
"Devan... seperti nya... aku.. aku..aku tak bisa.."Ucapan Gugup sela tiba tiba terhenti ketika ada suara telepon masuk dari handphone sela.
"Sekertaris sela, kau ada dimana" Ucap dari telepon Ketika terhubung.
"Iya sekertaris pan, bentar lagi aku akan sampai, aku lagi di restoran dekat perusahaan" Jawab sela yang ternyata pandi.
"Gak perlu buru buru, hanya tanya jadwal tuan Kenzo apa"
"O oh, satu jam ke depan tidak ada, setelah itu tuan kenzo ada pertemuan dengan para investor perusahaan untuk membahas pembangunan di wilayah c " Ucap sela sambil melihat berkas di tangannya yang dia simpan di tas kantor nya.
"Baik kalo begitu, aku tutup telponnya"
"ya"
Tut 'sambungan telepon pun terputus.
Ketika telepon terputus, sela pun melihat brian yang sedang menatap nya serius.
"A ada apa?"
"Tadi mau bilang apa?"
Seketika sela pun terdiam...Sedang berpikir keras di otaknya..apa dia harus mengatakannya,apa dia akan marah...
"Jangan khawatir... katakan saja sayang" Ucap brian lembut ketika melihat gelagat sela yang terlihat cemas.
"Devan...apa kau ingin sekali secepatnya menikah dengan ku"Tanya sela sangat hati hati.
"Kenapa?" Heran brian dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ja jangan berpikir yang aneh aneh dulu dev"Ucap sela cemas jika brian berpikir yang tidak-tidak ketika dirinya bilang begitu.
"Katakanlah... jangan membuat ku menunggu penasaran seperti ini" Ucap brian.
"Devan... seperti nya kita jangan menikah dulu"Ucap sela dengan cepat membuat brian melebarkan matanya kaget.
"Apa maksudnya ini... apa kamu menolak ku..." Kesal brian menatap sela tajam.
Sungguh sangat sangat kaget dan marah jika itu terjadi dengan Brian.
"Bukanya aku menolak..mana mungkin aku menolak orang tampan seperti mu,apa lagi kaya" Ucap sela tersenyum kearah brian.. berharap brian tak jadi marah lagi padanya.
Namun sepertinya nya itu tidak berhasil... terlihat wajah Brian berpaling padanya tak ingin melihat wajahnya.
TID
TID
TID
"TUAAAAAN APA KAU ADA DI DALAM... CEPAT SINGKIRKAN DULU MOBILNYA... MOBILKU TAK BISA KELUAR "
Suara klakson dan teriakan membuat brian tambah marah dan kesal sambil membuka kaca mobil sampingnya.
"Hey...apa aku mengganggu mu hah" Teriak brian dengan menatap sang peneriak tadi dengan tajam.. seketika membuat nya terdiam.. Takut juga melihat nya yang ternyata pemilik perusahaan BD.
"Ti tidak tuan.. lanjut kan saja" Ucapnya pelan Tanpa terdengar oleh sela maupun Brian, tapi brian bisa paham apa yang dia bilang.
"Huh...untung dia tak mengenal ku" Lanjutnya dengan lega.
"Emang siapa tuan tadi" Tanya perempuan di samping bersamanya.
"Bos ku di perusahaan BD..Tuan brian Devano" Jawabnya.
"Ayo jalan kalo begitu...selagi dia tak mengenal mu, cepat datang ke perusahaan sebelum dia datang"
"Hem..." angguk nya, baru saja ingin memanaskan mobil, dirinya teringat..
"Tapi Tuan brian masih menghalangi mobil kita" Ucap lagi tersadar.
Posisi mobil brian di belakang mobilnya.. sedangkan samping kiri dan kanan banyak mobil yang lain, di depan nya tembok restoran.
"Jangan marah... dengarkan aku dulu mangkanya "kesal sela spontan memukul pundak brian saking kesal nya.
Membuat Brian malah melongo dapat perilaku seperti itu dari sela, untung nya saja dirinya tidak marah kepada sela.
"Kamu tau kakak ku kan?"Ucap sela yang di angguki brian.
"Aku gak mau menikah jika abang ku saja belum"Lanjut nya memberikan alasan nya.
