
"Kau...kau sudah mengingat nya... kau...kau sudah sadar dan ingat semuanya"
"Selama ini aku berpura pura amnesia, dan ku pikir otak jahat mu akan berputar arah jika melihat ku amnesia, dan tak akan mencelakai nya, tapi... untung saja itu amnesia yang di sengaja, jika tidak apa yang sudah kau lakukan padanya jika kau tahu" Jelas Brian.
Membuat Jesika yang mendengar nya dibuat melongo, Brian berbohong padanya...
"Kau..."Geram Jesika. Cintanya kepada Brian seakan sudah pudar semenjak bertemu di restoran, Bukan bertemu...lebih tepatnya menemukan Brian dan sela yang selalu bisa berdua dengan alasan pekerjaan.
"Jelly..." Panggil Brian kepada seorang wanita muda yang dari tadi berada di belakang nya tanpa di ketahui Jesika.
Mereka sekarang sedang berada di salah satu kamar hotel yang di pesan Brian.
Dia tidak ingin mengambil bahanya di saat Sela sedang berbaring lemah di rumah sakit sedang membutuhkan' pikir Brian.
Jesika yang memang saat itu hanya sedikit cerca rasa suka ya kepada Brian, Entahlah, memang suka atau tidak hanya Jesika yang tau.
Setelah mendapatkan pesan dari Brian sore tadi, dia seketika tersenyum dan langsung menyetujuinya permintaan Brian yang menyuruh nya ketempat ini.
Dan di sinilah dirinya....
Wanita muda yang di panggil jelly seketika maju dan berjalan ke arah Jesika yang seketika takut melihat nya, Bukan tanpa alasan, perempuan ini sangat terlihat datar, dingin, dan terlihat kejam.
Tanpa banyak bicara, wanita itu langsung saja mendaratkan tamparannya di wajah Jesika.
Pluk
Jesika hanya di buat melongo dengan memegang pipinya yang di tampar.
"Siapa kau!!! Kenapa menampar ku ha?!!" Teriak Jesika marah Ingin melawan balik. Namun...
Pluk
Pluk
Pluk
"Ini balasan nya jika kau menggangu nyonya kami" Jawab nya dengan dingin menyeramkan.
Belum sempat Jesika melawannya dan berucap balik.
Tamparan terus di layangkan oleh wanita tersebut, membuat dirinya menangis menjerit kesakitan menahan sakit di pipinya, jika dia mengelak, wanita itu dengan kejamnya menarik pipinya untuk melihatnya.
Pipi yang tadinya mulus dan putih terawat sekarang tinggal kenangan, tergantikan dengan wajah memerah serta lembab dan tak lupa dengan cap tangan dari wanita tersebut.
Itu atas perintah Brian yang sudah berdiskusi bersama teman temannya, Ingin sekali dia menghilangkan nyawa nya, Namun... Rey menyarankan Hanya di hukum saja sebagai pelajaran yang jera, dan hukuman apa yang cocok untuk Jesika.
Akhirnya mereka memilih untuk menamparnya saja, Bukan Brian sendiri yang menampar nya, melainkan anggota dari mafia mereka yang perempuan.
Brian memang kejam, Namun... jika menyiksa seseorang perempuan, dia memilih menyuruh bawahnya saja yang sama sama perempuan.
Kata kata yang dia pegang sampai sekarang "Jika seorang pria sejati tidak akan melukai wanita, apa lagi wanita itu yang kita sayangi sendiri, kecuali demi kebaikan keduanya, dia dan aku"
Lima puluh kali tamparan sudah terjadi, dan kelima puluh itulah Jesika di buat pingsan begitu saja di lantai kamar itu. Siapa yang kuat jika sampai mendapat tamparan sebanyak 50 kali, jikapun kuat... mungkin akan terus menjerit kesakitan, kecuali wanita itu memang bukan wanita sembarang, melainkan wanita tahan banting.
Dengan kata kata isyarat hanya dengan mengangkat satu tangan saja, wanita itu menghentikan layangan tangannya.
