
"Anda yang salah kenapa malah membalikan Fakta"
Dian kembali menggelengkan kepala "Kamu salah paham nak, ibu menyayangimu"
"Tidak.. Kalau memang kau menyayangiku, kau tidak akan meninggalkan aku waktu itu"
Sekarang Rena baru tau letak permasalahan antara suami dan ibu mertuanya itu, ia berjanji akan membuat keduanya rukun kembali. Walau bagaimana pun Dian adalah ibu kandung Arsen.
"Ayo sayang kita pulang ke Jakarta" ajak Arsen pada anak dan istrinya.
Rena melepaskan tangan sang suami, membuat Arsen heran.
"Kenapa sayang ?"
"Aku tidak mau pulang kalau Mas tidak mau minta maaf sama Ibu"
"Buat apa aku minta maaf dengannya sayang ? aku tidak salah"
"Kamu salah Mas, kamu membentaknya tadi, seorang anak tidak boleh membentak ibunya"
"Ayolah sayang, jangan membuat aku tambah pusing, ayo kita pulang"
"Tidak mau..." balas Rena lagi.
Arsen mengusap wajahnya dengan gusar, ia tak bisa melakukan permintaan Rena, karena baginya kesalahan Dian begitu besar. Wanita itu dengan tega meninggalkan dirinya bersama laki-laki lain.
"Rena ayo pulang... " kali ini Arsen membentak Rena, membuat air mata wanita itu menetes. Ia memundurkan langkahnya dengan pelan.
"Kalau Mas Arsen mau pulang silahkan saja. Aku dan Elvan akan tetap disini, bersama ibu yang sangat menyayangiku"
Melihat sang istri yang menangis, Arsen langsung merasa bersalah. Ia ingat kalau begitu susah mendapatkan wanita itu.
"Rena, ayo ikuti suami kamu nak.. Ibu tidak apa-apa" sahut Dian kemudian, ia merasa terharu mendengar Rena membelanya.
"Tida mau bu, mas Arsen sudah keterlaluan karena membentak ibu."
"Kamu tidak mengerti permasalahnnya nak"
"Karena itu Rena ingin mengerti, siapa tau ada jalan keluarnya"
Dian menatap kearah Arsen, tentu saja ia ingin membuat hubungan nya dengan sang anak menjadi lebih baik, meluruskan setiap kesalah pahaman yang pernah terjadi.
"Mas kalau memang kamu sayang sama aku, ayo kita selesaikan masalah ini" bujuk Rena kemudian "Tapi kalau mas tidak mau, ya sudah mas pulang aja sendiri, aku akan tetap disini"
"Sayang tolong jangan memaksaku !" balas Arsen.
"Kali ini saja mas aku memaksa, ini juga untuk kebaikan kita semua"
Arsen menarik napas panjang, lalu kemudian mengangguk dengan pelan. Mungkin memang sudah saatnya ia mengetahui semuanya, selama ini Arsen hanya mendengarnya cerita dari sebelah pihak.
Melihat sang suami mengangguk, Rena tersenyum senang. Mereka semua masuk kedalam rumah.
Dan disinilah mereka berada, di ruang tamu yang berukuran minimalis. Arsen duduk di samping sang istri sementara Dian duduk berhadapan dengan keduanya.
Tadi, Rena sudah menitipkan Elvan pada Bi Surti, supaya anaknya itu tak mengetahui masalah ini.
"Ibu, bicaralah ! jelaskan semua nya pada Mas Arsen" ucap Rena dengan lembut.
Dian menganggukan kepalanya, sebelum bercerita ia menarik napas panjang kemudian menatap kearah Arsen yang dari tadi selalu membuang muka.
"Arsen, maaf kan ibu nak"
"Bicara sepentingnya, jangan bertele-tele" sahut Arsen.
"Mas jangan seperti itu ! dengarkan dulu apa yang ingin ibu katakan"
"Huuuu, baiklah"
"Ayo bu bicara lagi" ujar Rena.
"Ibu tau kamu terluka nak bahkan mungkin sangat membenci ibu, karena waktu itu ibu meninggalkan kamu" Dian berhenti sejenak untuk menghapus air matanya.
