Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 27



Pagi ini kemarahan Arsen benar-benar memuncak, masalah mimpi Rena semalam belum usai di tambah dengan kedatangan Talia yang membuat mood Arsen benar-benar anjlok.


Arsen menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya, sementara Robert di tugaskan untuk mengusir Talia.


Tak berapa lama Robert pun menyusul, laki-laki itu langsung duduk di hadapan Arsen.


"Apa kau sudah mengusir wanita itu ?" tanya Arsen dengan tatapan dinginnya.


"Sudah tuan, bahkan saya sudah mengingatkan security agar tak membiarkan nona Talia masuk kesini lagi"


"Bagus, dan sekarang aku ada tugas untukmu"


"Apa itu Tuan ?"


"Cari seseorang yang bernama Rizal !!" pinta Arsen yang kembali mengingat kejadian semalam, begitu membuatnya kesal dan marah.


Kening Robert berlipat tanda kalau laki-laki itu kebingungan, pasalnya ia belum pernah mendengar nama itu.


"Maaf tuan kalau saya lancang, dimana saya harus mencarinya ?"


"Bodoh !!" Arsen langsung melemparkan map kearah Robert, beruntung laki-laki itu bisa mengelak. "Ya kau cari kemana saja, yang penting bawa laki-laki itu kehadapan saya !" pinta Arsen dengan tegas.


"Ba--ik Tuan" jawab Robert gugup dan langsung berdiri dari hadapan Arsen.


Sebelum Robert melangkahkan kakinya, suara Arsen kembali terdengar.


"Kalau kau bisa menemukan siapa laki-laki itu, akan ku beri kau bonus yang banyak bulan ini"


Robert hanya menganggukan kepalanya, baginya bukan masalah bonus melainkan siapa orang yang harus ia cari, bagaimana ciri-cirinya ? dan kemana ia harus bertanya ?..


Setelah itu Robert pergi dari ruangan Arsen.


"Bisa-bisanya Rena menyebut nama laki-laki lain, di hadapan suaminya sendiri" gerutu Arsen kesal.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Sial, Arsen keterlaluan sampai mengusir aku seperti ini" ucap Talia marah-marah.


Paman Willi yang baru saja terbangun dari tidurnya mengernyit bingung mendengar Talia marah-marah. Ia langsung mendekat untuk menanyakan kenapa Talia marah.


"Ada apa Talia ?" tanya Paman Willi.


"Aku kesal paman, tadi aku datang ke kantor nya Arsen tapi malah di usir dan di permalukan" jelas Talia .


Paman Willi menatap wajah Talia, ia mengerti akan perasaan wanita cantik itu.


"Kamu harus sabar, dan usaha lagi. Paman yakin suatu hari nanti Arsen akan takluk padamu" ucap paman Willi, ia mengelus pundak Talia dengan lembut.


Talia menoleh, mata keduanya saling memandang, ada gejolak aneh yang keduanya rasakan. Perlahan namun pasti wajah paman Willi semakin mendekat, bukan nya menghindar Talia justru memejamkan matanya.


Saat benda kenyal milik paman Willi menempel tepat di bibirnya, Talia justru mencengkram pinggang Willi dengan kuat. Keduanya bermain dan melupakan apa yang sudah terjadi.


"Sa--yang" Willi memanggil Talia di sela-sela kegiatan mereka.


"Kau sangat cantik hari ini"


Talia tersenyum, bagi wanita seperti Talia pujian seperti itu sudah biasa ia dengar, dan Talia begitu paham mengarah kemana pikiran laki-laki itu.


Willi memang sudah berumur, usianya sudah 35 tahun. Namun ketampanan Willi masih begitu nyata sehingga Talia sedikit tergoda akan hal itu.


Begitupun dengan Willi, melihat bentuk tubuh Talia yang begitu mempesona, selalu berhasil membuat dirinya tergejolak oleh hasrat terlarang.


"Apa kau bersedia melayani ku sayang ?" bisik Willi dengan suara sensual.


"Lakukanlah !! aku akan membuat pamam puas hari ini" balas Talia sembari tersenyum.


Mendengar hal itu Willi dengan semangat membawa Talia kekamar, Willi menidurkan Talia di atas ranjang dengan perlahan.