"Baik Bos"
Brian pun mendekati tubuh Jesika yang tidak sadarkan diri itu. Dengan mengambil suntikan di kantung bajunya dan langsung menyuntiknya di tangan Jesika begitu saja.
"Kenapa Bos?" Herannya, karena biasanya jika seorang wanita sasarannya, mereka akan di tinggal begitu saja.
"Dia tidak akan mengingat pulang, mungkin namanya sendiri saja dia lupa, walaupun akan sembuh, dia tidak akan mengingat dua tahun yang dia lewati, tahun ini dan sebelumnya" Jelas Brian, membuat wanita itu melongo di buatnya, namun dia tetap paham apa yang di ucapkan Brian.
"Waaah, baru kali ini aku mendengar bos berucap dengan panjang kali lebar" Batin wanita itu.
"Baik Bos, akan aku kerjakan" patuhnya dengan sopan.
Setelah mendengar itu, Brian akhirnya kembali ke rumah sakit dimana sela berada, begitu juga semua temannya berada di sana atas perintah, bukan hanya perintah nya saja, mereka juga akan ke sana tanpa di suruh sebenarnya.
Wanita itupun langsung membawa wanita tersebut bersama para temannya yang juga di kelompok Mafia yang sama, dia menghubungi agar membantu nya, dan yah, mana mau dia membawa Jesika, dia menyuruh temannya juga untuk membawanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brian yang baru saja masuk di kamar rawat dirinya sekarang sedang di tempati sela itu seketika terdiam ketika melihat mamah Sinta dan bang Nanda sedang menatapnya.
Berbeda tatapan, namun sama sama tak bersahabat. Mamah Sinta yang menatap nya kecewa bercampur sedih, sedangkan bang Nanda sedang menatapnya tajam.
"Tante...maafkan Brian tak bisa menjaganya lagi, tapi Brian janji... Brian tidak akan kejadian ini terulang kembali... Brian janji tan.." Ucap Brian mendekati mamah Sinta dengan memegang tangannya.
"Sudah jangan meminta maaf, ini bukan salah mu...ini kecelakaan, aku sudah memaafkan mu" Ucap mamah Sinta.
"Gak bisa begitu mah,ini salahnya... kenapa dia tak menjaganya jika dia tau jika adikku dalam bahanya" Marah bang Nanda tak terima jika sang mamah memaafkan begitu saja.
"Sudah diam nanda...adikmu sedang istirahat.." Jawab Sinta pelan, membuat Nanda seketika terdiam.
Ya, memang sela tadi sudah tersadar namun tidak sampai membuka matanya, mungkin karena lelah atau obat bius yang dia serap sehingga memilih beristirahat langsung saja dengan tertidur.
.....
Setelah cukup malam, akhirnya mereka pulang, beberapa kali Brian katakan untuk pulang saja untuk beristirahat, beberapa kali juga mereka semua menolak, dengan alasan mereka juga ingin menemani sela jika dia butuh sesuatu.
Namun akhirnya mereka juga pulang dengan ucapan Brian yang akan menjaganya.
Di sinilah sekarang...
Dalam ruangan atau kamar Brian itu hanya tinggal mereka berdua, dengan Brian yang duduk di sopa yang dia dekatkan dengan kasur yang di atasnya terdapat sela.
"Maafkan aku sayang...maafkan aku karena sudah berbohong padamu, tapi sungguh...aku melakukan ini untuk kita berdua... untuk keselamatan mu sayang, aku gak mau jika kamu kenapa napa kayak gini" Ucap Brian sendirian, dengan memegang tangan sela dan menggenggam tangan itu di pipinya.
Dia merasa bersalah sekarang...
Tanpa dia duga, sela membuka matanya dan melihat nya, dengan tersenyum, tangan sela perlahan mengusap kepala Brian agar melihat nya.
Sayang...maaf...maaf aku mengganggumu yah?" Ucap Brian.
"Tidak, aku hanya terbangun ketika mendengar seseorang sedang menjelaskan semuanya" jawab sela tanpa memudarkan senyuman nya.
.
.
.
Bersambung 🍁