Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 43



Jika Rena sedang menikmati keindahan kamarnya. Berbeda dengan Arsen yang terlihat obrolan serius bersama Pak Saiful.


Kedua tangan Arsen ia masukkan kedalam saku celana, mendengarkan dengan jelas apa saja yang di katakan oleh laki-laki paruh baya itu.


"Terus bagaimana masalah tanaman buah dan sayur, apa masih lancar ?" tanya Arsen.


"Iya tuan, sebentar lagi sayuran akan segera panen sementara buah-buahan sesuai yang tuan minta kemaren kami tak memanennya karena istri Tuan akan datang"


Arsen mengangguk, ia memang menyuruh pak Saiful untuk jangan memanen buah-buahan. Ia ingin membuat Rena betah dan merasa bahagia saat di ajak liburan.


"Jika istri saya bertanya ini Villa milik siapa, katakan saja ini punya teman saya"


"Baik Tuan"


Sebelum beranjak pergi, Arsen menepuk pundak pak Saiful "Terima kasih atas bantuan nya selama ini Pak, berkat bapak tanah ini bisa di manfaatkan"


"Sama-sama Tuan, justru saya dan istri saya yang berterima kasih. Karena berkat tuan saya dan istri bisa memiliki tempat tinggal. Jika dulu Tuan tak membawa kami mungkin sampai saat ini kami masih luntang-lantung di jalanan" Terdengar helaan napas panjang dari pak Saiful, ia mengingat bagaimana kehidupan nya dulu sebelum Arsen membawanya ke Villa. Setiap malam ia dan istri akan berpindah tempat tidur.


"Ya sudah saya mau melihat istri saya dulu"


"Silahkan Tuan"


Arsen pun berlalu, ia melangkahkan kakinya menuju kamar.


Ceklek.


Perlahan namun pasti pintu kamar ia buka, senyumnya langsung mengembang saat melihat sang istri yang sedang menatap keluar jendela.


"Sayang" panggil Arsen dengan suara lembut.


"Hemmmm" jawab Rena.


Kedua tangan Arsen ia lingkarkan di perut Rena. Wangi tubuh Rena menjadi kenyamanan tersendiri untuknya.


"Bagaimana apa kau suka tempat ini ?"


"Iya Mas, aku menyukainya. Kapan-kapan aku mau mengajak Elvan kesini. Dia pasti akan senang melihat tumbuhan buah seperti itu"


"Boleh, nanti kita ajak El, dan kakek juga"


Rena membalikan tubuhnya, sehingga berhadapan dengan Arsen. Kedua matanya menatap manik mata sang suami dengan lekat.


"Terima kasih ya mas, sudah menerima aku apa adanya" ucap Rena


"Jangan bilang makasih, harusnya aku yang bersyukur punya kamu. Karena setelah kamu ada disisiku aku seperti menemukan kehidupan baru" Balas Arsen tersenyum, ia membelai pipi mulus sang istri dengan lembut.


"Tapi disini akulah yang paling beruntung Mas, aku hanya wanita biasa bahkan sudah menjanda lagi. Dan Allah memberi aku jodoh lagi yaitu kamu"


Lagi dan lagi Arsen menatap istrinya dengan senyuman. Mungkin Rena beruntung memilikinya, tapi sebenarnya Arsen lah yang beruntung. Karena semenjak ada Rena ia bisa menguba kehidupannya.


"Kamu tidak lelah ?" tanya Arsen.


"Tadi sih lelah, tapi sekarang udah enggak. Memangnya kenapa ?"


"Jangan tanya kenapa lagi sayang, kita kesini untuk bulan madu. Jadi mari kita nikmati semuanya"


Segera Arsen mengangkat tubuh Rena dan naik keatas ranjang. Rena terkekeh akan kelakuan sang suami ia tak akan menolak karena memang sudah seharusnya ia melayani sang suami.


"Mas kunci dulu pintunya, dan jangan lupa tutup hordengnya" perintah Rena, ia tak ingin kegiatannya bersama Arsen ada yang melihat.


"Baik sayang" Arsen beranjak dari atas tubuh Rena, ia mengunci pintu lalu menutup hordeng sesuai yang Rena katakan.


"Sekarang apalagi sayang ?"


