
2 hari sudah Arsen tak ada di rumah, membuat Rena resah. Ia sekarang mengerti bagaimana perasaan sang suami, harusnya ia menurut saja apa yang ingin di lakukan Arsen.
Karena ingin memperbaiki hubungan, Akhirnya hari ini Rena memutuskan untuk menemui sang suami di kantor.
"Mau kemana nak ?" tanya Dian saat melihat Rena sudah rapih.
"Aku mau nyusulin mas Arsen bu, aku ingin memperbaiki semuanya"
Dian mengelus lengan Rena, ia menatap wajah menantunya sembari tersenyum manis "Pertengkaran dalam rumah tangga itu memang kerap terjadi nak, tinggal bagaimana kita menyikapinya"
"Iya bu, Rena menyesal karena terlalu egois sama mas Arsen, padahal yang dilakukan mas Arsen itu untuk kebaikan Rena juga"
"Ya sudah sana kamu berangkat, ibu yakin suami kamu juga sangat merindukan kamu"
Rena tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya. Sebelum pergi ia mencium punggung tangan Dian.
"Assalamualaikum bu"
"Waalaikumsalam"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak bisa di pungkiri saat ini Arsen sangat merindukan istrinya, tapi semua itu ia tahan, Arsen hanya ingin memberi pelajaran pada sang istri.
Ia sendiri tak tega menjauhi Rena seperti ini, apalagi setiap hari Rena selalu menghubunginya atau bahkan mengiriminya pesan singkat. Tangannya sudah gatal ingin membalas semua itu, tapi Arsen sekuat tenaga menahannnya.
"Tuan apa malam ini kita akan menginap disini lagi ?" tanya Robert dengan nada kesal, pasalnya ia sudah tak tahan menemani Arsen menginap di kantor, tubuhnya terasa sakit semua karena dua malam ini ia tidur di sofa.
Bukan karena tempat tidur Arsen kecil, hanya saja Robert merasa geli jika tidur satu ranjang dengan atasannya itu. Jadi ia memilih tidur di sofa.
"Lihat nanti pokoknya"
"Kalau menurut saya mending tuan pulang, dan selesaikan masalah tuan dengan baik"
"Setiap hari selalu itu yang kau katakan, aku sampai bosan mendengarnya" cibir Arsen "Apa kau tidak mau menemani ku lagi"
"Bukan begitu tuan, saya mau kok menemani tuan" jawab Robert berbeda dengan apa yang ada di hatinya.
"Ya sudah kalau begitu mending kau diam saja"
"Iya tuan"
Robert menarik napas panjang, mungkin malam ini ia akan kembali tidur di atas sofa dan merelakan seluruh tubuhnya sakit semua.
"Nasib jadi bawahan". batinnya penuh kekesalan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sepanjang perjalanan Rena diam sembari menatap keluar jendela, di samping tempat duduknya sudah ada rantang yang berisi makanan kesukaan sang suami.
Berharap ia dan Arsen akan segera berbaikan. Ia rindu dengan sikap manja Arsen walaupun sangat menyebalkan, ia juga rindu tidur di pelukan laki-laki itu.
Tak berapa lama Rena sudah tiba di kantor, semua karyawan kantor sudah tau kalau Rena adalah istrinya Arsen.
"Selamat pagi bu" sapa seorang karyawan.
"Pagi..."
"Mau ketemu bapak ya ?"
"Iya, apa suami saya ada di ruangannya ?"
"Ada bu, silahkan masuk saja"
Rena memasuki lift, didalam sana ia menarik napas panjang, detak jantungnya berdetak kencang padahal ia akan bertemu dengan sang suami.
"Loh nona Rena" ucap Jasmin terkejut.
"Hai, apa Suami ku ada didalam"
"Ada nona, silahkan masuk saja"
Rena mengangguk, ia membuka pintu ruangan Arsen tanpa mengetok pintu dahulu.
Saat itu Arsen sedang berdiri sembari menatap keluar jendela, ia mendengar suara pintu terbuka tanpa di ketok dahulu.
"Kalian lupa ya peraturan kantor ini, kalau mau keruangan harus ketok pintu dulu" omel Arsen tanpa melihat dulu siapa yang datang.
