Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 29



"Ciiih, memangnya dia siapa sampai harus aku yang menemuinya" cetus Arsen kesal.


Robert kembali menahan tawanya, ia benar-benar ingin segera membawa Arsen kemakam Rizal, supaya laki-laki itu tau siapa Rizal sebenarnya.


"Robert" panggil Arsen kemudian


"Iya Tuan"


"Kali ini aku akan bermurah hati, jadi kau antarkan aku ke tempat dimana Rizal itu berada"


"Baik Tuan, kapan anda siap menemuinya"


"Ya sekarang lah masa tahun depan" jawab Arsen kesal.


"Baiklah tuan, mari saya antar kesana"


Kedua laki-laki berjas itu berdiri kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Di luar ruangan Jasmin menatap kearah Arsen dengan tatapan seksama. Ingin sekali wanita itu menjadi kekasih Arsen.


"Tuan" panggil Jasmin dengan suara lantang, membuat langkah kaki Arsen dan Robert berhenti.


"Ada apa ?" bukan Arsen yang bertanya melainkan Robert.


"Kalian mau kemana ?"


"Memangnya perlu kami menyampaikan padamu hendak kemana ?.. Sana kerjakan saja tugasmu !" sahut Arsen dengan suara dinginnya.


Nyali Jasmin langsung menciut mendengar suara Arsen. Selama ini Jasmin sudah melakukan berbagai cara untuk menaklukan pria dingin itu namun sampai sekarang Arsen tak sedikitpun meliriknya.


Langkah kaki Arsen dan Robert kembali, meninggalkan Jasmin yang hanya bisa menatap punggung Arsen dengan seksama.


"Tuan Arsen kapan kau akan menjadi milikku ? tak bisa kubayangkan tubuhmu bermain di atas tubuhku" gumam Jasmin sembari membayangkan hal yang tidak-tidak.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Di rumah Arsen.....


Rena masih berdiam diri, ia masih mencerna penjelasan Robert tentang Arsen yang menyuruhnya mencari tau siapa Rizal.


"Jadi selama ini Mas Arsen gak tau siapa almarhum suamiku" gumam Rena dengan lirih.


Bayangan tentang sosok Rizal kembali melintas, membuat genangan air mata di pelupuk matanya. Andai Rizal tak pernah pergi mungkin saja saat ini Rena tak akan mengalami situasi yang sulit.


Haaaaa...


Rena kembali menarik nafas panjang, setiap kali mengingat masalah Rizal, hidupnya seakan terhimpit batu besar. Begitu menyakitkan dan menyesakan.


"Mama" tiba-tiba panggilan anak kecil membuat Rena tersadar, ia segera menoleh lalu tersenyum kearah putra kesayangan nya itu.


"Ada apa El ?" tanya Rena.


"Mau main Ma"


Senyum Rena semakin mengembang, ia memang belum menemani putrnya itu bermain. Karena sedari tadi ia sibuk menanam bunga dan menyiramnya, di tambah dengan kedatangan Robert tadi.


"Yuk, Mama temenin... Memangnya El mau mainan apa ?" kali ini Rena mulai beranjak, ia mendekati Elvan yang sudah membawa mainan.


"Main kapal-kapalan Ma" jawab Elvan sembari mengangkat sebuah kapal laut mainan.


"Kita bikin kolam nya dulu kalau gitu" Rena hendak kedapur untuk mengambil sebuah baskom berukuran besar untuk di jadikan alat bermain.


"Tidak usah Ma" cegah Elvan kemudian.


"Loh kenapa ?"


Elvan justru menunjuk sebuah kolam renang di rumah itu, tak perlu bertanya lagi Rena sudah tau apa yang sedang di pikirkan anak nya itu.


"Tapi Mama gak bisa berenang nak, nanti kalau mainannya ke tengah siapa yang mau ngambil"


Mendengar hal itu Elvan langsung menangis, bocah laki-laki itu memang tak suka jika keinginannya di tolak, apalagi dengan Rena. Karena selama ini Rena selalu menuruti keinginannya, apalagi saat mereka tinggal dengan Arsen. Hampir setiap minggu Elvan akan mendapatkan mainan baru dari Rena.


Rena mendesa frustasi, ia bingung harus bagaimana. Bukan tak ingin menuruti keinginan Elvan, hanya saja Rena tak bisa berenang.


"Mau kecana Mama"


"Mau kecana" Rengek Elvan berulang kali.


