Marriage Contrack

Marriage Contrack
Bab 38



Di rumah Arsen....


Saat itu Rena sedang menemani Elvan bermain. Namun tiba-tiba kakek Raymond datang membuat Rena bangkit untuk menyambut kedatangan pria paruh baya itu.


"Mana Arsen ?" Tanya Kakek Raymond langsung, rupayanya pria itu yak ingin bertele-tele.


"Mas Arsen sudah ada di kantor kek, ada apa ya ?" Rena balik bertanya. Ia sedikit takut dengan Kakek Raymond apalagi melihat tatapan mematikan dari lelaki itu.


"Suruh dia pulang sekarang !" Perintah Kakek Raymond lagi.


"Tapi Mas Arsen ada kerjaan kek, dan tadi katanya perusahaan ada yang membobol"


Mendengar hal itu kakek Raymond sedikit kaget mendengarnya, ia pun mengalihkan tatapannya pada Willi yang nampak biasa saja mendengar ucapan Rena.


Mungkin saja laki-laki itu sudah tau akan apa yang terjadi, namun itu bukanlah hal penting baginya karena bagi Willi sekaran adalah menunggu kehancuran Arsen.


"Willi" panggil Kakek Raymond.


"Ada apa Yah ?"


"Hubungi Arsen, dan suruh dia pulang sekarang !"


"Baik Yah"


Willi mengeluarkan ponselnya, ia mencari nomor Arsen kemudian langsung menghubungi keponakannya itu.


Setelah panggilan terjawab, Willi langsung mengatakan kalau sang Kakek menyuruhnya pulang sekarang. Bahkan Willi tak menjelaskan ada apa saat Arsen bertanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dengan kepala yang terasa mau pecah karena masalah ini, di tambah ia baru saja di hubungi oleh Willi agar menyuruhnya pulang. Akhirnya Arsen pulang walau hatinya penuh dengan tanda tanya.


Di perjalanan pulang, Arsen terus berpikir ada apa sang Kakek menyuruhnya pulang. Tak biasanya sang kakek akan seperti ini, kalaupun ada hal mendesak pastinya Kakek Raymond akan menghubunginya dahulu.


"Pasti ada masalah besar sampai kakek tak menghubungi ku dahulu" gumam Arsen.


Tidak berapaa lama, Arsen tiba di rumahnya. Keadaan ruang keluarga terasa mencekam. Disana Ada kakek Raymond, Willi dan juga Rena.


"Ada apa kek ?" Tanya Arsen yang langsung mendekati Kakek Raymond.


Plaaaakkkkk.


Sebuah tamparan teramat menyakitkan Arsen terima hari itu. Laki-laki itu meringis menahan sakit namun tak berani merabah.


"Kenapa kakek menamparku ? Apa salahku ?" Tanya Arsen heran.


"Coba kau pikirkan apa salahmu ? Sebelum aku yang menjelaskan semuanya"


Arsen masih berpikir dengan keras, memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat.


Namun setelah beberapa detik berpikir Arsen pun tak menemukan letak kesalahannya.


"Arsen rasa, Arsen tak melakukan kesalahan kek" jelasnya kemudian.


"Ciih" decak kakek Raymond "lalu ini apa ?" Kakek Raymond melempar berkas yang dari tadi ie pegang.


Melihat warna map yang di lempar oleh kakek Raymond. Arsen langsung menyadari dimana kesalahan nya.


"Kau berani menipuku Arsen, kau melakukan pernikahan kontrak hanya karena ingin memiliki perusahaan itu" bentak Kakek Raymond.


Rena yang sedari tadi diam, langsung menatap sang suami. Ia sebenarnya tak tega melihat Arsen di bentak apalagi di tampar seperti tadi.


"Maafkan Arsen kek" ucap Arsen kemudian.


"Aku tau kalau aku salah. Awalnya aku memang melakukan pernikahan kontrak dengan Rena karena ingin mempertahankan perusahaan yang di bangun Ayah. Tapi lama kelamaan aku menyukai Rena dan kami sudah berjanji untuk sehidup semati" lanjut Arsen lagi.


Willi hanya mencibir mendengar penjelasan Arsen. Ia yakin semua itu hanyalah alasan Arsen supaya Kakek Raymond luluh.


Pertanyaan kakek Raymond tentu saja yang di tunggu-tunggu oleh Willi. Sementara Rena menunggu jawaban dari suaminya.


