
"Jadi kamu sudah pernah menikah ?" tanya Kakek Raymond pada Rena.
Rena menunduk, para tamu menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Iya Kek saya memang sudah pernah menikah, akan tetapi suami saya meninggal saat saya sedang mengandung 8 bulan" jelas Rena.
Kakek Raymond menghela nafas panjang "Kamu serius Arsen mau menikahinya ?" tanya nya pada sang Cucu.
"Aku serius Kek"
"Ya sudah kalau memang itu pilihan mu, Kakek bisa apa. Ayo laksanakan ijab kabulnya"
Arsen dan Robert tersenyum, kelegaan dapat mereka rasakan. Karena jika sampai Kakek Raymond tak menyetujui semuanya otomatis Arsen akan semakin sulit untuk menguasai perusahaan sang Ayah.
"Ayo lanjutkan !" pinta Kakek Raymond lagi.
Semuanya kembali duduk, Arsen kembali ke tempat semula dimana Rena duduk di sampingnya. Karena proses ijab kabul akan segera di laksanakan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Sah"
"Sah"
Begitu kata saksi setelah Arsen mengucapkan ikrar sucinya hanya dengan satu tarikan nafas, sekarang dirinya dan Rena sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Rena mencium punggung tangan Arsen sebagai bentuk baktinya pada sang suami, namun Arsen tak mencium kening Rena seperti kebiasaan sepasang pengantin sebelumnya.
Sebuah cincin sudah tersemat di jari manis keduanya, saat pengambilan sesi foto Arsen tak tersenyum sedikitpun, namun berbeda dengan Rena ia menampilkan senyum dengan manis di hadapan kamera.
"Jangan pernah kau merasa bangga karena sudah berstatus sebagai istriku, karena ini hanya pernikahan sementara" bisik Arsen di telinga Rena.
"I--ya Mas, saya akan ingat akan hal itu"
"Baguslah !"
Ada rasa sakit yang Rena rasakan, tapi ia memang harus nya menyadari kalau pernikahan ini awalnya tak akan berjalan dengan sempurna. Arsen tak akan mungkin mau menikahinya kalau bukan karena ada sesuatu.
Satu persatu para tamu bergantian pulang setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
"Setelah ini kalian akan tinggal dimana ?" tanya Kakek Raymond.
"Kami akan tinggal di rumah baru Kek, Arsen sudah mempersiapkan semuanya"
"Kenapa tidak di rumah utama saja ?"
"Kami ingin mandiri Kek"
Kakek Raymond menganggukan kepalanya, ia kemudian melirik kearah Rena.
"Kakek tak menyangka kalau jodohmu seorang janda, padahal di luar sana ada banyak wanita yang masih sendiri yang rela menjadi istrimu..Tapi ya sudah kalau itu keputusan mu"
Ucapan Kakek Raymond begitu menusuk relung hati Rena, seburuk itukah seorang janda di mata pria paruh baya itu. Jika memang diluar sana banyak yang mau menjadi istri Arsen kenapa selama ini Asisten Arsen selalu memaksa Rena untuk menjadi istri Arsen.
"Namanya juga jodoh kek" balas Arsen. "Kalau saja bukan karena ingin mempertahankan perusahaan Ayah, aku juga gak sudi menikah dengan nya Kek" batin Arsen sembari menatap Rena.
"Iya mungkin bisa di bilang begitu, jodohkan tak ada yang tau" kakek Raymond kembali berucap kali ini di iringi dengan tawa meledek.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Rumah mewah dengan dua lantai itu menjadi tempat tinggal Rena dan Elvan sekarang. Karena Arsen membawa mereka berdua ke sana. Arsen memang sengaja tak membawa Rena ke rumah utama karena ia tak ingin pernikahan kontrak mereka di ketahui oleh Kakek Raymond.
Ceklekkk.
Salah satu kamar di buka oleh Arsen.
"Ini kamar kalian berdua ! ingat selalu awasi anakmu jangan sampai ada satu barang pun yang pecah di rumah ini !" ucap Arsen
"Baik Tuan"
Elvan menatap Arsen dengan tatapan bahagia, karena tadi Rena sudah memperkenalkan Arsen sebagai Papanya membuat bocah laki-laki itu terlihat begitu bahagia.