Karena tak tega akhirnya Rena menuruti keinginan Elvan, ia hanya bisa mencari akal supaya mainan yang akan mereka mainkan tak akan ketengah kolam.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Di Pemakaman.


Arsen benar-benar terkejut karena Robert membawanya kesebuah pemakaman, dan sialnya lagi saat Arsen bertanya, Robert hanya diam saja.


"Hei kita ini mau kemana ?"


"Bukankah kau mengatakan kalau akan membawa ku menemui Rizal ?"


Ucapan Arsen langsung terhenti tepat saat Robert menghentikan langkahnya di hadapan pusara dimana tertulis nama Muhammad Rizal.


"Robert" panggil Arsen tanpa mengalihkan tatapan matanya.


"Ini Rizal yang anda cari Tuan, dia adalah almarhum suami nona Rena" jelas Robert langsung


Arsen tak menjawab, laki-laki itu malah berjongkok dengan mata yang tetap lurus menatap nama yang tertulis di batu nisan itu.


Makam Rizal sangat bersih dan rapih, berbeda dengan yang lain. Dan Arsen yakin kalau Rena lah yang merawatnya.


"Tinggalkan aku sendiri" perintah Arsen kemudian "Kau tunggu saja di mobil" lanjutnya.


Robert menurut ia meninggalkan Arsen disana. Setelah kepergian Robert, Arsen menundukan kepalanya.


"Jadi semalam kau yang datang ke mimpinya Rena ?"


"Ada apa ? apa kau merindukan Rena ?"


"Jangan khawatir dia akan baik-baik saja bersamaku, aku akan menjaga Rena dan Elvan dengan baik, tak akan aku biarkan siapapun menyakiti mereka"


"Aku Arsenio Raymond, suaminya Rena sekarang. Jujur aku marah karena semalam Rena menyebut namamu, dan itu membuatku penasaran seperti apa dirimu menyayangi Rena dulu, hingga setelah kau meninggalkan nya terlalu lama, Rena masih menyimpan namamu"


Suara hati Arsen hanya dirinya yang tau, andai Robert ataupun Rena sendiri yang mendengar, entahlah apa yang akan terjadi.


Tangan Arsen mengelus batu nisan itu "Aku pamit, semoga kau tenang disana" Setelah mengatakan itu Arsen langsung meninggalkan area pemakaman dan menuju mobil.


Robert langsung membukakan pintu mobil untuk tuanya "Langsung pulang !" ucap Arsen dingin.


"Baik Tuan"


Selama di perjalanan pulang, Arsen lebih banyak diam tak seperti saat berangkat tadi, dan itu membuat Robert heran.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Kembali kerumah Arsen....


"Yeeeeeiiiiiii" Elvan terus bertepuk tangan saat sebuah kapal mainan berada di atas air itu berjalan dengan pelan.


"Jangan dekat-dekat airnya Nak, nanti jatuh"


"Iya Ma"


Lama kelamaan mainan itu menuju ketengah kolam, membuat Rena kebingungan. Tapi ia bisa bernafas legah karena mainan itu kembali kepinggiran, namun setelah beberapa saat kapal mainan itu berhenti tepat di tengah kolam.


"Mama belhenti" tunjuk Elvan


"El jangan dekat-dekat, biar Mama yang ambil"


Rena mendekat, walau hatinya begitu was-was. Rena mencari sebuah alat pengait untuk mengambil mainan itu, saat akan mengambilnya karena pinggir kolam yang terasa licin kaki Rena terpelet sehingga membuat Rena jatuh kedalam kolam.


"Mama"


"Mama"


"Mama"


Berulang kali Elvan meneriaki sang Mama yang sekarang sedang berusaha menuju pinggiran kolam, namun karena tak bisa berenang Rena akhirnya tenggelam.


"Mama"


"Mama"


Marni yang mendengar suara tangisan Elvan langsung berlari, ia begitu kaget melihat Rena sudah tenggelam.


"Astaghfirullah nyonya" pekik Marni kaget.


Arsen dan Robert baru saja tiba di rumah, kedua laki-laki itu kaget mendengar suara Marni di tambah dengan tangisan Elvan yang kencang. Dengan cepat Arsen berlari menuju sumber suara.


"Astaga Rena" pekik Arsen kaget.


-----


...LIKE DAN KOMEN ...


...ADD FAVORIT...