"Mari kita nikmati pagi ini dengan penuh keindahan!"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sementara itu Robert sedang uring-uringan untuk mencari sosok seorang Rizal, bagaimana bisa ia menemukan laki-laki itu sementara fotonya saja ia tak punya.


"Aaiiiissss.... Tuan Arsen kenapa membuatku bingung seperti ini sih"


Robert mengusap kepalanya dengan kasar, bahkan sesekali ia menarik nafas panjang.


"Memangnya siapa sih Rizal itu, dan ada hubungan apa dengan tuan Arsen" tanyanya pada diri sendiri.


Di saat dirinya sedang menggerutu penuh dengan kekesalan, tiba-tiba ponselnya berdering , tertera nama Arsen disana.


"Bagaimana ? apa kau sudah menemukan laki-laki itu ?"


Oh ayolah Arsen, apa kau tak kasihan dengan Robert yang sudah bingung untuk mencari Rizal.


"Maaf Tuan saya belum menemukan orang itu ?" jawab Robert jujur.


"Masa iya kau tak bisa menemukan orangnya, katanya kau ini pintar sekali menjadi detektif"


"Sekali lagi maaf Tuan, saya bingung mau mencarinya dimana, soalnya foto nya saja saya tidak punya, lagian yang namanya Rizal banyak tuan di Jakarta ini"


Terdengar deru nafas panjang dari Arsen "Kau tanya saja sama Rena, siapa laki-laki yang bernama Rizal itu."


"Memangnya Nona Rena kenal Tuan ?"


"Pasti dia kenal karena semalam saat dia tidur, Rena memimpikan laki-laki itu, mana pakai manggil Mas lagi"


Rasanya Robert ingin sekali tertawa terbahak-bahak, sekarang ia tahu letak permasalahannya sekarang.


"Apa anda sedang cemburu Tuan ?"


"Cemburu ?? Ciiih buat apa aku cemburu pada wanita itu. Menjijikan ! udah sana kau lakukan saja tugasmu !"..


Tttuuuuuuutt.


Panggilan langsung terputus secara sepihak, siapa lagi pelakunya kalau bukan Arsen. Namun dengan putusnya panggilan telefon membuat Robert bisa tertawa dengan lantang.


"Anda belum menyadari saja tuan kalau anda menyukai nona Rena, gengsi anda masih terlalu besar" gumam Robert.


Sekarang tak perlu bertanya lagi, Robert langsung melajukan mobilnya menuju rumah Arsen, ia ingin segera bertemu dengan Rena untuk menanyakan siapa laki-laki yang bernama Rizal.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Ciiih, bisa-bisanya Robert mengatakan kalau aku cemburu pada Rena"


"Aku itu bukan cemburu tapi pengen tau aja siapa Rizal"


Arsen masih saja menyangkal akan perasaannya, padahal dia sendir yang tak suka kalau Rena menyebut nama Rizal semalam.


"Sialan, gara-gara Rizal aku sampai tak konsen bekerja" cetus Arsen dengan geram.


Tok--Tok--Tok.


Tiba-tiba pintu ruangan Arsen di ketok, laki-laki itu hanya melirik sebentar kemudian mengatakan.


"Masuk !!" pintanya kemudian.


Ceklek.


Pintu ruangan terbuka.


"Ada apa ?" tanya Arsen seolah sedang sibuk dengan pekerjaan nya.


"Maaf Tuan ada kakek anda yang ingin bertemu"


Mendengar hal itu Arsen langsung kaget "Kakek ?"


"Iya Tuan kakek anda" jelas Jasmin lagi.


"Mau apa kakek kesini ?" batin Arsen kemudian.


"Biarkan dia masuk !!" pinta Arsen yang langsung di angguki oleh Jasmin.


Tidak berapa lama Kakek Raymond masuk keruangan Arsen, Pria paruh baya itu langsung melangka menuju sofa kemudian mendudukan diri disana. Sementara Arsen mengikuti sang Kakek.


"Tumben kakek datang kesini ?" tanya Arsen setelah duduk di hadapan Kakek Raymond.


"Ada apa kek ?" tanya Arsen lagi.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin melihat saja pekerjaan mu" jawab Kakek Raymond.


"*Jangan sampai Kakek Raymond tau kalau aku menyuruh Robert mencari tau siapa Rizal"


.


--


...LIKE DAN KOMEN ...


...ADD FAVORIT*...