
"Bawa kerumah sakit" titah Kakek Raymond karena kini Talia sudah tak sadarkan diri.
"Kau juga harus kerumah sakit, lihat lukamu besar sekali" sambung kakek Raymond lagi.
Robert menganggukan kepalanya, sekarang ia mulai merasa perih padahal tadi ia tak merasakan apa-apa.
Di perjalanan kerumah sakit, Arsen yang membawa mobil. Karena Robert tentu belum bisa mengemudi.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Baik Talia maupun Robert langsung di larikan ke IGD. Kakek Raymond dan Arsen menunggu di depan ruangan IGD.
"Kenapa jadi seperti ini sih" gerutu Arsen.
"Sabar.. Tapi kan kita sudah mengetahui kalau anak yang di kandung Talia bukan anak mu"
"Iya kek, aku legah mendengarnya"
Seorang dokter wanita keluar, menyudahi obrolan antara Arsen dan kakek Raymond.
"Dengan suami pasien ?"
Kakek Raymond dan Arsen sontak berdiri lalu mendekati dokter tersebut "Suaminya sudah meninggal dok, bagaimana keadaannya ?"
"Pasien mengalami stres berlebihan, sehingga tidak bisa mengendalikan emosinya. Itu sangat berdampak pada kehamilan"
"Lalu apa yang harus dilakukan dok ?"..
"Untuk malam ini, lebih baik pasien dirawat dulu"
"Baiklah, lakukan yang terbaik"
Dokter itu mengangguk, kemudian pamit pergi dari sana.
Tak berapa lama Robert keluar dari ruangan.
"Bagaiamana keadaanmu ? kenapa kau sudah keluar ?" tanya Arsen
"Saya sudah baik-baik saja tuan"
"Harusnya kau di rawat dulu"
"Itu tidak perlu, ini bukanlah luka besar"
Arsen mencibir, Robert memang tak akan mau di rawat walau keadaannya sangat parah. Arsen begitu hapal dengan pria itu.
------------
Talia menatap ruangan di sekitarnya, semuanya tampak berbeda, cairan infus menggantung di sampingnya.
Ingatannya tertuju pada kejadian beberapa saat yang lalu, sekarang semua orang sudah tau kebohongannya selama ini. Dan ia harus menerima konsekuinnya, hamil tanpa suami.
Air mata Talia kembali menetes, ia tidak mau semua itu terjadi.
"Tidaaaakkkk" teriak Talia menggema, membuat ketiga pria yang sedang menunggu di luar ruangan langsung masuk kedalam.
Terlihat Talia sudah melepaskan cairan infus yang menancap di tangannya, sehingg ada banyak darah yang menetes, mungkin karena di lepas dengan paksa.
"Aku tidak mau hamil tanpa suami...." kembali wanita itu berteriak.
"Talia, tolong jangan seperti ini" ucap kakek Raymond "Kami akan menjagamu dengan baik"
"Aku tidak mau !"
Seorang dokter masuk keruangan Talia dengan di temani dua orang suster.
"Pegang kedua kakinya !!" pinta dokter itu.
Arsen langsung menurut, ia memegang kedua kaki Talia hingga seorang suster mengikatnya dengan kencang, begitupun dengan kedua tangan Talia.
"Lepaskan aku dok !! kenapa aku di ikat seperti ini" pinta Talia.
"Saya suntik dulu ya, nanti saya lepaskan"
"Aku tidak mau"
Talia ingin berontak namun tenaganya kala, sebuah jarum suntik sudah menancap di pundaknya, sehingga beberapa saat kemdian Talia mulai tenang lalu memejamkan matanya.
"Apa yang terjadi pada dia dok ?" tanya Arsen yang kelelahan karena memegangi Talia.
"Sepertinya dia mengalami gangguan jiwa"
"Hah, maksud dokter gila...??"
"Belum bisa di pastikan pak, besok ada dokter yang akan memeriksanya dengan lanjut, untuk sementara biarkan pasien di ikat seperti ini, takutnya nanti berontak lagi"..
Arsen menatap kearah Talia, ia benar-benar tak menyangka kalau Talia akan mengalami hal ini. Padahal wanita itu sangat cantik dan pintar.
"Semoga kamu segera sembuh, aku kasihan padamu Lia, walau bagaimana pun kamu adalah sahabat kecilku" gumam Arsen.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
3 bulan kemudian.....
