
"Sebenarnya ada apa sih sel"Tanya kenzo penasaran melihat sela yang hanya dapat gelengan itu.
"Agak cepatnya pak"ucap sela ke sang sopir tanpa menghiraukan ucapan kenzo.
"Baik nona"balasnya dan langsung menjalan kan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Lebih cepat pak"ucap sela lagi.
"Ada apa sih sel"Tanya kenzo lagi.
Sang sopir pun yang mendengar perintah dari sela langsung menambah kecepatan mobilnya.
beberapa menit kemudian,sela pun meminta sang sopir menghentikan mobilnya.
"Pak berhenti di samping jalan itu saja pak"tunjuk sela ke arah depan di samping jalan yang langsung di berhentikan oleh sang sopir.
chiiit' suara mobil berhenti
Baru saja mobil berhenti,sela langsung keluar mobil tersebut yang membuat kenzo kaget, begitupula dengan sang sopir.
"Terimakasih tuan atas tumpangannya"ucap sela tersenyum.
"Beneran disini "ucap kenzo ragu
"Iya tuan"ucap sela
"Silahkan duluan tuan"ucap sela lagi.
"Jalan"perintah kenzo ke sang sopir yang langsung mengendarai mobilnya.
"Sampai jumpa tuan"ucap sela sambil melihat mobil yang semakin jauh dari hadapannya.
Sedangkan di rumah nugraha,dirinya yang tadinya kesal sekarang mulai marah ketika orang yang dia tunggu tidak datang datang juga.Bahkan dirinya untuk duduk pun susah,malah memilih mondar mandir sambil berjalan.
"Kenapa dia lama sekali"ucap nugraha marah.
Salsa yang baru datang dari kamarnya melihat ayahnya yang mondar mandir sambil menghampiri sang mamahnya(lita) yang lagi duduk sendirian.
"Ayah lagi apa sih mah?"tanya salsa.
"Ayah mu ingin buat pertunjukan"jawabnya singkat.
"Benarkah mah"ucap salsa antusias, salsa tentu saja tau apa yang di maksud sang mamahnya barusan tentang pertunjukan.
"He em"angguk sang mamah.
"Yes,tak sabar salsa ingin melihatnya mah"ucap salsa tersenyum senang,sedangkan lita juga tersenyum melihat anaknya bahagia, walaupun bisa di katakan di atas penderitaan orang lain.
"Tapi kenapa juga ayah ingin melakukannya lagi mah"lanjut salsa sedikit bingung, perasaan perasaannya sedang baik.
"Ya gitulah ayahmu,apalagi ini dengan keadaan baik,pasti akan lebih senang ketika memukulnya"jawab lita.
Tidak lama kemudian, orang yang mereka tunggu pun datang(sela) menghampiri sang pamannya yang sedang menyambutnya dengan tatapan tajam.
"A ada apa paman"ucapan pertama yang sela layangkan dengan takut takut ke arah sang paman yang hanya melihatnya.
"Karna pundak ku sedang sakit,jadi kau juga harus merasakannya juga"ucap sang paman sambil berniat menarik sabuk yang dia pakai tadi pagi untuk bekerja.
Tapi dirinya tiba tiba berhenti,dan langsung melihat pinggangnya.
"Kemana sabuk nya"tanya nya kediri sendiri.
"Ada apa yah,apa belum mulai"tanya salsa menghampiri sang ayah.bukan nya menjawab tuan nugraha malah balik tanya ke arah sela.
"Sabuk ayah mana nya sal?"ucap nugraha
"Mana salsa tau,mungkin ayah lupa pakai"Jawab salsa
"Benarkah,tapi perasaan ayah pakai kok"bingung nugraha lagi.
"Bentar,biar salsa ambil yang lain"ucap salsa dan bergegas pergi mengambil sabuk yang lain di kamar sang ayah.
"Biarkanlah,sama saja,sama sama bikin seru juga"ucap nugraha terdengar tak berperasaan.
"Gak paman,sela gak mau,emang salah sela apa paman"ucap sela terlihat takut di wajahnya yang mulai berkaca-kaca di matanya.
