
Bahkan sampai ingin melayangkan tamparan ke wajah putri bungsunya itu jika tangan seseorang tak menghalanginya.
"Jika tangan mu di pergunakan hanya untuk kekerasan yang tidak baik, apa sebaiknya tangan mu ku hilangkan saja" Ucap deril dingin dan tatapan menusuk sambil menegang tangan lita yang hampir saja mengenai heti, di susul dengan pisau bedah yang ada di sakunya dia keluarkan, untuk menambah suasa ketakutan lita.
"Si siapa kau" gugup lita karena takut melihat pisau bedah yang mengkilap di tangan kiri deril.
"Siapa kau, lepaskan tanganku" Teriak lita memberanikan diri.
Deril yang mendengar itu langsung saja melepaskan tangannya dengan cara di dorong cukup kuat, membuat lita sampai terduduk di lantai dengan merasa kesal.
"Kau tadi bertanya siapa aku bukan?" Ucap deril mendekatkan wajahnya dengan lita dengan wajah tersenyum miring.
"Aku dokter ahli bedah, jika kau ingin tangan mu di bedah sekarang..boleh juga..apa kau mau"Lanjut nya dengan tersenyum, bukan senyuman hangat, tapi senyuman mengerikan.
"Ja jangan sembarang bicara kamu, aku bisa laporkan kau ke polisi jika kau berniat jahat padaku"
"Aaah, jadi takut aku, apa lagi menyangkut polisi" Ucap deril menjauhkan diri dari lita seolah olah dirinya takut dengan ancaman ya, padahal sama sekali tidak.
Heti masih terdiam melihat punggung deril di depannya, karena tadi dirinya langsung di halangi tubuh deril ketika menangkap tangan mamahnya.
Salsa pun membantu sang mamah berdiri...
"Sudah impas, kau menolong mamah ku,dan ku menolong mu" ucap deril datar melihat heti.
Hetipun seakan paham arah pembicaraan, jadi dia menolong ku karena ini.
Setelah mengatakan itu, deril pun ingin pulang setelah menurut nya beres, namun tiba tiba langkah nya terhenti ketika heti berbicara dengan nada kecil ke arahnya, Yang otomatis hanya kami yang dengar.
"Tidak" tolak deril mendengar ucapan heti.
"Tuan, ayolah, jika aku di sini mamah ku akan berperilaku seperti ke pada sela dulu" lanjut lagi dengan wajah memohon.
"Baguslah, biar kau juga merasakan nya" dingin deril menjawab.
"Hey, apa yang sedang kau bicarakan, sana masuk, akan ku beri pelajaran kau karena sudah menentangku" Tegas lita dengan nada marah.
Deril yang melihat itu mengisyaratkan sela untuk cepat, yes, berarti dia setuju membantu ku'
Heti buru buru langsung ke lantai atas dimana kamarnya berada dan membereskan barang barang yang sangat dia perlukan saja, seperti pakaian ganti, sepatu untuk kuliah, dan atribut kuliah lainnnya.
Setelah di rasa beres, dirinya langsung berjalan ke lantai bawah di mana tadi terjadi cek cok.
"Hem" Angguk deril dan berjalan keluar mension tersebut menaiki mobilnya.
"Mau kemana dek?" Salsa angkat suara ketika melihat heti yang juga ikut keluar,dan yang membuat dia heran ada tas sedang di punggungnya.
"A aku mau pergi" Jawabnya menunduk takut jika di marahi.
"Mau kemana?" Tanya salsa.
Seorang kaka pasti ingin tau dan ingin adiknya baik baik saja, apa lagi mereka sangat akur sebagai adik dan kakak.
"Aku gak mau kaya dulu, aku sadar aku selalu jahat ka, entah itu di luar atau pun di dalam rumah,namun hanya jahat padanya saja( sela) ketika di dalam" Jawab heti.
"HEY..AKU HITUNG SAMPAI DUA...SATU DUUUU" Belum sempat sampai dua, heti sudah berada di dalam mobil deril dengan cara berlari.
Biarkanlah jika mamah nya marah, dia tidak mau ketularan virus jahat dari ibunya lagi, tapi bagaimana dengan kaka' pikir heti.
"Ekhm" Batuk deril memecahkan keheningan, membuat heti seketika menatapnya.
