
Setiap hari Rena akan selalu berkunjung kerumah Talia, tentu saja bersama sang suami. Arsen tidak akan pernah mengizinkan sang istri datang sendiri kesana, apalagi saat ini Rena sedang mengandung bayi kembar.
Saat jam makan siang, Arsen pergi untuk menemani sang istri. Dan akan kembali kekantor jika Rena sudah selesai bertemu dengan Talia.
Sejauh ini keadaan Talia cukup membaik, walaupun belum sepenuhnya tadi setidaknya ada perubahan yang terjadi.
"Ayo sayang kita berangkat !" ajak Arsen seperti biasa.
"Bentar mas aku ambil puding yang aku buat tadi, mbak Talia pasti suka"
Arsen mengangguk, ia menunggu di meja makan.
"Kalian mau pergi lagi ?" suara Dian terdengar membuat Arsen menoleh
"Iya bu"
"Hati-hati nak, kamu harus pelan-pelan bawa mobilnya. Ingat istrimu sedang mengandung bayi kembar" entah sudah berapa kali Dian berpesan hal serupa. Wanita itu terlalu posesif terhadap Rena.
"Iya bu, Arsen akan selalu ingat kok pesan ibu"
Tak berapa lama Rena datang, di tangannya sudah ada sebuah kotak yang isinya puding.
"Bu tadi aku buat puding, kalau ibu mau masih ada di belakang"
"Iya nak, nanti ibu ambil"
"Ya sudah kami pergi dulu, titip Elvan"
"He.em. Hati-hati"
Arsen dan Rena menyalami tangan Dian. Setelah itu keduanya pemit untuk benar-benar pergi.
Sepanjang perjalanan Rena menatap lurus kedepan. Mendengarkan sebuah lagu religi yang barusan ia putar. Menikmati padatnya jalanan ibu kota di siang hari ini.
Hingga akhirnya keduanya tiba di rumah dimana Talia berada disana.
"Assalamualaikum" ucap Rena saat membuka pintu, walaupun tak ada yang menjawab tapi Rena selalu mengucapkan hal itu.
"Kamu duluan ya sayang, mas angkat telepon dulu"
Rena mengangguk sebagai jawaban, ia meninggalkan sang suami di teras depan. Sepertinya ada hal penting yang ingin di bicarakan oleh Arsen.
Pintu kamar perlahan namun pasti terbuka, membuat Talia yang sedang duduk di atas ranjang mendongak. Talia tersenyum hangat pada Rena.
"Assalamualaikum mbak, gimana kabarnya hari ini ?"
"Wa-alaikum-salam" jawab Talia terbata-bata.
"Aku bikin puding untuk mbak, apa mbak suka puding ?"
"Iya... Mana aku begitu lapar sekarang"
"Ini, bentar biar Rena suapin ya mbak"
Talia menganggukan kepalanya, matanya menatap Rena dengan lekat.
"Aaaaa.... Buka mulutnya mbak"
"Tunggu, ada yang kurang Rena"
Dahi Rena mengerut, menurutnya tidak ada yang kurang "Apanya mbak ?"
"Suara orang mengaji nya mana ?"
"Ya Allah maafkan aku ya mbak, aku lupa. Bentar aku putar dulu"
Rena mengambil tasnya, lalu memutar suara orang yang sedang mengaji. Ia bersyukur Talia selalu menyukai semua ini.
Talia makan dengan lahap, menyantap puding yanh Rena bawakan. Sesekali wanita itu mengelus perutnya karena merasakan tendangan dari si kecil.
"Kenapa mbak ? dedeknya nendang ya ?" tanya Rena dan mendapat anggukan dari Talia.
"Alhamdulillah kalau begitu, itu berarti dedeknya sehat didalam sana. Hemmm udah gak sabar pengen gendong dedeknya"
Talia hanya membalas dengan senyuman, ia juga ingin sekali menggendong bayinya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Arsen masuk bersama dua orang dokter.
"Sayang, gimana Talianya udah makan belum " tanya Arsen mendekati sang istri.
"Udah mas, ini barusan aja habis pudingnya"
"Baguslah kalau begitu, itu dokter mau memeriksa keadaan Talia dulu"
"Iya suyang, yang satunya dokter kandungan"
Rena menggeser tubuhnya saat seorang dokter hendak memeriksa keadaan Talia.
