
"Lepaskan aku Mas, mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita"
"Tidak akan, aku tidak akan pernah melepaskan kamu" bantah Arsen dengan cepat, bagaimana mungkin ia akan melakukan itu, cinta dan sayangnya begitu besar untuk Rena.
"Kamu jangan egois mas, mbak Talia membutuhkan kamu"
"Lalu apa kamu tidak membutuhkan aku ?"
"Aku membutuhkan kamu mas, tapi ada wanita lain yang lebih berhak atasmu"
Arsen kesal, sang istri sama sekali tak percaya padanya. Ia masih beranggapan kalau Talia benar-benar mengandung anaknya.
"Pergilah !! aku sedang ingin sendiri" usir Rena.
"Untuk kali ini ku mohon jangan membantah" sambung Rena lagi.
Membuat Arsen beranjak, mungkin Rena butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Ia akan pergi tapi nanti malam ia akan kembali dan membawa Rena serta Elvan pulang kerumah.
Arsen melangkahkan kakinya dengan gontai, semuanya terasa berat untuk ia jalani.
Sebelum memasuki mobil Arsen mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi Robert.
"Iya Tuan ?" ucap Robert di seberang sana..
"Temui aku di rumah !" balas Arsen dengan nada lesu.
"Baik Tuan"
Panggilan terputus, Arsen kembali memasukan ponselnya. Lalu membuka pintu mobil.
"Brengsek"
"Sialan !!"
"Aaaaahhhhh"
Berulang kali Arsen memukul stir mobil dengan keras, kepalanya terasa mau pecah karena masalah ini. Kenapa Talia bisa datang dengan membawa bencana pikir Arsen.
Ia memacu kemudi dengan kencang, jalan satu-satunya adalah berdiskusi dengan Robert, asistennya itu pasti akan memberikan jalan keluar untuknya.
"Awas kamu Talia, akan ku bunuh kamu" gumam Arsen.
Dinnnn -Diiiiiinnn.
Suara klakson mobil dari belakang tak di hiraukan, Arsen terus menjalankan mobilnya tanpa memikirkan yang lain. Ia bahkan tak perduli dengan keselamatan dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian Arsen tiba di rumah, ia melihat mobil Talia masih terparkir disana.
"Dimana dia bi ?" tanya Arsen pada Marni dan Leni.
"A--da dikamar tuan" jawab Marni ketakutan.
"Kenapa kalian membiarkan dia masuk ?" ucap Arsen kesal, ia langsung menuju kamarnya, dan membuka pintu dengan paksa.
Terlihat Talia sedang berbaring santai diatas kasur milik Arsen dan Rena. Dan semua itu semakin membuat Arsen naik pitam.
"Hei perempuan murahan, menyingkirlah dari sana !" bentak Arsen.
"Kenapa sayang ? bukankah ini juga akan menjadi kamarku"
"Jangan mimpi.." Arsen segera menarik tangan Talia supaya wanita itu segera menyingkir.
"Aww, Arsen sakit"
"Pergi kau dari sini"
"Tidak mau, aku akan tinggal disini. Kita akan menikah"
Arsen menyebikan bibirnya "Siapa yang akan menikahimu, sampai kapanpun istriku hanya Rena seorang"
"Kamu tidak mau bertanggung jawab dengan anak ini ? dia anak kamu Arsen"
"Berhenti bicara seperti itu, atau ku jahit mulutmu"
Mata Talia memerah, ada rasa takut terhadap Arsen. Ucapan laki-laki itu tak pernah main-main.
"Kalau kamu tidak mau menikahiku, aku akan bunuh diri" ancam Talia.
"Silahkan saja, aku tak peduli"
Talia terhenyak, ancamannya tak di takuti oleh Arsen.Ia harus memikirkan cara lain supaya Arsen mau menikahinya.
Pokoknya anak yang sedang ia kandung, harus lahir dengan sosok Ayah. Begitu pikir Talia.
"Keluar dari kamar ini ! dan jangan pernah injakan kakimu disini" Arsen menarik lengan Talia, menyeret wanita itu untuk keluar dari kamarnya.
Tanpa perasaan Arsen menghempaskan tubuh Talia.
"Awwwwww" Talia meringis memegangi perutnya.
"Da--rah" gumam Talia saat melihat darah keluar dari jalan lahir.
