
Kakek Raymond dan Arsen saling berdiam diri, tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Hingga seseorang datang setelah sebelumnya mengetok pintu dahulu.
"Maaf Tuan, saya mau mengantarkan minuman" ucap OB yang membawa dua gelas teh hangat untuk Arsen dan Kakek Raymond.
"Letakkan di meja, lalu keluarlah !!" balas Arsen singkat.
OB itu hanya mengangguk, kemudian dengan cepat melakukan tugasnya. Tak ingin Arsen marah-marah dan akan berimbas dengan pekerjaannya.
"Bagaimana kabar rumah tanggamu" tanya Kakek Raymond setelah OB tadi keluar, kali ini Kakek Raymond membuka pembicaraan terdahulu.
"Baik-baik saja Kek, memangnya kenapa ?"
"Tidak ada, dan apa sudah ada tanda-tanda Rena mengandung keturunanmu ?"
Uhhuuuuukkkk.
Arsen tersedak air liur nya sendiri, pertanyaan sang Kakek begitu sulit untuk ia jawab. Bagaimana mungkin Rena akan mengandung anaknya, sementara keduanya belum pernah melakukan hubungan suami istri.
Untuk mengusir rasa gugupnya akan pertanyaan itu, Arsen langsung mengambil tehnya dan langsung meminumnya.
"Arsen kau dengar kan apa pertanyaan Kakek ?"
"Dengar kek" balas Arsen kemudian meletakkan gelasnya ke atas meja "Apa tidak ada pertanyaan lain selain itu kek ?"
"Memangnya kenapa ? apa pertanyaan kakek ada yang salah ?"
"Tidak ada kek, hanya saja Arsen bingung mau jawab apa ?"
Kening Kakek Raymond membentuk lipatan "Bingung kenapa ? katanya kau dan Rena baik-baik saja"
Arsen semakin tersudutkan, ia tak boleh gegabah dalam menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Kakek Raymond, karena bisa jadi Kakek Raymond sedang mencari sesuatu tentang pernikahannya dengan Rena.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di Rumah Arsen......
Robert baru saja tiba, setelah mematikan mesin mobil ia langsung keluar dan menuju dimana Rena berada. Rasanya Robert sudah tak sabar untuk mencari tau siapa laki-laki yang bernama Rizal itu.
"Dimana Nona Rena ?" tanya Robert pada Leni yang saat itu sedang mengepel lantai.
"Nyonya ada di halaman samping Tuan, sedang menanam bunga" jawab Leni kemudian.
Tanpa bertanya lagi Robert langsung menuju halaman samping, disana ia melihat perempuan cantik yang berbalut gamis Syar'i lengkap dengan hijabnya, sedang menyiram tanaman.
"Selamat pagi menjelang siang Nona Rena" sapa Robert membuat Rena kaget dan reflek menoleh.
"Tuan Robert" gumam Rena kemudian meletakkan penyiram tanaman lalu berjalan mendekati Robert "Ada apa tuan datang kemari ?" tanya Rena heran, walau di hatinya sudah menduga kalau laki-laki itu pasti sedang ingin menanyakan sesuatu.
"Ada yang ingin saya tanyakan kepada anda Nona"
Benar kan pirasat Rena, sesaat Rena langsung kepikiran tentang pernikahannya dengan Arsen, apa mungkin Robert akan menanyakan tentang pernikahanya dengan Arsen.
Entahlah, Rena tak ingin menebak terlalu lebih. Ia cukup mendengarkan apa yang akan di tanyakan laki-laki berjas dihadapannya itu.
"Ada apa ya Tuan ?"
"Lebih baik, kita mencari tempat duduk dulu Nona"
Rena mengangguk, ia langsung menyediakan dua buah kursi untuknya dan Robert. Walau disana ada kursi panjang namun Rena memilih mencari kursi lagi, ia tak ingin terlalu berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
"Sebelumnya saya mohon maaf nona kalau pertanyaan saya ini akan membuat anda marah" Robert mulai membuka pembicaraan.
"Iya Tuan, silahkan tanyakan apa yang ingin Tuan tanyakan, insya Allah saya akan menjawabnya jika saya bisa"
"Baiklah, yang ingin saya tanyakan siapa laki-laki yang bernama Rizal ?"
Rena langsung kebingungan, untuk apa Robert menanyakan almarhum suaminya ?. Apa Rizal mengenal Robert atau sebaliknya..
