
Setelah selesai mandi, terdengar suara pintu di ketok. Arsen berjalan kearah pintu untuk membukanya.
"Sayang ayo kita makan bersama, aku sudah menyiapkan makanan spesial untukmu" ucap Talia dengan manja.
"Tunggu aku di meja makan, aku akan segera menyusul"
"Kenapa tidak barengan saja ?"
"Kau mau aku membatalkan makan malam ini ?"
"Tidak-tidak, baiklah aku akan menunggumu disana"
Talia meninggalkan Arsen dengan wajah cemberut, padahal ia berharap akan turun bersama dengan Arsen, bercanda gurau dengan laki-laki itu. Tapi harapan tinggal harapan karena Arsen menolak semuanya.
Arsen kembali kekamar, mengambil ponselnya di atas meja nakas.
[Minumannya sudah saya tukar Tuan, dan anda bisa makan malam dengan nyaman]
Arsen baru saja menerima pesan dari Marni, ia tersenyum puas.
"Selamat menikmati minuman mu sendiri Talia" gumam Arsen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di meja makan Talia melayani Arsen, ia mengambilkan Arsen makanan.
"Apa kau sendiri yang memasak semua ini ?" tanya Arsen tak yakin, pasalnya ia tau kalau wanita itu tak bisa memasak.
"Apa kau meragukan aku "
"Ah tidak, aku cuman bertanya"
Arsen menyantap makanannya, saat pertama kali makanan itu masuk kedalam mulutnya ia sudah kenal dari mana makanan itu berasal.
"Inikan makanan dari restoran favoritku, dasar wanita licik" maki Arsen dalam hati.
"Apa makanan nya enak ?" tanya Talia.
"Iya ini sangat enak"
"Baguslah kalau kamu suka, jadi aku akan memasak tiap hari untukmu"
Arsen mencibir, rasanya ingin sekali menenggelamkan wanita itu hidup-hidup. Ia benar-benar muak melihat Talia yang tak punya malu sedikitpun.
"Minumlah dulu, dari tadi kau makan terus apa tenggorokan mu tidak sakit"
Arsen meraih gelas di sampingnya, ia tak perlu takut sekarang karena minuman itu sudah di tukar oleh Arsen.
"Kau kenapa menungguku minum ? kenapa kau tak minum juga ?" tanya Arsen.
"Hemm, ini aku akan minum juga"
"Silahkan"
Arsen meneguk minumanya sampau habis, begitupun dengan Talia. Arsen rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat Talia minum sampai habis.
"Kau nikmati saja ulahmu sendiri" batin Arsen.
Satu menit.
Dua menit..
Dan.....
"Emmmmmmm" Tubuh Talia menggeliyat, merasa kepanasan.
"Kau kenapa ?" tanya Arsen.
"Ti-dak tau, tapi aku merasa disini panas sekali"
"Itu hanya perasaanmu, disini dingin"
"Mampus kau" kembali Arsen bersorak dalam hati.
Tak berapa lama Talia jatuh pingsan, Arsen langsung membawa Talia kekamar, disana ia mengikat kaki dan tangan Talia supaya wanita itu tak bisa berbuat macam-macam.
Beberapa saat kemudian Robert masuk, laki-laki itu sudah siap dengan kamera.
Mata Talia terbuka, melihat ada seorang pria di hadapanya, Tubuh Talia semakin berontak.
"Hemmm, paman ayo lakukan sekarang" racau Talia.
Arsen dan Robert saling pandang, mendengar kata paman yang di ucapkan oleh Talia.
"Paman... Aaaahhhhh" desah Talia membuat Arsen dan Robert bergidik ngeri.
"Hmmmm, ayo paman aku sudah tidak kuat. Mari kita nikmati semuanya"
"Paman siapa yang di maksud Talia ya ? apa itu Paman Willi ?" batin Arsen penuh tanda tanya.
"Paman pakai pengaman jangan lupa, aku tidak mau hamil" racau Talia lagi, sepertinya wanita itu mengingat saat kebersamaanya dengan Willi.
"Emmmmmmmm" Talia menggesek-gesekan kedua kakinya, sehingga dres mininya terangkat keatas.
"Sialan, mataku jadi ternodai" gumam Robert.
