ucapan sang Paman, ia lantas mengambil sepotong roti dan mengoleskan selainya.


"Sayang ayo buka mulutmu !" titah Arsen membuat Rena terkejut.


"Tidak perlu Mas, saya bisa sendiri" tolak Rena dengan halus, ia tahu suaminya itu sedang bersandiwara dan mungkin Rena harus terbiasa dengan semua ini.


"Jangan membantah" bisik Arsen kemudian.


Mau tak mau Rena membuka mulutnya, kemudian menerima suapan dari Arsen.


---


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...