"Kenapa anda menanyakan almarhum suami saya tuan ? apa kalian saling mengenal ?"
"What ??" ucap Robert kaget "Jadi Rizal itu ayahnya Elvan anak anda ? dan dia sudah tiada ?" tanya Robert bertubi-tubi.
Tentu saja Rena menjawab dengan anggukan berulang kali, karena memang itulah kenyataannya, Rizal adalah Ayahnya Elvan sekaligus suaminya yang telah tiada..
"Tuan, tolong jelaskan ada apa anda menanyakan almarhum suami saya ?"
"Tidak ada nona, saya hanya menjalankan tugas"
"Tugas ?, dari siapa ?"
"Dari suami anda tuan Arsen, semalam katanya anda bermimpi dan menyebut nama Rizal, makanya Tuan Arsen menyuruh saya mencari laki-laki yang bernama Riza itu" Akhirnya Robert membuka semuanya, ia ingin melihat reaksi Rena.
"Astaga. Kok aku gak sadar ya ?? apa karena ini Mas Arsen marah-marah pagi tadi ?" gumam Rena namun masih bisa di dengar jelas oleh Robert.
"Baiklah kalau begitu saya mau pamit Nona"
Sebelum menerima jawaban dari Rena, Riobert sudah beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Rena sendiri. Rupanya wanita itu sedang melamun dan memikirkan Arsen.
Mungkinkah Arsen cemburu ?
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di rumah Willi.
Setelah melakukan kegiatan panas mereka, Talia tertidur dengan sangat pulas. Sementara Willi menyelimuti tubuh polos Talia.
"Terima kasih sayang sudah membuat aku puas, bahkan benar-benar puas" gumam Willi lalu mendaratkan sebuah kecu pan di kening Talia.
Perempuan yang barusan bermain di bawah tubuhnya tak terganggu sedikitpun. Membuat Willi tersenyum kemudian benar-benar beranjak meninggalkan Talia.
Willi mengambil bungkus rokoknya, lalu membawanya ke balkon kamar, ia ingin menikmati sensasi dari rokok yang sebentar lagi akan mengepulkan asapnya, serta meregangkan otot-ototnya yang terasa lelah akibat permainanya bersama Talia.
"Huuu" Willi menghembuskan asap rokoknya, sehingga asap berwarna putih mengepul di depan wajahnya.
"Aku pasti bisa membalas kamu Arsen, lihat saja nanti, akan ku buat kau hancur sehancur hancurnya".
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di perusahaan Arsen...
Kakek Raymond baru saja meninggalkan kantor, membuat Arsen bisa bernafas legah, karena akan terhindar dari pertanyaan sang Kakek.
Tak berapa lama Robert datang.
"Bagaimana apa kau sudah menjalankan tugasmu ?" tanya Arsen langsung, tak peduli kalau Robert baru saja tiba.
Robert duduk di hadapan Arsen "Sudah tuan, saya sudah tau siapa itu Rizal" jawab Robert.
"Lalu dimana laki-laki itu, kenapa tak kau bawa kehadapanku ? bukankah sudah ku katakan kalau kau harus membawanya kehadapanku ?"
Sebisa mungkin Robert menahan tawanya, bagaimana bisa ia akan membawa Rizal kehadapannya, sementara mungkin saja Rizal sudah menyatu dengan tanah alisan sudah hancur.
"Hei kau dengar kan apa pertanyaan ku ?" bentak Arsen kesal.
"Dengar tuan"
"Lalu dimana si Rizal itu ? saya ingin tau seperti apa dia, kenapa bisa Rena sampai memimpikan dia"
"Tuan anda ini sedang cemburu buta, hanya saja anda terlalu sulit untuk mengakui semuanya, lama-lama kenapa aku kesal sendiri ya dengan sikapnya Tuan Arsen" batin Robert yang sudah merasa kesal akibat Arsen terlalu gengsi.
"Robert" panggil Arsen kemudian.
"Dia tidak bisa menemui anda tuan, tapi tuan bisa menemuinya" jelas Robert langsung.
"Maksudmu ?"
"Nanti tuan akan tau sendiri, saya akan membawa tuan kehadapanya ?"
"Ciiih, memangnya dia siapa sampai harus aku yang menemuinya" cetus Arsen kesal.
--
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...