Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
PERJALANAN KE APARTEMEN



"Iya bang"Angguk sela.


Di tempat tenda.Pandi yang sudah mendapatkan informasi yang dia cari prihal semalam,dirinya langsung mendekati kenzo yang tidak jauh dari tendanya.


"Tuan,saya sudah mengirimkan nya melalui email"Ucap pandi mengingatkan ketika kenzo belum membukanya.


"Nanti ku baca"Ucap Kenzo.


Di dalam mobil angga,sela hanya bisa diam melihat kelakuan empat pria di dalam satu mobil itu dengan malas.


Mereka semua Ternyata ikut mengantarkan sela ke apartemennya dengan satu mobil(angga) tanpa berganti pakaian semalam.


"kenapa dengan wajahmu itu hem"Tanya brian sambil merangkul sela.


"Sebaiknya Kalian jangan ikut mengantar ku tau"Jawab sela sebal.


"Kenapa memangnya,aku kan abang mu"Tanya rey bingung yang duduk di samping Angga (menyetir).


"Kalian harus bekerja bukan, sebaiknya jangan buang waktu kalian dengan mengantarku"Ucap sela.


"Tidak, kami tak membuangnya,kami menambah waktu kami bersama mu,apa kamu tak kangen dengan ku sayang"Ucap brian tersenyum menatap sela.


Sela yang di tatap seperti itu otomatis membuatnya malu,dan mendorong brian agar sedikit jauh.


"Apaan sih,gak usah panggil seperti itu tuan brian"Ucap sela, diiringi candaan.


"Apa kamu bilang,tuan brian"Ucap Brian pura pura marah.


"Iya,Tu an b rian"Jawab sela sambil tertawa kecil.


"Kamu ini"Ucap brian sambil menggelitik pinggang sela.


"Haha, jangan brian,ahahaha,brian sudah sudah"Udah sela yang diiringi tawa.


"hahaha,rasakan ini"Ucap brian terus menggelitik sela.


Mereka yang melihat Ikut tertawa melihat kelakuan mereka berdua.


"Sudah hentikan hahaha"Ucap sela diiringi tawa sambil bergeser mendekati deril yang duduk di samping kirinya.


"Pak dokter,tolong hentikan dia, hah hah"Ucap sela capek Ketika sudah tak di gelitik Brian.


"Sudah"Ucap deril melihat brian.


Sela yang sudah mulai tenang dengan rasa tertawa sekaligus capek, dirinya melihat brian di sampingnya, tapi bukan itu yang dia lihat,mata nya hanya berfokus ke lengan kiri brian yang tertutupi lengan baju mengeluarkan darah kembali.


"Dev, tangan mu"Ucap sela memegang tangan brian dengan khawatir dan langsung menggulung baju lengan brian.


Suasana yang tadinya ceria dengan diiringi tawa sela,tiba tiba saja terhenti ketika mendengar ucapannya, dan langsung berfokus menatap sela dan Brian, kecuali angga yang Sedang menyetir.


"Aku lupa jika tangan mu tertembak"Ucapnya lagi.


"Apa ini sakit,apa kau membawa obatnya"Tanya sela yang tak mendapatkan jawaban dari brian yang hanya melihatnya dengan tersenyum.


"Aku suka jika kau seperti ini"Ucap brian.


"Tapi aku tak suka itu"Jawab sela pelan.


"Apa ini sakit"Tanya sela kembali.


"Tid.."Ucapan Brian terhenti dan seperti berpikir sebentar.


"Auh,tentu saja sakit"Ucap brian dengan memegang tangan nya seperti kesakitan.


"Biar ku obati"ucap Sela.


"Pak dokter,apa kau membawa obatnya"Tanya sela ke deril.


"Tidak,aku memang membawa alat yang lain,tapi untuk perban dan semacamnya sudah habis,dan semalam itu yang terakhir"Jawab deril dengan membuka alat kedokteran nya semalam dengan di angguki sela.


"kita berhenti di apotik dulu ya bang ga"Ucap sela.


"Ngapain"tanya brian yang tak di jawab sela.


Setelah samapi di apotik, sela langsung saja turun dan masuk ke dalam apotik membeli peralatan untuk brian.


"Kenapa kau perban nya tidak benar hah"Bentak brian ke arah deril.


"Sudah ku perban dengan baik,tapi kau saja yang salah, sudah ku bilang jangan terlalu banyak di gerakan"Jawab deril.