Akankah Arsen akan mempertahakan pernikahannya, atau justu memilih perusahaan dari pada pernikahannya dengan Rena.


"Dulu memang aku sangat menginginkan perusahaan itu kek, aku tidak ingin perusahaan itu jatuh ketangan orang lain. Tapi sekarang jika memang kakek mau mengambilnya lagi akan aku berikana. Karena yang terpenting bagiku adalah Rena dan Elvan. Bukanlah yang lain" jelas Arsen membuat Rena begitu terharu.


"Lalu dengan cara apa kau akan menghidupi anak dan istrimu ?" Tanya Kakek Raymond lagi.


"Aku akan bekerja kek, apapun akan aku kerjakan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Bukankah rezeki itu sudah ada yang mengatur"


Lagi dan lagi Rena terharu, ia tak pernah menyangka kalau Arsen akan menjawab seperti itu. Berbeda dengan Willi yang terus mencibir kearah Arsen yang baginya hanya mencari muka di hadapan kakek Raymond.


Tak disangka kakek Raymond juatru menepuk pundak Arsen.


"Kakek bangga padamu" ucap kakek Raymond.


Semua yang ada disana langsung mengernyit bingung atas ucapan kakek Raymond. Begitupun dengan Willi.


"Maksud kakek ?" Tanya Arsen bingung.


"Iya kakek bangga padamu, karena mau bertanggung jawab atas kesalahan kamu."


"Apa perusahaan itu akan kakek ambil ?"


"Hahaha" kakek Raymond justru tertawa terbahak-bahak "mana mungkin kakek malakukan itu, perusahaan itu sudah resmi milikmu jadi tidak mungkin kakek mengambilnya lagi"


Tentu saja perkataan kakek Raymond membuat Willi terperanjat kaget, harapanya tak sesuai dengan keinginan.


"Apa-apaan ini Ayah ? Kenapa Ayah tak mengambil kembali perusahaan itu ? Bukankah Arsen sudah menipu Ayah" ucap Willi dengan gusar.


Kakek Raymond menatap kearah Willi. "Bagiku Arsen tak menipuku selama ini, aku memang kecewa padanya karena melakukan pernikahan kontrak ini, namun dengan begini akhirnya Arsen sadar betapa pentingnya sebuah keluarga. Walaupun dulu Arsen tak menikah dulu aku akan tetap memberikan perusahaan itu padanya" jelas kakek Raymond kemudian.


Rahang Willi mengeras, amarahnya memuncak. Saat di perjalanan kesini tadi ia menyangka kalau Arsen akan hancur, namun malah sebaliknya ia yang di buat kesal.


"Dari mana Kakek mendapatkan surat kontrak ini ?" tanya Arsen sambil menatap Willi dengan tajam, walau di hatinya sudah bisa menebak siapa pelakunya tapi Arsen tetap ingin mendengarkan dari sang Kakek.


"Paman mu yang memberikan ini pada kakek"


"Jadi yang menjadi penyusup di kantorku adalah paman ? Ciiih. Murahan sekali kelakuan anda wahai William" ucap Arsen dengan geram.


Arsen mendekati Willi, tatapannya begitu tajam pada pria itu. Namun Willi tak merasa takut sedikitpun.


"Kenapa kau mau memukulku ? ayo pukul saja !" tantang Willi.


Arsen menyengir "Untuk apa aku melakukan hal kotor itu padamu, aku juga masih menghormati dirimu sebagai paman"


"Aku tak sudi mempunyai keponakan seperti mu" teriak Willi menggema.


"Willi cukup !" bentak Kakek Raymond.


"Pergi kau dari sini ! semua masalah ini telah selesai, dan ingat jangan ganggu kehidupan Arsen lagi"


Kemarahan Willi benar-benar memuncak, akan tetapi ia tak tahu harus berbuat apa. Willi akhirnya memilih pergi meninggalkan kediaman Arsen.


"Awas saja suatu hari nanti aku akan membalas kalian semua". batin Willi penuh amarah.


Dengan mengendarai mobilnya, Willi sering memukul setir mobil untuk melampiaskan kemarahanya. Hanya satu yang bisa meredahkan amarah Willi sekarang, yaitu bermain bersama Talia. Iya hanya dengan wanita itu Willi mampu meredahkan setiap emosi yang ia rasakan.


.------


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...