"Tidak ada, ayo kemari"


(Ok Skip ya.. lagi puasa.!!! 😁😁😁😁😁)


\=


\=


Setelah melakukan adegan panas, Rena tidur di atas dada Arsen. Tubuhnya terasa remuk semua akibat permainan sang suami.


Dengan gerakan lembut Arsen membelai rambut istrinya. Keduanya masih sama-sama polos. Sesekali Arsen mencium puncak kepala Rena.


"Aku sangat lelah Mas" ucap Rena dengan suara serak.


"Tidurlah, aku akan menjagamu"


"Tenang saja, ada aku yang akan membangunkannya, kita akan melaksanakan sholat bersama"


Kedua manik mata Rena mengerjap beberapa kali, saat mendengar ucapan sang suami.


"Benarkah kamu mau sholat bersama ku ?"


"Iya sayang, aku akan menjadi imammu. Maafkan jika selama ini aku tak pernah menjadi imam di sholatmu, tapi percayalah aku melakukan itu karena aku kurang percaya diri"


"Lalu apa sekarang mas sudah percaya diri ?"


"Sebenarnya belum, tapi aku akan mencobanya, sesuatu jika belum di coba tak akan pernah terjadi. Nanti kalau ada bacaanku yang salah kamu jangan tertawa"


Rena mengangguk, mana mungkin ia melakukan itu bisa di imamin sholat saja sudah sangat membahagiakan untuk Rena.


Mata yang tadinya mengantuk kini langsuny segar. Bersamaan dengan suara adzan Ashar yang terdengar sayup-sayup. Rena heran kata Arsen tempat ini jauh dari perkampungan lalu kenapa suara Adzan masih terdengar.


"Mas"


"Hemmmmm"


"Katanya Villa ini jauh dari perkampungan, kok suara Adzan nya masih kedengaran"


"Sebenarnya di ujung hutan sana ada perkampungan lagi sayang, disana lumayan ramai. Dan itu tempat pak Saiful menjual sayuran dan buah hasil panen" jelas Arsen.


"Oh, kirain beneran jauh"


"Ya sudah ayo siap-siap. Katanya mau sholat"


Rena bergeser "Kamu duluan saja mas mandinya"


"Kenapa tidak mandi bareng" tanya Arsen.


"Enggak ah, nanti lama "


"Menolak ajakan suami itu dosa loh" balas Arsen terkekeh.


Dan tanpa menunggu jawaban dari Rena, laki-laki itu langsung mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi. Ia mendudukan Rena di atas closet duduk.


"Tunggu sebentar aku akan mengisi air nya dulu"


Rena memperhatikan sang suami, bagaimana telaten nya Arsen menyiapkan air hangat untuknya mandi. Setelah selesai Rena kembali di angkat dan di suruh berendam.


"Mas mandi air dingin ?"


"Iya sayang, sudah kamu berendam saja dulu. Biar tenaganya balik lagi"


Setelah 30 menit berlalu, kini Arsen dan Rena siap melaksanakan sholat Ashar berjama'ah. Arsen mengenakan kain sarung dan baju koko putih tak lupa peci yang menutupi kepalanya.


Penampilan Arsen membuat Rena terkesima, laki-laki itu sangat tampan dan bahkan lebih tampan.


"Mas tau kalau Mas tampan jadi jangan di tatap seperti itu terus" ucap Arsen membuat Rena langsung memalingkan wajahnya.


"Udah ah ayo mulai" balas Rena sambil menahan malu.


Arsen terkekeh, kemudian mulai mengambil posisi untuk imam sholat. Sementara Rena berdiri di belakang sang suami.


Allah hu Akbar.....


Arsen mengakat kedua tangannya, suara lembut dan merdu itu begitu menyejukkan. Membuat perasaan Rena nyaman senyaman nyamannya.


Keduanya melakukan sholat dengan khusuk. Setelah selesai Rena mencium punggung tangan sang suami. Disana air mata Rena menetes membuat Arsen heran.


"Kamu kenapa menangis sayang ?"


"Aku bahagia Mas, terima kasih sudah menjadi imam dalam sholatku"


"Sudah seharusnya aku melakukan itu, kamu istriku yang harus aku bimbing."


Rena langsung memeluk tubuh suaminya, ia masih saja terisak. Arsen membiarkan sang istri menangis dalam dekapannya.


--


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...