
Sepanjang acara, Arsen tak pernah melepaskan genggaman tangannya, ia seolah tak ingin lepas dari Rena, padahal sedari tadi wanita itu ingin melepaskan diri karena merasa malu dengan para tamu.
"Mas lepaskan ! aku ingin kesana" tunjuk Rena ketempat minuman.
"Diamlah ! biarkan Robert yang mengambilkan kamu minuman" pinta Arsen dengan nada dingin.
Rena menghela nafas panjang, ia heran dengan sikap Arsen malam ini, laki-laki itu seperti begitu posesif padanya, padahal selama ini Arsen tak peduli dengan apa yang ingin Rena lakukan.
Akhirnya mau tak mau Rena menurut, ia tak ingin mencari masalah pada Arsen.
"Ini Nona minuman nya" ucap sang pelayan yang di perintahkan Robert.
"Terima kasih" Rena mengambil minuman itu dengan rasa tak enak hati, malam ini ia seperti seorang ratu yang di layani apapun yang ia butuhkan.
Sebelum Kakek Raymond mengumumkan pengumuman penting, tiba-tiba Talia naik keatas panggung. Wanita cantik itu duduk di hadapan piano.
Dengan jari lentiknya Talia memainkan piano dengan sangat indah. Semua tamu terpukau dengan permainan piano Talia. Sementara Arsen terlihat biasa saja karena dirinya memang sudah tau kalau Talia jago bermain piano.
"Terima kasih atas tepuk tangannya" ucap Talia sembari tersenyum senang.
"Saya ingin menantang seseorang untuk bermain piano, dengan lagu yang sama seperti yang saya mainkan" lanjut Talia lagi.
Semua tamu menatap sekeliling, mereka semua bertanya-tanya siapa yang akan di tantang oleh Talia untuk bermain piano. Begitupun dengan Arsen.
"Rena, silahkan anda bermain piano disini" ucapan Talia begitu mengejutkan Arsen. Ia langsung menatap kearah Rena kemudian menatap Talia dengan tajam.
"Ya Allah apa aku bisa bermain diatas sana, sementara aku sudah lama sekali tak memainkan alat itu" batin Rena penuh dengan rasa was-was.
Sementara Talia langsung tersenyum senang di atas panggung, kali ini ia berhasil mempermalukan Rena, ia yakin Rena tak akan bisa bermain piano seperti dirinya.
"Kau mau kemana ?" tanya Arsen yang langsung memegang tangan Rena saat melihat Rena ingin menaik keatas panggung.
"Aku mau bermain piano Mas, bukankah Mas Arsen dengar sendiri apa yang di katakan mbak Talia"
"Kau jangan mempermalukan dirimu sendiri, kalau kau tak bisa katakan saja. Talia hanya ingin membuatmu malu"
Rena justru tersenyum menatap kearah Arsen "Atas ridhomu sebagai suami, insya Allah aku bisa mas. Jadi doakan aku ya !! aku janji tidak akan mempermalukan Mas disini" kata-kata Rena begitu lembut membuat Arsen akhirnya melepaskan genggamannya. Ia berharap Rena bisa bermain seperti Talia.
Di atas panggung, Rena sudah berdiri di depan piano, sementara Talia sudah melenggang pergi dengan senyum penuh kemenangan.
"Bismillah Ya Allah. Semoga engkau mempermudah semuanya"
Rena duduk di kursi yang sudah di sediakan. Jari jemarinya mulai bermain di atas piano itu. Tak ada yang menyangka kalau permainan Piano Rena begitu merdu dan bagus bahkan lebih bagus dari Talia.
Arsen langsung menatap sang istri, ia tak menyangka kalau Rena bisa memainkan piano. Seketika senyum manis muncul di bibir Arsen, matanya tak berkedip menatap kearah Rena yang begitu khusuk bermain di atas sana.
"Saya tak menyangka kalau Nona Rena bisa bermain piano sebagus ini Tuan" tiba-tiba suara Robert membuat Arsen menoleh dan menatap Robert dengan kesal.