Saat ini perut Rena sudah terlihat membuncit, padahal usia kandungannya baru menginjak bulan keempat, membuat Rena heran kenapa perutnya cepat sekali membesar beda saat dia mengandung Elvan dulu.
"Ini sudah 3 bulan kepergianku, dan sampai sekarang Mas Arsen belum juga menjemputku dan Elvan. Apa sekarang Mas Arsen beneran sudah menikahi mbak Talia" gumam Rena, ia mengelus perutnya dengan lembut.
"Ya Allah aku sangat merindukan suamiku" air mata Rena menetes, tapi dengan cepat ia menghapusnya karena dari kejauhan ada Dian dan Elvan yang berjalan mendekat kearahnya.
"Mama.." teriak Elvan.
"Jangan lari-lari nak, nanti El jatuh" balas Rena.
Tapi Elvan tak peduli, ia terus berlari menuju kearah Rena. Sementara Dian menyusul di belakang Elvan.
"Ini buah pecanan Mama" ucap Elvan memberikan satu plastik buah kelengkeng.
"Makasih nak" Rena menerima buah itu dengan bahagia.
Selama ini Dian dan Elvan lah yang menuruti ngidamnya Rena, bersyukur Rena tak mengalami mual dan muntah yang terlalu parah sehingga ia kuat menjalani kehamilannya, sangat berbeda saat mengandung Elvan dulu, bahkan air putih saja tak bisa masuk.
"Ini ibu juga bawain mangga, kamu kan suka sekali buah ini" Dian mendudukan diri disamping Rena.
"Makasih ya bu, maaf kalau aku selalu merepotkan ibu"
"Sudah ibu bilang sayang, jangan sungkan ibu senang kok melakukan itu untuk kamu"
Rena tersenyum dengan tulus, begitupun dengan Dian apalagi saat Dian mengupas buah kelengkeng lalu memberikannya pada Rena. Membuat Rena begitu merasa di sayangi oleh wanita itu.
Dari kejauhan Bi Surti tersenyum, ia baru saja mengambil video lalu mengirimkannya ke kakek Raymond. Jadi kehamilan Rena tentu saja di ketahui oleh kakek Raymond.
Akan tetapi kakek Raymond tidak tau kalau disana ada Dian, ibundanya Arsen. Karena setiap kali Bi Surti mengambil Video Dian selalu membelakangi kamera.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Tuan apa sebaiknya kita menjemput nona Rena sekarang ? ini sudah tiga bulan mereka berpisah" tanya Robert.
"Iya, besok kita suruh Arsen menjemput, lagian Rena juga harus memeriksakan kehamilannya"
"Saya setuju tuan, saya juga kasihan dengan tuan Arsen yang mulai putus asa mencari istrinya"
Kakek Raymond terkekeh"dia mah bodoh orangnya"
Beberapa saat kemudian Arsen datang, ia mengerutkan dahinya saat melihat Robert sedang mengobrol dengan sang kakek.
"Kenapa kau ada disini ? akukan menyuruhmu menjaga perusahaan" ucap Arsen dengan ketus.
"Kakek ada perlu sebentar dengannya, ini dua akan balik lagi ke perusahaan" balas kakek Raymond.
"Oh ya kau dari mana ?" tanya kakek Raymond pada Arsen.
"Cari Rena kek, entah kemana lagi aku mencarinya. Ini sudah tiga bulan dia pergi"
Kakek Raymond menatap iba pada sang cucu, mungkin ia saatnya Arsen kembali bersama dengan sang istri. Sudah cukup laki-laki itu menderita karena rasa rindu.
"Besok datanglah kealamat ini" kakek Raymond menyerahkan secarik kertas pada Arsen.
"Alamat siapa ini kek ?"
"Nanti juga kamu akan tau"
"Memangnya ada apa kek ? aku kan mau mencari istriku, bukan mau senang-senang ataupun jalan-jalan"
Kakek Raymond menarik napas panjang "Makanya kau kesana dulu, menurut anak buah kakek dia pernah melihat Rena disana"
"Hah serius kek ?"
"Ya mana kakek tau, kau coba saja kesana, siapa tau memang ada"
"Baik kek, Ya Allah semoga memang istriku ada disana"
...-------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...