Arsen mencibir "Jangan sok polos kau, seperti tidak pernah melihat seperti ini"
"Itu sama saja bodoh"
Robert menyengir, ia tak lagi membalas ucapan Arsen. Saat drees Talia benar-benar terangkat kedua laki-laki itu langsung menutup matanya, seolah keduanya masih polos belum pernah melihat semua ini.
"Paman Willi, lakukan sekarang seperti waktu itu"
Deeeggggg
Detak jantung Arsen berdegup dengan cepat, jadi benar dugaannya kalau Talia pernah melakukan hubungan terlarang dengan sang Paman.
"Sekarang kita sudah tau pelakunya" ucap Robert.
"Kau benar, ayo pergi" ajak Arsen "Oh ya mana obat yang aku minta ?"
"Ini tuan"
Arsen dan Robert meninggalkan kamar itu, lalu menuju dapur mencari Marni
"Bi, tolong berikan obat ini pada Talia, ini peredah obat yang tadi ia minum" perintah Arsen.
"Baik Tuan"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Talia terbangun dari tidurnya. Kaki dan tangannya sudah tak terikat lagi. Kepalanya pusing mungkin karena obat perangsang semalam.
"Dimana Arsen" ucap Talia saat kasur disebelahnya kosong.
"Perasaan semalam dia ada di kamar ini"
Talia melihat pakaiannya, ternyata masih utuh dan tidak ada yang terbuka.
"Kenapa pakaian ku masih utuh ya, apa jangan-jangan Arsen tidak melakukan itu ya ?, tapi kan semalam ia meminum obat itu"
Talia beranjak dari tidurnya, ia berjalan tergesa-gesa menghampiri Leni yang sedang menyapu.
"Bi, apa kamu melihat Arsen" tanya Talia.
"Tuan kan tidak pulang setelah pergi semalam nona, katanya dia menginap di rumah tuan Raymond"
"Apa...." pekik Talia terkejut.
Bagaimana mungkin, jelas-jelas ia sudah memberikan obat perangsang pada Arsen. Lalu bagaimana laki-laki itu bisa pergi.
"Ada yang tidak beres" batin Talia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bisa jadi itu adalah anak paman Willi" ucap Arsen pada sang kakek, ia baru saja memperlihatkan video tentang Talia semalam.
"Apa pamanmu dan Talia sedekat itu ?"
"Iya kek, aku sering melihat mereka kemana-mana berdua. Tidak mungkin itu Willi yang lain karena Talia juga memanggilnya dengan sebutan Paman"
Kakek Raymond menganggukan kepalanya, jika memang itu adalah anaknya Willi itu berarti itu adalah cucunya juga.
Tak berapa lama ponsel milik kakek Raymond berdering, segera laki-laki paruh baya itu menjawab panggilan yang ternyata dari Satria.
"Iya"
"Saya sudah membawa orang-orang yang mengeroyok cucu anda tuan, mau dibawa kemana mereka"
"Bawa saja kerumah ku"
"Baik tuan"
Setelah panggilan terputus Arsen langsung bertanya
"Siapa kek ?"
"Seseorang"
"Iya siapa"
"Nanti juga kamu akan tau"
Arsen mencebikkan bibirnya, mendengar jawaban sang kakek.
"Oh ya apa kamu sudah menemukan Rena dan Elvan ?" tanya kakek Raymond basa-basi, ia tidak mau Arsen curiga kalau dirinya yang menyembunyikan istri cucunya itu.
Arsen menggeleng dengan lesu "Aku tidak tau dimana mereka kek, ponsel Rena tidak aktif sampai sekarang jadi aku tak bisa melacak keberadaan mereka"
"Kau sabar dulu, mungkin Rena sedang pergi kesuatu tempat untuk menenangkan pikirannya"
"Iya tapi kemana kek, kenapa susah sekali mencarinya. Aku tau Rena itu seperti apa, dia tidak punya tempat misterius untuk bersembunyi"
Kakek Raymond mengalihkan pandangannya, ia tak ingin Arsen curiga.
"Doakan saja mereka baik-baik saja" ucap kakek Raymond dengan santai.
"Kok kakek santai sekali ya, saat aku mengatakan kalau Rena dan Elvan hilang, gak ada gitu keterkejutan diwajah kakek ?"
"Iyakan dia istrimu untuk apa kakek terkejut"
"Iya juga sih" jawab Arsen dengan polosnya.