
Rena bahkan memundurkan langkahnya akibat terlalu syok dengan semua ini. Ia hampir saja ambruk kalau tak berpegangan pada pintu.
Sementara Talia terlihat biasa saja, ia bahkan menikmati pemandangan di depannya itu, melihat Rena terpuruk seperti ini menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Nyonya kenapa ?" tanya Marni saat melihat Rena berpegangan pada pintu rumah.
"Ya Allah nyonya" Marni membawa Rena masuk kedalam rumah, mendudukan wanita cantik itu di sofa. Marni bertambah heran dengan keadaan Rena, apalagi wanita itu tak berhenti menangis.
"Kau telepon saja Arsen" pinta Talia yang baru saja masuk.
Marni menurut, ia berjalan menuju telepon rumah. Memencet beberapa tombol kemudian meletakkan gagang telepon ke daun telinganya. Masih menunggu Arsen menjawab panggilannya.
Percobaan pertama gagal, Arsen tak menjawab panggilan tersebut, hingga akhirnya Marni kembali mengulang hal serupa.
Ia menarik napas lega saat suara Arsen terdengar.
"Halo tuan" ucapan Marni sedikit bergetar, sesekali ia menatap kearah Rena.
"Iya Bi ada apa ?"
"Bisakah tuan pulang ?"
"Kenapa memangnya ? aku baru saja sampai di kantor"
"Nyonya Tuan--"
"Ada apa dengan istriku" terdengar kepanikan di seberang sana.
"Saya tak bisa menjelaskan tuan, lebih baik anda pulang dulu, soalnya nyonya menangis terus"
"Baiklah kalau begitu, tolong jaga istriku dulu"
"Iya Tuan"
Setelah panggilan di putus oleh Arsen. Marni kembali meletakkan gagang telepon. Lalu berjalan mendekati Rena. Akan tetapi Talia mengibaskan tangannya dengan kode supaya dirinya tak usah mendekat.
Marni akhirnya menurut, ia berjalan menuju dapur walau dirinya khawatir dengan keadaan Rena.
"Sudah ku katakan dari dulu, kalau Arsen tak benar-benar mencintaimu, sekarang terbukti kan" Talia menatap Rena dengan senyum mengejek.
"Iya aku paham dan sangat mengerti, terima kasih sudah menunjukan padaku siapa laki-laki itu sebenarnya" balas Rena kemudian.
"Kau paham lah kan apa yang akan terjadi selanjutnya, Arsen tak mungkin membiarkan anak ini lahir tanpa sosok Ayah"
"Aku paham, dan aku akan meminta Mas Arsen menikahimu"
"Tapi maaf ya Rena, aku tak mau menjadi yang kedua, jadi ku harap kau mundur saja dan tinggalkan Arsen"
Rena sedikit terhenyak mendengar ucapan Talia. Air matanya semakin deras mengalir. Mungkin saja pernikahan dirinya dan Arsen hanya sampai disini.
Jika memang Arsen tak mencintainya, lalu untuk apa perhatian dan kasih sayang yang dia berikan selama ini.
Rena berdiri, ia berlari menuju kamarnya. Mencari Elvan sebentar untuk memeluk tubuh mungil anak nya itu. Ia butuh kekuatan, hatinya hancur berkeping-keping.
"Mama tenapa ?" tanya Elvan dengan polos.
"Tidak sayang, kita harus pergi dari sini"
"Tenapa ma ? El dak mau pelgi"
"Tidak apa-apa sayang, El harus ikut mama"..
"Bi" panggil Rena pada Leni yang sedari tadi menemani Elvan bermain.
"Iya Nyonya ada apa ?"
"Tolong masukan pakaian Elvan kedalam Tas"
"Memangnya kenapa nyonya ?"
"Tolong jangan banyak tanya Bi, lakukan saja apa perintahku" ucap Rena dengan tegas.
"Baik nyonya"
Selesai disana Rena menuju kamarnya, tangisnya kembali pecah saat melihat kamar itu. Bayangan tentang kebersamaan nya dengan Arsen melintas bak sebuah film. membuat perasaan Rena semakin hancur.
"Kau tega mengkhianati aku Mas, jika memang kamu tak mencintaiku selama ini, lepaskan aku seperti yang tercatat di surat perjanjian itu" gumam Rena.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Di luar rumah Arsen baru saja tiba, ia kaget melihat kehadiran Talia disana. Namun ia belum ingin marah-marah kepada wanita itu, karena di pikirannya sekarang adalaha sang istri.