"Ibu melakukan itu karena ibu tidak sanggup dengan perlakuan Ayahmu, dia selalu main tangan dan selingkuh di belakang ibu"
"Itu tidak benar nak, laki-laki yang kau lihat waktu itu adalah teman dekat ibu, dia yang membantu ibu untuk pergi dari ayahmu"
Arsen terdiam, entah siapa yang harus ia percayai. Dulu ayahnya bilang kalau sang ibulah yang salah dan selingku, namun sekarang malah sebaliknya.
Kalau saja Ayahnya masih hidup, Arsen bisa meminta penjelasan lagi, tapi kenyataannya Ayahnya sudah tiada. Lalu pada siapa ia harus meminta penjelasan lagi.
"Ibu sangat menyayangimu nak, ibu menyesal sudah pergi meninggalkan kamu, dan bertahan walau ibu selalu di siksa asal ibu tak mendapatkan kebencian dari kamu" air mata Dian semakin deras menetes.
"Bu..." Rena mendekat, ia menarik tubuh Dian lalu memeluknya dengan erat.
Arsen berdiri dari duduknya "Aku pusing butuh istirahat" ucapnya "Sayang dimana kamar kamu ?" tanyanya pada sang istri.
"Sebentar ya bu, aku anterin Mas Arsen dulu"
Sekarang Rena menurut, mungkin suaminya butuh waktu untuk menerima kenyataan ini, Rena akan memberi waktu agar suaminya bisa berpikir.
Didalam kamar Rena memeluk suaminya dari belakang.
"Suamiku benar-benar hebat"
"Kenapa nih ? pasti ada maunya ?" ucal Arsen terkekeh.
"Tidak mas, aku senang kamu mau mendengarkan ibu, bahkan kamu mendengarkan sampai dia selesai cerita. Aku bangga sama kamu"
Arsen terdiam, apa sehebat itukah dirinya dimata Rena. Padahal ia hanya mendengarkan saja tapi Rena sudah begitu bangga padanya.
"Kamu perlu waktu untuk menerima semua ini sayang !dan aku tidak akan memaksa kamu lagi, tapi ku harap kamu memaafkan ibu" Rena melepaskan pelukannya lalu beralih berhadapan dengan sang suami.
"Satu pesanku mas, jangan sampai mas menyesal ! mas masih bersyukur punya seorang ibu, sementara aku.."
"Hei kenapa kamu menangis lagi.. Aku tidak suka melihatnya" Arsen menghapus air mata sang istri, lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Setelah cukup lama berpelukan Rena baru ingat dengan keadaan Talia.
"Bagaimana keadaan mbak Talia mas, apa anak itu bukan anakmu ?" tanya Rena.
"Bukanlah sayang, suami mu ini setia sama kamu"
"Lalu yang di kandung sama mbak Talia anaknya siapa ?"
"Paman Willi"
"Haahhh"
Rena terkejut, ternyata sedekat itu hubungan antara Willi dan Talia sehingga bisa membuat wanita itu hamil.
"Berarti malam itu kamu di jebak ya mas ?"
"Iya sayang, dia ingin mas menikahinya"
"Ya Allah kok mbak Talia tega sekali memfitna kamu Mas, padahal selama ini kita tidak pernah salah sama dia".
"Sudah sayang, jangan pikirkan dia lagi. Yang penting suami kamu ini gak salah"
Rena merasa bersalah karena dulu tidak percaya dengan suaminya, ia bahkan menyuruh Arsen menikah dengan Talia.
"Maafin aku ya Mas karena dulu aku tidak percaya sama Mas, bahkan aku meninggalkan Mas sendiri menghadapi masalah ini"
Arsen mengelus pipi istrinya "Sudah sayang, mas juga udah maafin kamu. Mas mengerti mungkin kamu terluka karena mendengar hal itu. Istri mana yang tidak sedih mendengar suaminya selingkuh"
Rena kembali menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Membuat Arsen terkekeh.
"Kangen ya sama mas ?"
"Banget.."
"Nanti malam aku minta jatah lah, sebagai hukuman karena kamu pergi sampai kedesa ini"
"Kalau mau ngasih hukuman jangan keaku Mas, ke kakek harusnya karena kan yang nyuruh aku kesini kakek"
"Apaaaa"... teriak Arsen kaget..