Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 11



Mendapatkan perintah dari Arsen tentu sudah menjadi pekerjaan Robert sehari-hari, seperti sekarang ini ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Arsen untuk menemui Rena.


Tak lupa membawa uang yang di titipkan Arsen tadi, entah itu untuk apa Robert tak ingin bertanya apapun.


Beberapa saat kemudian Robert telah tiba, ia langsung keluar dari mobil setelah berhenti tepat di halamam rumah mewah itu. Di lihatnya Rena sedang bermain bersama Elvan di teras.


"Selamat pagi Nona Rena" sapa Robert.


Rena mendongakan kepalanya "Pagi Tuan, ada apa ?"


"Ada hal yang ingin saya bicarakan Nona"


"Baiklah, tapi bicara di sini saja karena didalam tidak ada siapapun" jelas Rena dan mendapat anggukan Dari Robert.


Kedua duduk di kursi tak jauh dari tempat Elvan bermain, sebelumnya Rena membuatkan minuman untuk Robert.


"Maaf sebelumnya Nona, saya kesini di suruh tuan Arsen untuk menemui anda" Robert mulai membuka pembicaraan.


"Tuan Arsen sangat keberatan dengan panggilan Papa yang di ucapkan anak anda, jadi saya harap anda mengerti dan menguba panggilan tersebut, karena jika sudah marah Tuan Arsen bisa membahayakan anda"


Rena mendengarkan dengan seksama, ternyata masih prihal panggilan Papa tadi pagi, Arsen benar-benar tak menyukai hal itu. Membuat dada Rena terasa sesak menahan semua ini.


"Saya mengerti Tuan, maafkan saya !" ucap Rena dengan suara bergetar.


"Dan ini" Robert mengeluarkan amplop coklat di saku jasnya, ia letakkan amplop itu di atas meja "Ini uang yang di titipkan Tuan Arsen, dia menyuruh anda belanja hari ini, pergilah ! dan belanja semua kebutuhan anda dan anak anda" jelas Robert lagi.


Rena menerima amplop tersebut, semalam memang Arsen sudah membahas itu.


"Anda cukup memasak untuk anda dan anak anda, karena Tuan Arsen ada asisten sendiri yang akan menyiapkan semuanya, jika tak ada Kakek Raymond anda dan Tuan Arsen tetaplah orang asing, jadi pahami semua ini"


Ucapan demi ucapan yang Robert lontarkan begitu menyayat hati Rena, sebegitu tak berartinya Rena di mata Arsen padahal ia sudah menjadi istri Sah dari laki-laki itu.


Ingin mengakhiri tapi tak bisa, Rena sudah terikat sebuah perjanjian dengan Arsen.


"Anda paham kan apa yang telah saya sampaikan tadi ?" tanya Robert


"Inysa Allah saya paham tuan, terima kasih sudah memberi tahu saya"


"Bagus kalau begitu, ya sudah saya pamit lagi"


Rena mengangguk, tak berapa lama Robert benar-benar telah pergi. Membuat air mata Rena leluasa menetes membasahi pipi putihnya.


Ini terlalu menyakitkan, Status Rena sama saja tak berubah, ia tak di anggap apa-apa oleh Arsen.


"Sabar Rena, ini hanya setahun ! semoga kamu kuat untuk melewati semua ini" batinnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Tok--Tok--Tok...


Suara ketokan pintu membuat Arsen yang sedang berkutat dengan pekerjaanya terpaksa berhenti sejenak.


"Masuk !!" titahnya dengan suara lantang.


Pintu terbuka dengan pelan, ada Jasmin yang muncul.


"Ada apa ?" tanya Arsen.


"Ada seseorang yang mau bertemu dengan anda Tuan" jawab Jasmin.


Kening Arsen mengkerut "Siapa ? bukankah saya tak ada janji dengan siapapun hari ini ?"


"Dia adalah paman anda Tuan"


Arsen terhenyak kaget, seseorang yang tak ia harapkan kehadirannya tiba-tiba muncul dengan senyum paling menjengkelkan.