Arsen menatap Rena dengan tajam saat mendengar kalau Elvan memanggilnya dengan sebutan Papa.
"Atas perintah dari siapa kau sampai mengizinkan anakmu memanggilku Papa.?"
"Maafkan saya Tuan, tadi saya bingun harus menjelaskan apa kepada El, makanya saya bilang kalau dia punya Papa" balas Rena penuh dengan rasa bersalah.
"Kali ini kau ku maafkan, tapi lain kali saya tak mau dengar dia memanggilku dengan sebutan Papa, karena dia bukan darah dagingku" setelah mengatakan itu Arsen langsung pergi meninggalkan Rena dan Elvan.
"Ma, tenapa Papa malah-malah (marah-marah)"
Rena berjongkok mensejajarkan tubuhnya pada tubuh Elvan, ia berusaha kuat dan sabar, jangan sampai Elvan tau ia menangis.
"Papa tidak marah kok sayang, Papa lagi ada kerjaan" jelasnya kemudian.
"Maafkan Mama El, Mama banyak bohong sama kamu, Mama harap suatu hari nanti El paham akan situasi yang Mama alami" batin Rena.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Malam semakin larut, sedari tadi Arsen tak bisa tidur barang sedikitpun, ucapan Elvan yang memanggilnya dengan sebutan Papa masih terngiang di kepalanya.
"Gila apa, masa iya gue udah jadi bapak-bapak, nasib nikah sama janda" gerutunya penuh dengan kekesalan.
Karena tak bisa tidur akhirnya Arsen memutuskan untuk keluar kamar, ia turun kebawah dan menuju dapur. Kening Arsen mengernyit saat mendengar suara seseorang di dapurnya juga keadaan lampu yang masih menyala.
"Siapa ya yang belum tidur ? gue kan belum panggil pembantu, apa itu Rena ?" tanyanya pada diri sendiri.
Benar saja saat langkahnya sudah dekat dengan dapur, Arsen dapat melihat Rena sedang memasak di dapur, wangi harum masakan Rena membuat perut Arsen keroncongan.
"Sedang apa kau disini ?" suara Arsen membuat Rena kaget.
"Astaghfirullah" Rena memegangi dadanya.
"Sedang apa kau ?" tanya Arsen lagi.
"Saya sedang memasak seblak Tuan, maaf tak meminta izin dulu, soalnya tadi saya kira Tuan sudah tidur"
Arsen menatap semangkok seblak di hadapan Rena, sangat mengguga selera namun ia terlalu gengsi untuk mengatakan kalau ia ingin menyantapnya juga.
"Apa tuan mau ?" tawar Rena.
"Enggak sudi saya makan receh begituan, lagian kamu pasti akan menaruh jampi-jampi di makanan itu"
"Astaghfirullah, tidak Tuan"
"Sana-sana kau makan aja sendiri, saya mau mengambil minuman"
Tubuh Rena bergeser sedikit, saat Arsen akan lewat.Rena membawa seblak itu keatas meja.
Arsen terus mengamati pergerakan Rena, cara duduk Rena yang terlihat anggun. Apalagi ia masih berhijab walau sudah malam begini.
"Kau tidak gerah ya pakai hijab terus ? inikan sudah malam ?" tanya Arsen
Rena menoleh "Tidak Tuan, ini sudah menjadi kebiasaan saya"
"Besok kau belanja kebutuhan dapur, karena saya lihat belum ada stok masakan di kulkas, dan besok akan ada Asisten rumah tangga yang bekerja disini"
"Baik Tuan, hmmmm kalau boleh urusan memasak biar saya saja" Rena memberanikan diri untuk bernegosiasi dengan Arsen, ternyata sikap Arsen tak searogant yang ia pikirkan, buktinya saat ini keduanya mengobrol walau cara bicara Arsen masih terdengar menjengkelkan.
"Enggak, saya akan tetap pakai Art, kau masak untuk dirimu dan anak mu saja ! saya takut makan masakan mu, nanti saya mati muda lagi"
"Astaghfirullah, kenapa tuan selalu berpikiran negatif pada saya ?"
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...