Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 36



"Surat kontrak pernikahan" gumam Willi


Dengan seksama Willi membaca surat kontrak itu, ia tersenyum puas saat mengetahui isinya.


"Benar dugaan ku selama ini, kalau pernikahan Arsen dan Rena ada sesuatu" kembali laki-laki itu bergumam.


"Talia" panggil Willi.


"Iya paman" jawab Talia dan langsung mendekati Willi.


"Kau baca ini"


"Apa ini paman ?"


"Makanya kau baca dulu, dengan surat ini kita bisa menghancurkan Arsen"


Talia mengambil berkas itu, ia membaca isinya dengan seksama.


"Jadi Arsen dan Rena hanya menikah kontrak, dan mereka akan bercerai kalau Arsen sudah memiliki perusahaan ini"


Senyum Willi kembali mengembang, ia banar-benar puas dengan hasil pencariannya malam ini, dari dulu memang Willi sudah merasa curiga dengan pernikahan Arsen dan Rena. Dan akhirnya kecurigaan nya benar.


"Besok surat itu akan aku berikan pada Ayah. Kita akan menyaksikan bagaimana Arsen akan menerima imbasnya"


Talia bertepuk tangan sembari tertawa dengan kencang "Rasanya aku sudah gak sabar paman, aku ingin cepat-cepat melihat Arsen hancur"


"Kita sama saja"


"Kalau begitu ayo kita pergi sebelum ada yang melihat kita" ajak Talia kemudian


Willi mengangguk, keduanya langsung meninggalkan ruangan Arsen yang sudah berantakan.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Di rumah Arsen....


Entah kenapa perasaan Arsen tak tenang malam ini, ia merasa ada sesuatu yang terjadi, namun sayangnya Arsen tak bisa menebak semua itu.


Di lihatnya sang istri sudah tertidur cukup pulas, Arsen bangkit kemudian berjalan menuju balkon kamar. Berharap dengan menikmati angin malam Arsen akan merasa tenang.


"Ada apa ini ? tak biasanya aku gelisa seperti ini" gumamnya heran.


Berulang kali Arsen menarik napas panjang, kedua tangannya ia letakkan di kedua saku celana. Baju kaos oblong berwarna putih yang ia kenakan tertiup angin malam.


Di atas ranjang Rena merabah tempat tidur di sampingnya, merasakan kalau tempat itu kosong dengan segera Rena membuka matanya.


"Mas Arsen kemana" tanyanya pada diri sendiri.


Mata Rena menyapu setiap sudut ruangan, hingga ia melihat pintu balkon terbuka membuat Rena yakin kalau suaminya sedang ada disana.


Rena mencari hijabnya, dan langsung memakainya setelah mendapatkan benda itu. Ia turun dari tempat tidur kemudian menyusul suaminya.


"Mas" panggil Rena dengan suara lembut.


Arsen menoleh "Kenapa bangun ? ini masih malam" tanya Arsen.


"Aku nyariin Mas, kenapa mas ada disini" kali ini Rena mendekat, ia berdiri di samping tubuh suaminya.


"Aku tak bisa tidur Ren, entahlah apa yang ada di pikiranku, tapi rasanya ada sesuatu yang akan terjadi"


"Jangan berburuk sangka dulu Mas, serahkan semuanya pada Allah !!.. perbanyak istighfar pasti pikiran Mas akan tenang lagi"


Arsen mendengarkan ucapan istrinya, ia menggenggam tangan Rena dengan erat. Saat merasa kalau tangan istrinya kedinginan Arsen langsung memeluk Rena dari arah belakang.


"Mas lepasin ih ! nanti ada yang lihat"


"Biarkan seperti ini sebentar sayang ! dan tidak akan ada yang melihat"


Rena merasa geli mendengar ucapan suaminya yang begitu dekat dengan telinganya, namun lama kelamaan Rena menikmati pelukan Arsen. Hembusan angin malam yang menerpa menambah kesan romantis pada kedua insan itu.


"Ren"


"Iya"


"Maukah kau berjanji padaku ?"


"Janji apa Mas ?".


"Berjanji untuk jangan meninggalkan aku apapun yang terjadi"


Rena tersenyum walau tak bisa di lihat oleh Arsen "Insya Allah Mas, aku akan selalu ada untuk Mas Arsen"


"Dasar mesum" ujar Rena.