Arsen melambaikan tangannya untuk menyuruh Jasmin pergi, setelah kepergian Jasmin laki-laki yang di panggil paman oleh Arsen langsung mendudukan diri di sofa walau sang pemilik ruangan belum mengizinkan.


"Ada apa paman datang ke kantorku ?" tanya Arsen dingin.


"Hahaha" Pamam Wili tertawa dengan keras "Kau jangan berbangga diri dulu Arsen, kau yakin kalau ini akan menjadi milikmu ?"


Rahang Arsen mengeras, namun sekuat tenaga ia menahan emosinya. Berhadapan dengan dang paman memang harus ekstra sabar.


"Ini perusahaan Ayahku, jadi aku yang berhak memilikinya" balas Arsen sembari menutup laptopnya kemudian beranjak untuk duduk berhadapan dengan Paman Willi.


"Iya aku tau ini memang perusahaan Ayahmu, tapi kau lupa dari mana perusahaan ini berasal. Papa Raymond yang membangunnya dari awal sementara Ayahmu hanya meneruskan saja"


"Saya sangat tau Paman Willi yang terhormat, ini memamg perusahaan Kakek tapi yang membuatnya berkembang pesat hingga terkenal seperti sekarang itu adalah Ayahku, Ayah Daniel"


Paman Willi menatap Arsen dengan seksama, dari dulu memang dia tak pernah akur dengan Daniel Ayahnya Arsen. Dan entah kenapa setelah Daniel meninggal dunia ia kembali dan ingin menguasai perusahaan tersebut.


Tentu saja Arsen tak terima semua itu, hingga akhirnya ia meminta Kakek Raymond untuk menyerahkan sepenuhnya perusahaan tersebut pada Arsen, namun tak menyangka Kakek Raymond justru memberi syarat tak masuk akal bagi Arsen.


"Ku dengar kau sudah menikah, mana istrimu ? apa dia cantik ?"


"Itu bukan urusan mu"


Paman Willi kembali tertawa saat mendengar jawaban Arsen, tanpa Arsen beri tahupun ia pasti akan tau siapa istri dari laki-laki itu.


"Ya sudah saya mau pulang dulu, kau nikmati dulu kursi itu sebelum berpindah kepadaku" paman Willi berdiri hendak meninggalkan ruangan Arsen.


"Jangan mimpi kau, sampai kapanpun perusahaan ini akan tetap menjadi milikku"


Tapi paman Willi tak lagi menjawab, ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Arsen.


Setelah kepergian sang Paman, emosi Arsen langsung memuncak, ia melemparkan Vas bunga hingga pecah berantakan.


"Sialannnnnnnn" umpatnya kesal.


"Ngapain laki-laki itu datang kesini ?"


"Tak akan aku biarkan ia mengambil apa yang telah menjadi milik Ayahku, sampai kapanpun aku akan mempertahankan semua ini"


Tak berapa lama pintu ruangan kembali terbuka, kali ini Robert yang masuk, laki-laki itu kaget saat melihat ruangan Arsen berantakan.


"Tuan, apa yang terjadi kenapa ruangan anda berantakan seperti ini ?"


"Apa ini ada hubungan nya lagi dengan Nona Rena ?" tanya Robert bertubi-tubi membuat kepala Arsen terasa mau pecah.


"Kau bisa diam tidak ? dan semua ini tak ada hubungan nya dengan janda itu" jawab Arsen kemudian.


"Lalu kenapa anda marah-marah ?"


"Kau tau Robert, tadi Paman Willi datang kesini, dan dia masih berniat untuk menguasai perusahaan ini"


Robert tentu saja tau permasalahan nya, ia begitu mengenal keluarga Raymond, jadi tentang Paman Willi tentu saja dia hapal.


"Saya yakin Kakek anda tak akan menyerahkan perusahaan ini padanya tuan, karena anda juga sudah memenuhi syarat dari dia"


"Ku harap juga begitu, tapi kalau sampai Kakek tetap mau memberikan perusahaan ini pada Paman lihat saja apa yang akan aku lakukan" kedua tangan Arsen menggepal.


"Saya akan selalu membantu anda Tuan, lagian selama perusahaan ini anda urus semua berkembang pesat, jadi Kakek anda pasti paham"


----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...