Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 76



Keesokan harinya....


Rena kembali mendatangi Talia, di tanganya sudah ada sebuah paper bag yang isinya sebuah mukena dan Al-Quran.


"Mas kalau kamu tidak bisa nganterin aku tidak apa-apa, aku bisa kok kesana sendiri" ucap Rena disambungan telepon, karena saat ini sang suami masih berada di kantor.


"Pokoknya kamu jangan pernah pergi sendiri, tungguin mas sebentar lagi akan selesai meetingnya"


"Ya sudah kalau gitu, Rena tungguin mas di rumah"


"Nah gitu dong, ya sudah mas lanjut meeting lagi ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Rena keluar dari kamar sembari membawa paper bag, ia menuju ruang tamu lalu menghidupkan televisi.


Ia menggonta-ganti canel untuk mencari tontonan yang enak, namun semua acara televisi sama aja, hanya memberitakan artis itu-itu saja membuat Rena bosan.


"Main ponsel saja lah" gumamnya dan langsung mengambil ponsel didalam tas jinjingnya. Ia membuka sosial media lalu menscror kebawah.


1 jam kemudian, Arsen tiba di rumah. Laki-laki itu tersenyum saat melihat sang istri sudah tertidur di atas sofa. Arsen berjongkok kemudian menatap wajah cantik Rena yang kini masih terlelap.


"Bosan ya nungguin mas, sampai ketiduran seperti ini" ucap Arsen dengan suara pelan. Jari telunjuknya menelusuri wajah Rena.


Merasakan ada yang mengganggu tidurnya, Rena pun membuka mata.


"Kamu sudah pulang mas ?"


"He.em"


"Kok gak bangunin aku ?"


"Gak tega sayang, apalagi kamu kalau tidur cantik banget"


Rena melayangkan sebuah pukulan di lengan sang suami "dasar gombal"


"Lah kok gombal ? aku serius sayang. Kamu kalau tidur cantik nya pakek banget apalagi ada ilernya" balas Arsen sembari menahan tawanya.


"Mana ada aku ileran" Rena mengelap ujung bibirnya untuk memastikan kalau tidak ada cairan menjijikan yang dikatakan sang suami.


"Hahahaha" tawa Arsen menggelegar. "Yuk katanya mau ketempat Talia" ajak Arsen kemudian


"Eh iya aku lupa. Mbak Talia pasti udah nungguin dari tadi"


"Makanya ayo"


Keduanya berangkat menuju rumah Talia.


Sesampai disana Arsen dan Rena mengetok pintu terlebih dahulu. Karena sekarang berbeda jika dulu Talia masih dalam keadaan sakit, sementara sekarang dokter sudah mengatakan kalau wanita itu baik-baik saja.


Tak berapa lama pintu rumah terbuka. Seorang wanita cantik berbalut busana muslim lengkap dengan hijabnya keluar dari rumah itu. Rena melongo tak percaya melihat semua ini. Talia keluar dengan penampilan terbarunya.


"Ya Allah mbak Talia cantik banget" puji Rena membuat Talia tersipu malu.


"Kamu bisa aja sih Ren. Kamu jauh lebih cantik dari aku"


"Sejak kapan mbak pakai Hijab ?"


"Kemaren, saat kalian pulang dari sini" jelas Talia "Aku mau belajar Ren jadi kaya kamu. Cantik dan berhati mulia"


"Aku manusia biasa mbak, jangan terlalu memujiku"


"Hemmm, hari ini jadikan ngajarin aku sholat ?"


"Jadi dong, aku kan sudah bawa mukenanya" Rena mengangkat tangan kanannya.


Talia tersenyum, ia ingin benar-benar berubah. Semoga saja setelah menjadi wanita yang sholeha ia bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.


"Mbak udah sholat dzuhur ?" tanya Rena.


Talia menjawab dengan gelengan kepala, ia sama sekali tak tau cara melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Ya sudah kita sholat bareng yuk, kebetulan aku sama Mas Arsen belum sholat"..


"Iya Ren"


Dan disinilah mereka berada, disebuah ruangan khusus untuk sholat. Arsen berdiri paling depan sebagai imam sementara Rena dan Talia berdir di belakang Arsen.