"Bagaimana dok, apa sudah ada perubahan lagi ?" tanya Arsen.
"Ini bukan lagi ada perubahan pak, tapi nona Talia di nyatakan pulih. Hanya saja dia masih perlu pemantauan."
"Alhamdulillah" seru Arsen dan Rena serempak.
"Jadi kita bisa melepas ikatannya"
Sang dokter melepaskan ikatan pada kaki dan tangan Talia, wanita itu terlihat segar sekarang. Wajah pucatnya hampir tak terlihat lagi. Berganti dengan wajah ceria.
"Sekarang kita periksa kandungannya ya !" ucap dokter satunya lagi.
Kali ini Rena mendekat, ia menuntun Talia supaya berbaring di tempat tidur. Rena menyelimuti kaki Talia saat sang dokter akan menyingkap pakaian Talia.
Pertama dokter memeriksa DJJ (Detak Jantung Janin), lalu memeriksa tinggi fundus dan yang lainnya.
"DJJ nya bagus. Dan semuanya normal. Kalau bisa ajaklah ibunya melakukan pemeriksaan USG supaya bisa melihat bayinya dengan jelas"
"Iya dok, inysa Allah besok kami akan membawa nya kerumah sakit"
Sang dokter mengangguk, akhirnya semua pemeriksaan telah selesai. Arsen mengantar kedua dokter itu pulang sementara Rena masih di kamar bersama Talia.
"Rena" panggil Talia dengan suara bergetar.
"Iya mbak"
"Maafin aku ya, maaf udah jahat sama kamu"
Talia menangis membuat Rena langsung menarik wanita itu kedalam pelukannya.
"Aku udah maafin mbak kok, aku yakin mbak melakukan semua itu karena ada alasannya"
"Tapi aku jahat banget sama kamu Rena, dan kamu mala merawatku sampai sembuh"
"Udah ya mbak, yang lalu biarlah berlalu. Kita jalani yang akan datang. Apalagi mbak akan menjadi seorang ibu sekarang"
"Aku malu Ren, aku malu bangat hamil tapi gak ada suami"
"Jangan di pikirin mbak, semuanya telah terjadi"
Talia melepaskan pelukannya, menatap Rena dengan intens. Inikah wanita yang selama ini ia sakiti. Inikah wanita yang ia ingin rebut suaminya.
Betapa malunya Talia setelah apa yang ia lakukan terhadap Rena, tapi di balas seperti ini.
"Mbak aku harus pulang, mas Arsen masih harus kekantor" ucap Rena setelah melihat jam dinding. Sudah cukup lama ia berada disana.
"Iya Ren, besok kesini lagi ya !"..
"Insya Allah mbak"..
Rena beranjak dari tempat duduknya, ia memasukan ponsel kedalam tasnya. Lalu berjalan kearah pintu. Akan tetapi belum sampai ke pintu langkah kaki Rena terhenti karena panggilan Talia.
"Ada apa mbak ?" tanya Rena dengan suara lembut.
"Bisakah besok kamu mengajari aku sholat ? aku ingin melakukannya Ren, walau aku tau aku banyak dosa tapi semoga saja di sisa umurku, Allah akan mengampuni sedikit dosaku"
"Masya Allah. Dengan senang hati mbak. Besok Rena bawain mukena, dan kita belajar sama-sama" balas Rena terharu.
Arsen masuk kedalam kamar, ia berencana untuk mengajak sang istri pulang. Namun saat melihat air mata sang istri Arsen langsung salah paham.
"Kamu kenapa sayang ? apa dia melakukan hal jahat lagi ?" tanya Arsen.
"Tidak mas, aku hanya terharu saja. Mbak Talia udah beruba sekarang"
"Maksudnya ?"
"Dia mau sholat Mas"
Arsen menatap kearah Talia, lalu berjalan mendekati wanita itu.
"Gue tau Lo orang baik Lia, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kamu selama ini" ujar Arsen.
"Aamiin. Terima kasih Arsen sudah merawatku selama ini"
"Bukan aku tapi istriku"..
Rena tersenyum melihat semua itu. "Alhamdulilah terima kasih ya Allah atas anugera yang engkau berikan"