"Apa dia benar benar berubah" Batin deril.
"Ada apa tuan, apa anda tiba tiba batuk" tanya heti.
"Aaah, dia itu sudah jahat pada adik ku, apa harus begitu saja di maafkan" Batin deril seakan sedang berpikir licik.
"Akhh ada apa, apa kau ingin membunuh ku hah" kesal heti ketika tiba tiba deril memukul setir dengan keras.
"Ya, karena kau sudah membuat adikku menderita di rumah mu" Jawab deril spontan.
"Siapa adik mu, aku tak pernah lihat, dan tidak tau, kau salah orang kali"Ucap heti yang tidak tau siapa yang deril bicarakan.
"Sela...adikku...dia adikku yang paling berarti bagi kami, dia selalu membuat kami tertawa dengan tingkahnya, tapi setelah ketemu, sayangnya dia sudah sedikit dewasa dan tidak terlalu mementingkan candaan setelah bekerja" Ucap deril.
"Sela" Gumam heti terdiam mengingat nya.
"Dimana dia sekarang, aku harus bertemu dengan nya" Lanjut nya dengan tergesa gesa.
"Ada apa dengan mu, jangan mengganggu ku ketika mengemudi begini" Ucap Deril merasa terganggu dengan kelakuan heti.
"Tapi aku sangat ingin bertemu dengan nya, aku mohon"pinta heti mengatupkan kedua telapak tangan nya.
"DIAM " Bentak deril saking kesal dengan heti.
Heti pun seketika terdiam menunduk dan melihat ke arah depan seperti seharusnya.
"Dimana kita?" Tanya heti ketika menyadari jika mobil yang deril bawa sudah berhenti.
"Kau bilang tadi ke apartemen bukan, ini yang aku dapat, ini mungkin agak mahal menurutmu, tapi fasilitas nya lebih menjanjikan "Ucap deril dengan sedikit mengejek.
"Iya, terimakasih kalo gitu tuan" Ucap heti tiba tiba berlaga sopan.
"Hem, dan kau menggangu jam istirahat ku" Kesal deril melirik arlojinya sebentar.
Setelah mengatakan itu, deril langsung saja menyuruh heti turun dan langsung menjalankan mobilnya begitu saja tanpa berbicara sepatah katapun.
"Dingin sekali, datar, tidak perhatian" Maki heti melihat mobil itu melaju dengan sampai tidak terlihat.
"Namun tampan" Lanjut nya dengan tersenyum.
"Akhhh, bicara apa aku ini, suh suh suh sudahlah" Ucap sela tersadar dengan mengibaskan tangannya seperti mengusir pikiran yang menurutnya negatif.
Mana mungkin juga aku harus memikirkan nya, tapi aku suka sifat nya' pikir heti.
Sengaja kebetulan atau tidak, ternyata apartemen yang heti datangi adalah tempat sela berada di apartemen yang sama, namun beda rumah atau kamar (sela lantai 45 sedangkan heti lantai 40), apartemen nya tidak ada nomor, tapi langsung nama mereka sendiri yang di pajang di pintu masuk.
"Semoga saja ini bisa ku lewati, semangat heti, kau akan belajar dan berusaha mandiri, kau harus belajar seperti adik mu itu" Ucap heti sebelum membuka pintu masuk tempatnya dengan menghembuskan nafas dari dalam dalam sebelumnya.
Klek 'suara pintu terbuka'
"Waaah bener kata dia, apartemen nya sangat sangat its the best, untung saja dia yang banyakan selama sebulan, jika aku yang banyar, keburu habis ni uang dalam dompet" Ucap nya dengan tersenyum senang.
Dia pun akhirnya membereskan barang barang yang tadi dia bawa dari rumah ke tempat yang seharusnya, setelah dirasa pas, akhirnya dirinya beristirahat di kasur yang lumayan empuk.
"Dia siapa...akhhh, seharusnya aku tadi tak perlu kesal dan marah padanya" Ucapnya mengingat perilakunya tadi yang sangat buruk.
.
.
.
Bersambung 🍁
Like Komen dan shere Bantu dukung juga karya ku Yang ini Kaka semua, akan ku usahakan jika banyak yang minat baca untuk selalu update walaupun satu bab satu hari ☺️
Jangan lupa subscribe, terimakasih 🤗