Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
AMNESIA



"Operasi nya berjalan lancar, Aku bisa yakin jika umur nya panjang dia pasti akan siuman dan sadar. namun..." Ucap deril terhenti, seperti tak bisa meneruskan kalimatnya yang membuat dia sedih.


"Namun apa, katakan Der!, jangan buat kami takut dengan ucapan mu itu "Ucap rey dengan ngegas.


"Seperti nya dia tidak akan mengingat kita, luka tembakan di belakang kepalanya sangatlah parah, dia hidup saja itu sudah anugrah" Jelas deril.


"Ini sudah biasa terjadi jika ada pasien yang mengalami kecelakaan parah di kepala nya jika dia selamat, dan ini terjadi pada Brian " Lanjutnya.


Rey dan angga terdiam mendengar penuturan deril, entah apa yang ada di pikiran keduanya, tampang wajah mereka merasa aneh, namun seketika merubah wajah mereka menjadi seperti biasa, kaget dan terlihat syok. Seakan dia tau apa yang harus dia lakukan.


"Jadi, jadi dia tidak bisa mengingat kami ketika sadar " Ucap Reyhan dengan terlihat kaget bercampur sedih.


"Bukan kau saja Rey, aku juga...andai aku waktu itu bisa melindungi brian, mungkin ini tidak akan terjadi " Ucap Angga dengan sedih, bahkan terlihat menangis sesal.


"Jika kau bisa melindunginya, pasti yang di dalam bukan brian, tapi kau..."Timpal Deril melirik angga.


Tanpa mereka sadari, seorang pria yang memakai topi, kaca mata putih bulat, dengan memakai jas dokter, dan tak lupa dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Jika ada orang yang melihatnya, mungkin akan mengira jika dia salah satu dokter yang berada di sana.


Namun semuanya seperti nya salah, terlihat dia menarik kamera yang berada di fase bunga yang dari tadi merekam rey, angga dan deril yang berada di kamar rawat.


Dengan tersenyum aneh, dia membawa kamera itu ke saku jas dokter yang dia pakai dan pergi begitu saja meninggalkan tempat nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dok... permisi "panggil salah satu suster ketika terhalang jalannya oleh deril dan teman brian. Dengan mendorong berangkar yang ditempati brian di atasnya yang belum tersadar.


Deril yang mendengar ya langsung saja menyingkir dan mempersilahkan suster.


"Oh ya sus, tempatkan tuan ini di kamar nya yang biasa dia pakai" Titah Deril.


"Baik dok" Jawab nya dan pergi setelah mengatakan itu.


"Ekh der, jangan kira aku b***h nya" Ucap Rey dengan suara pelan di depan deril namun terlihat serius.


"Jangan bahas di sini, aku tidak tau apa rencana nya, aku hanya mengikuti perintah nya saja "Jawab deril dengan sama seperti Rey.


Rey hanya diam mengangguk paham, dia juga sedikit heran dengan sikap Brian tadi yang menyuruh nya dan angga agar bersikap seolah olah Brian akan mati saja, padahal luka yang parah yang di rasakan Brian sekarang sudah biasa Brian dapatkan.


Tapi yang membuat dia paling heran dan aneh, Luka yang brian dapat tidak sampai kepalanya, tapi kenapa bisa sampai amnesia, apa memang terluka di bagaian kepala namun tidak di ketahui oleh nya' pikir Rey dan angga bersamaan.


"Sela menelepon lagi tadi, apa kita harus memberitahu nya" Tanya Angga menatap rey dan deril bergantian.


"Jika dia tau, dia pasti akan sedih melihat nya, sebaiknya jangan" Jawab Rey.


"Dan jika dia tidak tau, dia pasti akan sangat khawatir, dan sama saja dia akan merasa sedih dan bahkan tertekan jika ada seseorang yang sangat dia ingin temui, banyangkan saja jika kau yang mengalaminya, bagaimana perasaan mu jika sangat merindukan seseorang namun tak pernah melihat nya" Jawab Deril.


"Aaah, sayangnya kau tak punya perasaan seperti itu" Lanjutnya dengan kesal ketika melihat tampang rey dan angga hanya diam datar melihat nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Orang yang di panggil nona seketika tersenyum, dengan di iringi Tertawa bergembira dari wajahnya.


"Akhirnya... akhirnya dia bisa melupakan gadis itu, dan saatnya aku mengambil pria ku" ucapnya dengan senyuman yang terus mengembang.


Keesokan harinya...


Brian yang baru saja tersadar dari tidurnya.. entahlah..semalam dia tidur atau pingsan, semua orang tidak ada yang tau, kecuali dirinya sendiri.


Namun dia merasa seperti terlihat aneh Ketika membuka matanya, terasa asing melihat setempat, sedikit bau obat yang dia rasakan sekarang.


"Kamu sudah sadar sayang"


Mendengar ada suara seorang wanita di samping nya, dia langsung saja melihat nya dengan tampang dingin dan datar, namun dia terlihat bingung melihat wanita itu yang juga sedang tersenyum menatap nya.


"Kau siapa?, dan Kenapa saya ada di sini?" Tanya Brian tanpa ingin menatap nya.


Wanita itu tiba tiba memasang wajah sedih, dengan mata yang mulai berkaca kaca, seakan ingin menangis melihat brian yang sudah lupa padanya.


Seolah olah dirinya sangat sangat sedih dan langsung menghambur tubuhnya ke tubuh Brian, spontan membuat Brian menjauhkan tubuh wanita tersebut dan mendorongnya nya karena geram.


Wanita itu sampai tersungkur di lantai karena ulahnya, namun tak ada rasa ingin menolong sama sekali dari hatinya.


Wanita itu tidak marah, hanya menampakkan wajah yang Masih terlihat sedih, namun sungguh... dia sangat senang dengan dengan melihat brian yang sekarang.


"Aku Jesika sayang..., tunangan mu...apa kamu benar benar sudah lupa padaku hem...lihat ini" Ucap wanita tersebut dengan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya, sama persis seperti yang sela kenakan, seperti sepasang dengan cincin yang Brian pakai.


Ya, dia adalah Jesika yang semalam menyuruh salah satu ajudannya untuk mencari dan mengetahui keadaan Brian.


Setelah mendengar dari ajudannya tentang keadaan Brian, dia merasa sangat senang, dan berniat akan menemui Brian, dan ingin melupakan ingatan Brian tentang sela selamanya.


Biarkan ucapan sang ayah yang terus melarangnya untuk menyukai brian, jika dia sangat ingin bersama Brian, tidak ada yang salah bukan' pikirnya.


Brian yang mendengar itu seketika melihatnya, matanya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Jesika, dan beralih melihat jari manisnya.


"Sangat mirip?, apa dia benar tunangan ku?" Ucap brian pelan, namun masih bisa di dengar oleh Jesika yang terus menampakkan senyumnya.


"Berhasil, semoga saja dia mempercayai ku jika dia tunangan ku, jika tidak...awas saja kau, tidak ada orang yang bisa memilikimu...jadi perempuan itu juga tak bisa memilikimu" Batin Jesika, mengingat sela tiba tiba merasa marah di hatinya.


"Mmm, dan siapa tadi, Brian?, aku Brian?, tunangan mu?" Tanya Brian dengan nada datar dan dingin yang tak pernah lepas dari tubuhnya itu.


"Aaah aku lupa jika dia sedang amnesia "Batin Jesika.


.


.


.


Bersambung 🍁