"Maaf"
Suara lembut itu seketika membuat Arsen terdiam, ia langsung membalikan tubuhnya lalu menatap sang istri yang saat ini sedang menatap kearahnya.
Wanita yang sangat ia rindukan kini sudah berdiri di hadapannya.
Tanpa Arsen duga, Rena langsung mendekat dan bersujud di kaki Arsen, membuat Arsen terkejut.
"Sayang bangun ! jangan seperti ini. Mas sudah memaafkan kamu"
Arsen mengangkat tubuh Rena, kemudian langsung memeluk wanita itu dengan erat, menumpahkan rasa rindunya pada wanita itu yang selama 2 hari ini ia tinggalkan.
"Maafkan aku mas, aku menyesal"
"Iya sayang, maafkan mas juga"
Keduanya masih berpelukan dengan erat, Arsen mengelus punggung sang istri dengan lembut.
Setelah itu keduanya melepaskan pelukan, Arsen menghujani wajah sang istri dengan ciuman bertubi-tubi.
"Mas merindukan kamu sayang"
"Sama aku juga merindukan mas"
Telapak tangan Arsen turun ke perut Rena, ia mengelus perut buncit itu, seketika Arsen merasakan tendangan dari janin yang sedang Rena kandung.
"Hai anak-anak papa, kalian gak nakal kan selama papa tinggal ?"
"Maafkan papa ya nak ! Papa janji gak akan ninggalin kalian lagi"
Rena tersenyum sembari memperhatikan sang suami.
"Mereka gak rewel kan selama aku tinggal ?" tanya Arsen
"Alhamdulillah gak mas, tapi mereka banyak diam beda kalau ada kamu yang nendang nya begitu aktif"
"Apa mereka paham ya kalau papa dan mamanya lagi berantem"
"Mungkin saja mas" jawab Rena "Oh ya yuk makan dulu, aku udah masakin makanan kesukaan mas"
"Iya sayang, aku juga merindukan masakan buatan kamu"..
"Makanya pulang, kok betah banget tidur di kantor"
"Hehe, sebenarnya udah pengen banget sih pulang, tapi gengsi" jawab Arsen dengan jujur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mau kemana ?" tanya Jasmin saat melihat Robert.
"Keruangan tuan Arsen, memangnya ada apa ?"
"Nanti saja mas, soalnya didalam ada nona Rena"
"Serius ?"
"Iya"
"Yes" Robert bersorak gembira mendengar kalau Rena datang kekantor. "akhirnya malam ini aku tidak akan tidur di kantor lagi"
Jasmin menggelengkan kepala melihat kelakuan sang kekasih. Ia sebenarnya kasihan karena Robert selalu mengatakan kalau badannya sakit semua.
"Nanti malam aku ngapel sayang" ucap Robert.
"Gak bisa mas"
"Loh kenapa"
"Nanti malam aku sama mama ada kegiatan, jadi besok malam aja ya"
"Astaga"
Entah kapan Robert akan merasakan ngapel dengan sang kekasih, ia begitu menginginkan hal itu. Selama ini waktunya ia habiskan untuk bekerja dan membantu Arsen, sampai melupakan kalau mempunyai kekasih akan sangat menyenangkan.
"Gagal lagi..." gumam Robert.
"Pernikahan kita kan gak lama lagi mas, nanti kalau udah halal kamu bisa apelin aku tiap hari"
"Itu beda sayang, ngapel saat pacaran sama udah nikah itu beda. Soalnya kalau masih pacaran ada tegang-tegang nya gitu"
"Tapi enakan udah nikah mas, kan kalau udah nikah gak dosa lagi kalau berduaan"
"Iya sih, apalagi kalau pengen bisa langsung celup ya gak"
"Dasar mesum" ucap Jasmin kesal.
Robert hanya terkekeh melihat sang kekasih marah, namun ada yang harus Robert selesaikan sekarang, karena kata celup yang ia katakan sendiri membuat apa yang ia sembunyikan di balik celana menjadi berdiri..
------
3 episode lagi menuju end ya guys..