Marriage Contrack

Marriage Contrack
Ban 13



Sehabis mandi, Arsen langsung menuju tempat tidur, untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.


Lalu bagaimana dengan permintaan Rena yang menyuruhnya sholat ?


Jawabanya tentu saja tidak, pria itu terlalu gengsi untuk meminta bantuan pada sang istri, padahal jika Arsen mau Rena akan dengan senang hati melakukannya.


"Kalau paman Willi sudah kembali itu berarti sekarang dia tinggal di rumah Kakek ?" gumamnya saat kembali mengingat pertemuan singkatnya dengan sang paman.


"Sial !! ini tak bisa di biarkan aku harus menginap juga kesana, laki-laki itu pasti sedang mengambil kesempatan untuk mendekati Kakek" dengan gerakan cepat Arsen langsung beranjak dari tempat tidur. Ia melangkahkan kakinya yang panjang untuk segera keluar kamar.


Saat di lantai bawah, Arsen melihat Rena sedang menyuapi Elvan makan, begitu telaten bahkan Rena sembari bernyanyi kecil supaya Elvan makan dengan lahap.


Tanpa sadar sudut bibir Arsen melengkung dengan sempurna, ia tersenyum melihat pemandangan ini. Namun sesaat kemudian ia kembali menampakan sifat arogant, bahkan menggerutu kesal karena bisa-bisanya ia tersenyum menatap Rena.


"Tuan mau makan ?" tanya Rena saat melihat Arsen mendekat.


"Enggak" jawab Arsen singkat.


Rena mengangguk kemudian kembali melanjutkan menyuapi Elvan.


"Sana bersiap !" titah Arsen.


"Bersiap untuk apa Tuan ?"


"Malam ini kita menginap di rumah Kakek, dan ingat tugas kamu, jika di hadapan kakek bersikaplah seolah-olah kita pasangan suami istri yang romantis" jelas Arsen kemudian.


Rena terlihat ragu untuk mengiyakan, namun ia tak punya pilihan lain selain ikut sang suami, bukan tak mau menurut hanya saja Rena enggan bersikap penuh sandiwara apalagi akan menciptakan suatu kebohongan.


"Hei, kau dengar kan apa yang aku katakan ?" bentak Arsen saat Rena tak menjawab penjelasan darinya.


"De--ngar Tuan"


"Ya sudah sana siap-siap, aku tak suka menunggu lama !"


"Baik"


Elvan hanya melirik sebentar kearah Arsen, tatapan matanya begitu nyalang, bocah laki-laki itu seperti kesal karena mendengar sang Mama di bentak.


Arsen yang menyadari tatapan Elvan langsung melenggang pergi tanpa memperdulikan Elvan sedikitpun.


"El tunggu bentar ya nak, Mama mau siap-siap dulu" ucap Rena.


"Iya Ma"


Sebelum pergi Rena mengelus kepala Elvan dengan lembut, barulah ia menuju kamar untuk bersiap. Tak banyak yang akan ia bawa, karena Rena yakin besok pasti Arsen akan membawanya pulang lagi.


Yang penting bagi Rena peralatan sholatnya jangan ketinggalan.


Setelah bersiap Rena kembali ke tempat Elvan, lalu membawa anaknya kedepan..


"Lama banget sih, ngapain aja ?" ucap Arsen yang matanya fokus ke layar ponsel.


"Maaf Tuan" hanya itu jawaban Rena, karena walau menjelaskan ia pasti akan tetap salah di mata Arsen.


"Sana masuk mobil. Duduk di depan !!" pinta Arsen "saya tidak mau nanti Kakek salah paham, jadi kau jangan besar kepala" sambungnya lagi.


Rena mengangguk, ia melangkahkan kakinya bersama Elvan menuju mobil, sedari tadi tak ada komentar dari anaknya itu. Elvan hanya ikut kemanapun dirinya di bawa oleh sang Mama.


Tak berapa lama Arsen menyusul.


"Ingat ya kalau disana panggil saya Mas !!"


"Iya Tuan"


"Awas kau kalau sampai lupa ! dan satu lagi jika nanti pamanku mengajak mu bicara jangan di tanggapi !"


"Kenapa tuan ?"


"Jangan banyak tanya, ikuti saja apa yang saya katakan !"