Melihat Leni membawa sebuah tas dahi Arsen mengerut.
"Tas siapa itu Bi ?"
"Tas Den Elvan, tadi nyonya meminta saya membereskan barang-barang Elvan"
"Memangnya kenapa bi ?"
"Saya tidak tau Tuan"
Saat itu juga Arsen sadar kalau telah terjadi sesuatu pada istrinya.
Ia pun berlari menuju kamarnya, di bukanya pintu dengan cepat. Disana Arsen melihat sang istri baru saja memasukan pakaiannya kedalam koper.
"Sayang" panggil Arsen.
Rena mendongak, raut kebencian ia tampakan disana.
"Kamu mau kemana ? dan kenapa kamu menangis ?" tanya Arsen hendak meraih tangan Rena. Namun secepat kilat Rena menepis tangan itu.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu" teriak Rena.
"Maksud kamu apa ?"..
"Urus perpisahan kita, dan nikahi wanita itu. Kau harus bertanggung jawab atas kehamilannya"
"Kehamilan ?" tanya Arsen bodoh "Siapa yang hamil sayang ?"
Rena memiringkan sudut bibirnya "Jangan pura-pura lagi mas, aku bukan wanita bodoh yang bisa kau bohongi terus menerus." setelah mengatakan itu Rena menarik koper keluar kamar...
Arsen menyusul sang istri, ia masih mencerna apa yang di ucapkan oleh istrinya.
"Rena, please jelasin dulu apa maksud ucapan kamu ! sungguh Mas tak paham sayang"
"Sudah ku bilang jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu" lagi dan lagi Rena menepis tangan Arsen "Kalau kau minta penjelasan kenapa tak kau minta pada wanita itu"
Langka kaki Rena terhenti saat bertatapan dengan Talia, begitupun dengan Arsen. Ia menatap Talia dengan tajam.
"Arsen aku hamil, dan ini anakmu" ucap Talia.
Duaarrrr.
Bagai tersambar petir Arsen mendengar hal itu, pantas jika istrinya marah-marah ternyata ini yang terjadi.
"Hei perempuan murahan, jangan bercanda kalau bicara., kapan saya menodaimu " bentak Arsen.
"Kau lupa dengan kejadian malam itu, beruntung aku membuat video" Seperti tadi Talia kembali menyerahkan ponselnya, kali ini kepada Arsen.
Arsen melihat rekaman video itu, wajahnya langsung memucat saat menontonnya, bagaimana mungkin itu terjadi. Dirinya bermain di atas tubuh Talia tanpa mengenakan apapun.
"Sayang ini bukan aku, please percaya sama Mas" ucap Arsen lirih.
"Awalnya aku tidak mau percaya Mas, tapi video menjijikan itu sudah menjelaskan semuanya kalau kamu sudah mengkhianati aku"
"Tapi bisa jadi itu editan sayang, sumpah aku tak pernah menyentuh wanita lain selain kamu"
"Cukup mas" bentak Rena "Tolong jangan ciptakan kebohongan lagi, sekarang talak saja aku dan nikahi mbak Talia"
"Tidak akan" Arsen menggeleng "mana janji kamu Rena, katanya kamu akan selalu percaya padaku, tapi ini apa ?"
"Kepercayaan seorang istri itu ada batasnya, menurutmu apa didunia ini seorang istri masih akan percaya setelah melihat sebuah video dimana suamianya sedang melakukan hal itu" tangisan Rena kembali pecah, bayangan tentang Video dewasa yang baru beberapa saat ia tonton kembali terlintas.
"El ayo pergi nak" ajak Rena pada Elvan.
"Tunggu Rena" teriak Arsen menggema "Aku ini masih suami sahmu, dan aku tidak ridho kalau kau pergi dari rumah ini. Kau taukan apa hukuman untuk seorang istri jika suaminya tidak meridhoi langkahnya"
Saat itu juga langka kaki Rena berhenti, ia menoleh sejenak kearah sang suami.
"Aku akan menerima semua itu Mas, Allah pun tahu bagaimana perasaan ku, pernikahan kita memang harusnya tak terjadi, karena dari awal kita menikah hanya untuk sebuah perjanjian, mungkin Allah yang tak meridhoi pernikahan kita" balas Rena, wanita itu tetap saja pergi walau sang suami tak memberinya izin.
"Kau kejam sayang" gumam Arsen sedih.