"Diamlah ! jangan banyak bicara dulu"
Mendengar hal itu Robert langsung terdiam, ia memperhatikan Arsen dengan seksama. Saat itu juga Robert menyadari kalau Arsen mulai ada rasa pada Rena.
"Saya yakin Tuan Arsen mulai menyukai Nona Rena" batin Robert
Mendengar suara tepuk tangan meria dari para tamu saat Rena selesai bermain, membuat Talia begitu kesal, niatnya ingin mempermalukan Rena mala dirinya sendiri yang malu. Semua tamu langsung melirik kearahnya.
"Dari tadi banyak sekali yang mengatakan dia cantik, padahal disini akulah yang paling cantik*"
Ungkapan kekesalan yang mampu Talia luapkan di hati.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Setelah menunggu lama, Kakek Raymond naik keatas panggung. Malam ini ia akan membacakan kepada siapa perusahaan nya akan di wariskan.
Arsen dan Paman Willi berdiri berdekatan. Keduanya saling memberi tatapan penuh kebencian. Tak ada tanda kekeluargaan antara paman dan keponakan itu.
Sementara itu Rena tetap berdiri di samping Arsen. Jika Arsen menakutkan perusahaannya berbeda dengan Rena.
"Jika malam ini perusahaan itu resmi menjadi milik Mas Arsen, itu berarti aku akan segera di talak sama Mas Arsen" batin Rena lirih.
"Selamat malam semuanya" suara Kakek Raymond menggema.
"Malam ini bertepatan ulang tahun perusahaan keluarga saya, perusahaan yang di bangun oleh saya dan anak saya Daniel. Namun sayang anak saya sudah pergi lebih dulu. Maka dari itu saya akan meresmikan siapa pemimpian perusahaan itu seterusnya"
Lagi dan lagi Arsen dan paman Willi saling menatap tanpa ekspresi.
"Kalau seandainya perusahaan itu tak jatuh ketanganku, apa kau masih mau menjadi istriku" bisik Arsen di telinga Rena.
Sontak saja ucapan Arsen membuat Rena langsung menoleh, entah apa maksudnya semua itu.
"Maksud nya ?" tanya Rena heran.
"Jawab saja pertanyaan ku ? jangan malah balik bertanya"
"Aku ini hanya seorang istri Mas, apapun yang kamu punya aku akan terima, aku akan selalu menemani Mas Arsen walau Mas Arsen tak punya apa-apa, lagian harta itu hanya titipan, kalau Allah mau mengambilnya lagi maka akan lenyap langsung" jawab Rena dengan tulus.
Arsen menatap manik mata Rena, ia merasakan ketulusan wanita itu.
"Tapi aku tak akan terima jika perusahaan Ayah jatuh ketangan Paman Willi" gumam Arsen yang hanya mampu di dengar oleh nya.
Semuanya kembali fokus mendengarkan kakek Raymond, detak jantung Arsen begitu cepat.
"Dan untuk pemimpin resmi perusahaan Raymond grup adalah Cucu kebanggaan saya, yaitu Arsenio Raymond" ucap kakek Raymond menggelegar hingga suara tepuk tangan yang meria mengiringi langka kaki Arsen menuju panggung.
"Sialan !! kenapa Ayah memberikannya ke Arsen, aku tak terima semua ini, aku ini anak kandung Ayah sementara Arsen hanya seorang Cucu" batin Paman Willi marah.
Rena menatap suaminya di atas panggung, sesekali ia menunduk sedih, pernikahannya sekarang sudah di ujung tanduk. Akankah setelah ini Arsen benar-benar menceraikan nya seperti dalam surat perjanjian yang ia tanda tangani dulu.
"Aku harus ikhlas kalau memang Mas Arsen akan menceraikan aku"batin Rena.
Suara tepuk tangan masih begitu meria, Arsen menyampaikan sepata dua kata setelah ia di resmikan menjadi pemimpin perusahaan. Akan tetapi di dalam penyampaiannya tak sedikitpun Arsen menyebut nama Rena sebagai istri ataupun menjelaskan masalah pernikahannya.
---
...LIKE DAN KOMEN ...
...ADD FAVORIT...