Tanpa aba-aba Arsen langsung mengangkat tubuh Rena lalu membawanya ke kamar, ia menidurkan Rena dengan sangat pelan.


Sekarang posisi Arsen tepat di atas tubuh Rena. Keduanya saling pandang. Manik mata Arsen menelusuri wajah sang istri dengan seksama.


"Sayang" panggil Arsen dengan suara serak.


"Iya Mas"


"Bolehkan malam ini aku meminta hak ku sebagai suami"


Rena berpikir sejenak, kemudian menganggukan kepalanya. Ia tak perlu ragu lagi untuk memberikan tubuhnya pada Arsen, karena laki-laki itu sudah benar-benar berubah dan Rena sendiri merasakannya.


Perlahan wajah Arsen mendekat, Bibir Arsen berada tepat di atas bibir Rena. Dengan gerakan pelan Arsen memulai permainannnya, sementara Rena langsung menutup matanya.


"Emmmmmmm" gumam Rena dengan suara tertahan.


Mendengar gumaman itu tentu saja membuat gejolak hasrat di diri Arsen semakin menggebu, ia pun semakin menyerang tubuh Rena sehingga membuat wanita itu menggeliyat tak karuan.


"Aaaahhhhhh" tiba-tiba Rena mendesah panjang saat Arsen menelusuri leher jenjangnya.


"Aku suka suaramu sayang" bisik Arsen.


Kini keduanya sudah sama-sama polos, entah sejak kapan Arsen melepaskan pakaian Rena.


"Mas pakai selimut" ucap Rena kemudian.


"Kenapa ?"


"Di agama kita tidak boleh melakukan hubungan suami istri tanpa penutup sedikitpun" jelas Rena.


Dengan cepat Arsen menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya, Kedua pa ha Rena di buka sangat lebar agar benda tumpul milik Arsen bisa masuk dengan nyaman.


"Awwww... Sakit Mas" rintih Rena saat benda tumpul itu hendak masuk kedalam lu bang miliknya.


"Kenapa sempit sekali sayang, bukankah kau sudah pernah melakukannya" gumam Arsen namun tak di hiraukan oleh Rena.


Mungkin karena miliknya sudah lama tak terpakai makanya kembali sempit seperti ini, Rena mencengkram seprai dengan kuat, kepalanya terbating kekiri dan kekanan saat rasa sakit itu begitu ia rasakan.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Akhirnya sampai juga" ucap Willi setelah membuka pintu rumah.


"Aku mau ganti pakaian dulu paman, ini gerah sekali" Talia langsung meninggalkan Willi menuju kamarnya. Sementara Willi duduk di sofa sembari membuka berkas yang ia bawa tadi.


Tawanya menggelegar memenuhi seisi ruangan, ia berharap hari akan segera berganti.


"Kau akan segera merasakan kehancuran mu Arsen" gumam Willi.


"Ah rasanya sudah tak sabar menunggu hari esok, bagaimana ya tanggapan Ayah soal surat kontrak ini"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Terima kasih sayang" bisik Arsen setelah keduanya melakukan hubungan suami istri.


Rena menganggukan kepalanya, tenaganya terkuras habis. Arsen cukup lihai dalam permainanya membuat Rena harus mengimbangi semua itu.


Arsen menarik kepala Rena, ia menidurkan Rena di lengannya. Tak cukup waktu yang lama Rena sudah tertidur sangat pulas.


"Ternyata begini rasanya" gumam Arsen yang kembali membayangkan permainan mereka tadi.


"Nikmat banget ternyata, kenapa aku jadi ingin lagi"


Ia menoleh kearah sang istri, rasanya akan sangat kasihan jika kembali membangunkan Rena untuk menuruti permintaannya.


"Jam berapa sekarang" segera Arsen melihat ponselnya, sudah pukul 12 malam.


"Aku biarkan saja Rena tidur sekarang, nanti aku akan membangunkan nya jam 03 pagi."


Tanpa pikir panjang Arsen membuat jam Alarm di ponselnya, laki-laki itu benar-benar belum merasa puas sekarang. Bisa-bisanya Arsen membuat jam Alarm untuk kembali bermain bersama sang istri.


---


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...