Rena langsung terdiam kemudian mengangguk dengan mantap.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Rumah yang desain nya sangat mewah itu adalah tujuan Arsen, ini kedua kalinya bagi Rena menginjakan kakinya di rumah itu sementara untuk Elvan baru pertama kali.


Sikap Arsen berubah drastis jika di rumah sang Kakek, sifat arogantnya sedikit menghilang dengan Rena.


"Ayo masuk !" ajak Arsen.


Rena langsung berjalan duluan, namun tangannya langsung di cekal oleh Arsen membuat wanita dengan hijabnya itu kebingungan.


"Gandeng tangan saya !" pinta Arsen lagi.


Walau ragu Rena langsung melakukannya, ia tantu tak akan melupakan permintaan Arsen. Namun saat Arsen ingin menggendong Elvan bocah laki-laki itu langsung menghindar, membuat Arsen merasa kesal.


"Hei kenapa anakmu tak mau aku gendong ?" tanya Arsen berbisik.


"Mungkin karena El belum terbiasa Tuan",


"Sial, ayo masuk kalau gitu"


Mereka masuk sembari bergandengan, namun sampai di teras Paman Willi tiba-tiba keluar rumah.


"Wah-wah saya kedatangan tamu ini" ucap Paman Willi.


"Ciiih, ini rumahku juga jadi kami bukan tamu" balas Arsen.


"Tapi kau tak tinggal di sini, jadi kau tamu sekarang"


"Terserah Paman saja mau menganggapnya apa, yang jelas ini rumahku"


Paman Willi terkekeh, lalu tatapan matanya beralih pada sosok wanita cantik yaitu Rena. Merasa di tatap dengan seksama Rena langsung menundukan kepalanya.


"Hei, jaga tatapan matamu ! dia istriku" bentak Arsen yang menyadari ketidak nyamanan sang istri


"Oh ini istrimu, dapat dari mana kau wanita secantik ini ? ?"


"Bukan urusan mu"


Paman Willi menjulurkan tangannya di hadapan Rena "Saya Willi paman nya Arsen"


Namun Rena hanya membalas dengan mengantupkan kedua tangannya didada, membuat tangan Paman Willi menggantung di udara.


"Saya Rena paman"


Senyum kecil muncul di bibir Arsen, ia senang karena Rena tak menyambut uluran tangan sang paman.


"Bagus ! kau bisa di andalkan juga ternyata, laki-laki tua ini pasti sedang menahan kesal" batin Arsen.


"Ya sudah yuk sayang kita masuk, kamu pasti lelah" ajak Arsen membuat tubuh Rena meremang akibat panggilan sayang darinya, apalagi saat Arsen merangkul pundak Rena dengan mesrah.


Sungguh suatu drama yang begitu baik, Arsen begitu lancar menjalankan aksinya.


"Ayo ke kamar, kau jangan keluar kamar kalau tak dengan ku" ajak Arsen.


"Apa kita akan sekamar malam ini Tuan ?"


"Tentu, kenapa kau tak mau sekamar dengan ku ?"


"Bukan begitu tuan ? lalu bagaimana dengan Elvan ?"


"Bawa lah memangnya mau di letakkan dimana ?"


Di dalam sebuah kamar yang tak kalah mewah dengan kamar sebelumnya, Arsen mendudukan diri sofa sementara Rena masih berdiri bersama Elvan.


"Kakimu tak merasa capek berdiri terus ?".tanya Arsen.


"Sana tidur di atas, biarkan aku yang tidur di bawah !"


Sungguh Rena tak menyangkah, ia pikir Arsen akan menyuruhnya tidur di bawah bersama Elvan, namun nyatanya laki-laki itu masih punya hati dan perasaan. Buktinya Arsen memilih tidur di bawah .


"Tuan saya yang tidur di atas, biar saja sama Elvan di bawa kami sudah biasa tidur beralaskan tikar" tolak Rena


"Sudah ku bilang jangan membantah, lakukan saja apa yang saya katakan !"


"Baiklah kalau begitu"


Rena naik keatas ranjang, begitupun dengan Elvan, namun baru saja ia akan merebahkan tubuhnya suara Adzan Magrib berkumandang, membuat wanita cantik itu kembali terbangun untuk melaksanakan sholat.


"Ayo sholat Tuan, silahkan jadi imamnya !"


Detik itu juga jantung Arsen berdetak kuat.


--


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...