"Tapi dia pria, biasanya boleh kan"
"Tapi aku beda, aku jauh lebih muda darinya, mana mungkin aku meloncati abang ku sendiri"
"Mana mungkin lah, kau kan memang, terbaik "Ucap sela dengan nada ala kartun halilintar ketika mengatakan "terbaik 👍"
Membuat Brian tersenyum melihat tingkah sela yang sudah semakin dewasa namun masih terlihat lucu di mata brian.
"Ya sudah kalo gitu, kita berangkat sekarang"
"iya"
Setelah mengatakan itu, akhirnya Brianpun menghidupkan mobilnya dan akhirnya pergi ke perusahaan yang akan sela datangi.
Cuaca yang begitu terik dan panas membuat sebagian orang menutup kepala mereka.
Ada yang pakai topi, payung, berteduh, dan ada juga hanya menggunakan telapak tangannya.
Begitu juga seperti seorang wanita paruh banyak yang terlihat sangat sehat sedang menutup kepala nya dengan satu tangan nya, berniat menghindari teriknya matahari sambil membawa sekantong kresek belanjaan.
Dengan sambil berjalan dengan melihat kanan kiri untuk menyebrang.
Di rasa aman, wanita itupun menyebrang dengan Tanpa melihatnya kanan kiri setelah nya, tanpa mengetahui jika mobil yang baru saja datang dengan sedikit lebih cepat dari biasanya sedang mengarah padanya.
TID
TID
"YONYAAAAA AWAAAAAS "
"MOBIIIIIIL"
TID TID
"AKHHHHHH"Teriaknya ketika dirinya menyadari dan sudah dekat dengan mobil.
Begitu juga dengan para orang yang sedang di tempat yang sama seketika berteriak.
"AWAAAAAS"
BRAK
BRAK
"NONA"Teriak semua orang ketika seorang anak muda menyelamatkan nyonya tersebut.
Yang mengakibatkan dirinya yang terjatuh, begitu juga wanita tadi, namun dirinya tidak apa apa, berbeda dengan seorang perempuan yang baru menyelamatkan nya yang terlihat tergeletak karena pingsan tertabrak mobil tadi.
Begitu juga keadaan mobil yang setelah menabrak dirinya membanting setir yang mengakibatkan mobil ikut menabrak pembatas jalan dan sedikit berdarah di bagian dahi.
"Nona...apa kau tida apa apa?"Sebagian orang mengatakan itu dan menghampirinya.
Di tempat lain
"Tuan, nyonya besar kecelakaan, dan sekarang dirinya sedang kerumah sakit "Ucap si penelepon melaporkan.
"APA!" Teriaknya kaget.
"Di rumah sakit mana sekarang, apa sedang di rumah sakit ku?"Lanjut nya.
"Bukan tuan, di rumah sakit tidak jauh dari kampus dekat perusahaan kita" Jawab sang penelepon.
"Aku akan ke sana"Ucap nya langsung mematikan sambungan telepon begitu saja.
"Aaah dasar, tidak dia tidak dengan tuan ku, sama saja, bilang terimakasih lah setidaknya" kesal si penelepon dengan berdecak melihat handphone nya.
Dia adalah sekertaris han yang Ingin ke perusahaan setelah menemui klien tuannya. Tapi tak sengaja dirinya melihat kerumunan yang sedang kecelakaan yang ternyata orang yang dia kenal.
Karena dirinya sedang sangat sibuk, jadi langsung menghubungi sang anak dari wanita tersebut dan menyuruh nya ke rumah sakit setelah dia tau rumah sakit mana yang mereka datangi.
Di ruangan yang sangat tercium bau obat obat, yaitu rumah sakit.
Terlihat heti yang berusaha membujuk seorang wanita paruh banyak yang tidak enak hati padanya.
Ya, nona tadi adalah heti yang sudah pulang namun ingin berjalan jalan di daerah dekat kampusnya, tak sengaja melihat seorang wanita yang hampir tertabrak dan menolongnya.
"Sudah nyonya, ini hanya cedera saja, Besok juga pasti sembuh, iya kan dok" Ucap heti sambil melihat mereka di sana (dokter, satu suster dan wanita tadi).
.
.
.
Bersambung 🍁