"Gak perlu banyak bicara,ayo"ucap salsa menarik tangan sela kedalam rumah di bantu sang mamahnya(lita) menarik sela yang meronta ronta diikuti pamannya di belakang dengan memegang sabuk.sabuknya pun seperti terbuat dari kulit,dan itu jika sampai mengenai kulit dengan cara di sabet,pasti perih dan panas,bahkan bisa sampai berdarah.
"harusnya tadi gak usah pulang saja sekalian"ucap sela sambil meronta ronta berharap pegangan dari tangan bibi dan Kakaknya terlepas.
"Bibi,lepasin sela bi"ucap sela memohon tanpa di hiraukan oleh keduanya.
"Kak lepasin ka"lanjut sela lagi.
Mereka berdua tak menghiraukan ucapan ucapan yang keluar dari mulut sela,dan terus menariknya menuju kamar sela sendiri yang bersampingan dengan kamar pelayan rumahnya di lantai dasar.
Setelah sampai,sela langsung saja di dorong sehingga terduduk dilantai yang dingin di kamarnya di bawah kasurnya yang tidak terlalu besar itu,bahkan bisa di katakan kecil.
Brak' suara tubuh sela
cetar' suara cambukan dari sang paman terdengar keras menghantam punggungnya yang seketika membuat sela menjerit kesakitan.
"Akhh"Teriak sela, luka yang dari pagi saja belum dirinya obati,malah ini ditambah lagi dengan luka yang baru.
"Paman,jangan pukul sela lagi paman"ucap sela memohon.
Sedangkan sang paman seperti tuli tidak mendengarkan teriakkan sela memohon padanya.Dan terus memukul punggung sela dengan sabuknya yang seketika seperti mulai berdarah kembali di balik kemeja yang dia pakai yang membuat sela terus menjerit kembali ketika cambukan itu menghantam punggungnya.
"Paman, paman,sela mohon paman,jangan pukul sela lagi paman"ucap sela memohon dengan merintih kesakitan.
"Paman sakit juga bukan salah sela paman"ucap sela lagi memohon mulai menangis.
"Tapi kau juga harus merasakannya"ucap pamannya tanpa berniat menghentikan membukanya.
"Salah sela apa sebenarnya paman"ucap sela lagi dengan menangis dan menahan sakit di punggungnya,begitupula hatinya.
Selama dia mengenal pamannya,dia tak pernah merasakan seorang paman di sisinya, bahkan untuk makan dan sekolah saja dia harus mencarinya uangnya sendiri.Kenapa pamannya tega melakukan seperti itu padanya.
"Pikirkan saja sendiri"Jawab pamannya sambil terus mencambuk,yang seketika teriakan sela selalu terdengar kembali ketika cambukan itu mendarat di pundaknya.
Sedangkan,salsa dan mamahnya sedang tersenyum gembira melihat itu semua, menurut mereka,ini adalah tontonan gratis yang tak boleh di lewatkan.
"Sayangnya adikku itu tak ada di sini mah"ucap salsa ke arah sang mamah yang hanya di angguki tanda setuju.
Setelah beberapa saat,tuan Nugraha pun menghentikan cambukan nya,dan meninggalkan mereka bertiga di sana begitu saja,dengan ke adaan sela yang kesakitan dan menangis di lantai dengan di campuri bercak darah di punggungnya.
"Apa kau butuh obat"ejek salsa ke arah sela.
"Tapi aku sedikit aneh, sebenarnya kerjaan mu apa di luar,kenapa pake baju kantoran begini"Lanjutnya lagi sambil memerhatikan sela yang hanya diam menangis sambil menundukkan kepalanya menahan sakit itu.
"Udahlah sayang,mungkin dirinya sedang menyamar untuk menarik perhatian para pria di luaran sana"ucap lita
"Cih,mana mungkin dirinya bisa menarik perhatian para pria,walaupun dirinya cantik,tapi masih cantikan aku kan mah"ejek salsa membanggakan diri sendiri.
"Iya dong,putri mamah keduanya sama sama cantik pokoknya"Jawab lita tersenyum menatap putrinya.
Setelah mengatakan itu,dirinya dan salsa melangkah pergi keluar meninggal sela yang masih dengan keadaan yang sama.
Tak terasa waktu yang tadinya siang,sekarang sudah di gantikan gelapnya malam.
Sela yang di kamarnya sendirian,dirinya sedang melihat ke arah luar jendela kamarnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
.
.
.
Bersambung 🍁