"Bacaannya apa saja Ren ?" bisik Talia


"Baiklah kalau begitu"


Allah hu akbar....


Arsen mengangkat kedua tangannya, di ikuti oleh Rena dan Talia. Sesekali Talia melirik kearah Rena untuk melihat gerakan apa selanjutnya.


Beberapa saat kemudian ketiga selesai melaksanakan sholat dzuhur. Rena mencium tangan sang suami, namun saat Talia ingin mengikutinya langsung di cega oleh Rena.


"Kenapa Ren ? bukannya kamu melakukan itu ?" tanya Talia heran.


"Itu beda mbak, aku kan sama Mas Arsen adalah suami istri. Kalau mbak bukan jadi kalian bukan mukhrim.


Walau masih bingung namun Talia mengerti, mungkin memang banyak yang harus ia pelajari.


"Mbak jangan tersinggung ya !" ucap Rena karena takut kalau Talia akan marah padanya.


"Ya enggak dong Ren, ngapain aku tersinggung. Aku yakin apa yang kamu larang adalah yang terbaik untukku"


Mendengar hal itu Arsen dan Rena tersenyum, mereka bangga karena Talia benar-benar berubah.


"Ya sudah mas kedepan ya, kalau udah belajarnya kita kerumah sakit. Karena Talia harus melakukan pemeriksaan USG"


"Iya mas"


Setelah Arsen pergi Rena langsung mengajari Talia sholat dan mengaji.


"Sehari berapa kali kita harus sholat Ren ?"


"Sehari semalam sholat yang wajib kita kerjakan sebanyak 5 kali. Yaitu Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya dan Subuh" jelas Rena "Tapi itu yang wajibnya adalagi yang sunah. Mbak belajar yang wajib aja dulu nanti baru yang sunah"


"Yang mana baiknya aja Ren"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Usai belajar sholat Arsen, Rena dan Talia menuju rumah sakit. Arsen mendaftarkan Talia kedokter yang sama dimana sang istri juga rutin periksa.


Setiba di rumah sakit, Arsen langsung mengajak Rena dan Talia masuk, karena memang dirinya sudah membuat janji pada dokter itu.


"Siapa yang mau periksa pak Arsen ? bukannya jadwal pemeriksaan untuk istri anda masih 2 minggu lagi"


"Memang bukan istri saya dok, melainkan tante saya" jawab Arsen berbohong dengan mengatakan kalau Talia adalah tantenya. Ia hanya tidak ingin Talia merasa malu karena hamil tanpa suami.


"Oh begitu, lalu dimana suaminya ?"


"Suaminya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Dia istri paman saya dok"


Dokter Ratna terlihat menganggukan kepala, kemudian menyuruh Talia naik keatas ranjang pasien. Seorang suster membantu dan mengoleskan jell diatas perut Talia.


Namun sebelum itu Arsen duduk menjauh, ia tak ingin melihat perut Talia yang terbuka lebar.


Dokter Ratna mulai melakukan pemeriksaan USG.


"Kepalanya sudah dibawa, ini posisi yang bagus. Usia kehamilannya tepat 8 bulan" jelas dokter Ratna.


"Mau tau jenis kelaminnya ?" tanya dokter Ratna lagi.


"Mau dok" jawab Talia


"Jenis kelaminnya perempuan. Ini sangat jelas terlihat"


Mata Talia berkaca-kaca, perasaannya tak karuan. Anak itu akan lahir tanpa seorang Ayah. Bahkan sebelum pergi Willi tak tahu kalau dirinya hamil.


Takdir begitu buruk menimpahnya. Ini pertama kali bagi Talia akan menjadi seorang ibu, namun tak ada sosok suami yang menemani dan mendukungnya.


Melihat air mata Talia menetes, Rena langsung mengelapnya. Membuat Talia menoleh lalu berusaha tersenyum walau perasaanya begitu terluka.


"Jangan sedih ya mbak, ada aku dan mas Arsen disini"


"Iya Ren"


"Mbak harus kuat, kan bentar lagi ketemu dedek"


"Makasih ya Ren udah nyemangatin aku"


"Sama-sama mbak, kitakan keluarga"