"Jadi maksud mu, ini salah ku,begitu"Tanya brian ngegas.


"Iy..Bukan"Ucap deril.


"Sebenarnya aku sedikit khawatir dengan mu bri"Ucap deril serius.


"Dan juga sela"Lanjutnya.


"Aku khawatir jika dia tau tentang mu,apa dia akan per..."Ucapnya deril terpotong oleh brian.


"Jangan katakan itu, Jika kita tak memberitahukan nya,dan tetap seperti ini, dia tidak akan tahu"Ucapnya dengan sedikit khawatir di hatinya.Bagaimana jika ucapan deril akan terjadi.


"Tapi sampai kapan kau akan menyembunyikan nya, apa Sampai dia tau sendiri, terus sudah pergi jauh darimu,terus kau akan mencarinya kembali,begitu?"Ucap deril.


"Aku akan menyelesaikan urusan yang semalam yang tertunda, tentang pelaku yang membuat kami berdua celaka,dan atas motif apa dia melakukan itu,jika tak ada hal yang lainnya"Ucap brian memberi tahu.


"Aku juga berpikiran hal sama dengan mu bri"Ucap Rey.


"Akan ku cari permasalahan nya dengan anggota pengintai ku"Lanjutnya.


"hemm"Gumam brian.


"Kenapa sela lama sekali,apa ada masalah"Ucap Brian teringat sela dengan melihat apotik.


Tidak berselang lama, sela pun keluar dari apotik dan langsung masuk ke dalam mobil dan melihat wajah mereka satu persatu.


"Kenapa dengan kalian?"Tanya sela bingung.


"kenapa dengan kami"Tanya balik deril tersenyum.


"Terserah kalian lah"Ucap malas sela ketika pertanyaan di Jawab pertanyaan dan memilih membuka obatnya dan mengobati tangan brian.


"Apa kau tak penasaran kenapa aku bisa di sana"Ucap brian sambil melihat sela yang sedang mengobati nya.


"Apa aku harus bertanya"Ucap sela.


"Jika kau khawatir,pasti bertanya bukan"


"Apa jika aku bertanya,kau akan menjawabnya"


"tentu saja tidak"Jawab brian tersenyum bercanda.


"Aku tak akan bertanya,tapi aku minta,jangan sampai terluka begini dev"Ucap sela sambil membalut lukanya dan berhenti sejenak menatap nya.


Brian yang di tatapan seperti itu hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Apa kau janji"Ucap sela kembali yang lagi lagi cuma di angguki brian dengan tersenyum.


"Aku tak bisa janji seperti itu sayang,maaf" Ucap brian.


Sela yang sudah membalut luka brian membereskan peralatan nya dan menaruhnya di tempat penyimpanan di dalam mobil.


"makasih sayang "Ucap brian.


"iya"Jawab sela.


Tidak lama kemudian, mereka semua akhirnya sampai di depan apartemen sela.


"Apa kamu Tidak apa apa sendiri sayang"Tanya brian sebelum sela turun.


"Tidak apa apa"Tanya sela ketika sudah di luar mobil.


"Apa kalian mau masuk dulu"Ucapnya.


"Lain kali saja dik,kami mau ke perusahaan dulu"Ucap rey.


"Dan aku,apa bisa mampir sekarang, kebetulan rumah sakit tak ada pasien"Ucap deril yang langsung dapat tatapan tajam brian.


"Canda bri,canda"Ucap deril lagi dengan cengengesan.


"Kami pamit dulu sel,dah"Pamit angga sambil menghidupkan mobilnya.


"Dah bang,dah pak dokter"Ucap sela melambaikan tangan.Setelah melihat sela,angga pun menjalankan mobilnya pelan.


"Uhuk,tak ucapkan perpisahan rupanya"Ejek deril melirik Brian yang terlihat datar.


"Bisa bisa nya dia tak mengucapkan nya"Ucap brian sedikit kesal.


Baru saja dirinya berhenti berbicara, terdengar suara sela sedikit berteriak.


"Dah brian sayang,hati hati"Ucapnya yang membuat mereka kaget, Sedangkan brian begitu bahagia mendengar nya.Sampai² mobil yang di kendarai oleh angga berhenti mendadak.


ciiiit'


"Putar arah ga"Perintah brian saking senangnya.


.


.


.


Bersambung 🍁