Arsen menunduk, benar saja disana ada darah. Seketika laki-laki itu panik.
"Talia, Lo gak papakan ?"
"Tolong Sen, aku takut dengan darah ini, aku takut terjadi apa-apa dengan anak kita"
"Akan ku bawa kerumah sakit"
"Siapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang" pinta Arsen.
Walau masih kebingungan Robert tetap menjalankan tugasnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Papa" teriak Elvan yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Mendengar teriakan Elvan. Segera Rena berlari menuju kamar. Ia duduk di bibir ranjang dan menarik tubuh Elvan kedalam pelukannya.
"Ada apa sayang ?"
"Mau cama Papa"
"Tapi papanya pergi sebentar, karena ada kerjaan. El sama mama aja ya"
"Ayo kita puang Ma, kelumah papa"
"Rumah El disini nak"
Rena menempelkan dagunya dipuncak kepala Elvan, sekuat tenaga ia menahan tangisnya, Elvan masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini. Rena menggigit bibir bawanya supaya tangisnya tak pecah.
"El mau kelumah papa" Elvan berontak.
"Elvan" bentak Rena, untuk pertama kalinya ia membentak anak nya itu, mungkin tanpa sadar akibat masalah yang sedang menimpahnya sekarang.
Elvan menunduk, ia takut dengan Rena.
"Maafkan mama nak, mama tidak bermaksud membentak El"
"El cuma mau cama papa ma, tenapa El di malah"
"Maaf nak"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di rumah sakit......
Talia sedang di tangani oleh seorang dokter, sementara Arsen dan Robert menunggu didepan ruang IGD.
"Sebenarnya ada apa tuan ?" tanya Robert.
"Dia hamil"
"Maksud tuan, nona Talia hamil ?"
"Iya, dan katanya itu anak ku. Tapi aku tak percaya"
"Ini pasti jebakan tuan, saya akan mencari tau semuanya"
"Memang itulah yang aku mau, semoga secepatnya kau menemukan bukti. Kau tau rumah tanggaku dan Rena hancur berantakan"
Arsen tertunduk lesu saat mengingat Rena, padahal baru pagi tadi ia dan sang istri bercanda gurau, baru pagi tadi ia menge cup mesrah kening Rena. Tapi semua nya berlalu begitu cepat, istrinya pergi bahkan untuk menatap wajahnya saja Rena tidak mau.
Tidak berapa lama seorang dokter wanita keluar.
"Dengan kelaurga pasien"
"Iya dok"
"Apa anda suaminya ?"
Arsen menggeleng, karena memang begitu adanya Talia bukan istrinya.
"Kalau begitu tolong sampaikan pada suaminya, kalau pasien tidak apa-apa. Pendarahan terjadi karena benturan terlalu keras. Bersyukur janin yang sedang ia kandung tak terjadi apa-apa" jelas dokter tersebut.
"Talia beneran hamil, tapi anak siapa ?" batin Arsen kemudian.
"Baik dok akan saya sampaikan" balas Arsen "Apa boleh kami melihat keadaan pasien ?"
"Silahkan"
Arsen dan Robert memasuki ruang IGD, disana Talia masih berbaring di atas ranjang rumah sakit. Tapi dalam keadaan sadarkan diri.
"Arsen anak kita tidak apa-apa kan?" tanya Talia ia berusaha menggenggam tangan Arsen, namun laki-laki itu menjauh dengan cepat.
"Katakan padaku Talia itu anaknya siapa ? itu bukan anakku karena aku tak pernah menodaimu"
"Ini anakmu Arsen, harus bagaimana lagi aku membuktikannya kalau ini anak kamu"
"Berhenti bersikap konyol Talia, katamu malam itu aku jatuh pingsan saat kau menemukanku di pinggir jalan, lalu kenapa bisa aku melakukan hal itu padamu"
Gleeekkkk.
Talia menelan ludahnya berkali-kali.
"Iya kan saat tengah malam kau terbangun dan seperti orang mabuk Arsen, disana kau melakukan hal itu"
"Ucapan nona Talia selalu berbeda, tenanglah tuan Arsen aku akan segera menyingkirkan wanita ini". batin Robert yang dari tadi menyimak obrolan antara Arsen dan Talia.
...-------...
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...