
Terbukti salah satu kelompok di kalangan mafia sedang menjalankan tugasnya di salah satu kawasan yang sudah mereka target kan.
"Mulai" Ucap seseorang yang di yakini adalah bos nya.
"Baik bos" patuh semua orang yang sedang memegang senjata api di tangan mereka masing masing dengan bersiap siap menembak.
"trak trak ,krek( suara pistol dan senjata api di persiapkan)
Begitu banyak orang yang sedang bersembunyi di bebatuan, semak semak, dan akar pohon yang sangat besar yang dapat menghalangi tubuh mereka untuk bersembunyi.
"Tembak" Perintah pemimpin mereka lagi, seketika semua orang yang tadi bersiap siap melayang kan peluru mereka, dan sebagian pasukan lain yang berada di atas pohon melayang kan anak panah yang mereka gunakan.
Entah apa masalah yang mengakibatkan mereka ingin sekali bermain main dengan menyerang markas itu.
Begitu juga dengan orang orang yang mereka semua target yang berada di markas tersebut, seketika terperanjat dari semua yang sedang melakukan aktifitas berbeda ketika mendengar suara tembakan.
Ada yang sedang latihan menembak, memanah, menggunakan pedang, dan ada juga yang sedang beristirahat untuk meredakan rasa lelah setelah beraktifitas.
Tapi semuanya tiba tiba tegang dan bergegas mengambil senjata dan di tembakan untuk berusaha membalas tembakan seseorang dari luar markas mereka.
Apa lagi ketika mereka mendengar teman sesama anggota tertembak yang seketika tak sadarkan diri karena serangan yang begitu tiba tiba.
Akhirnya...suara teriakan dan tembakan juga terdengar dari arah target ke arah mereka yang tak bisa mereka elakan.
Dor
Dor
Argggh
Tebak
SERANG BALIK MEREKA SEMUA
Tembakan dan peperangan pun tidak bisa di elakan lagi di tengah malam gelap itu, suara erangan dan kesakitan serta beberapa peluru yang melesat begitu sangat memekikkan telinga.
"Siapa mereka sebenarnya...apa musuh kita yang tidak di ketahui" Ucap salah satu anggota yang mereka target kan tanpa menghentikan tembakan nya ke arah sang lawan.
" Bisa jadi, siapa lagi jika bukan musuh jika sampai menyerang kita, apa lagi ini markas utama langsung" Jawab yang lain nya.
"Panggil kan salah satu bos kita, walaupun kita banyak, tapi mereka semua itu lebih banyak dan sepertinya lebih kuat" Teriak anggota lain dari arah belakang yang juga sama seperti nya, yaitu berusaha menembaki sang lawan.
"Kau saja, aku sedang sibuk menembaki nya..." Jawab salah satu dari mereka.
"Akhhhh"
"Akhhhh"
"Blus"
"Dor"
"Dor"
"Syuuut"
Teriakan dari anggota yang sama mengerang kesakitan ketika mereka terkena tembakan dan panah dari sang lawan, mengakibatkan anggota mereka banyak yang tumbang, bahkan lebih banyak yang tak sadarkan diri dari yang sadar.
Tidak jauh beda dengan anggota yang di serang, anggota yang menyerang pun banyak yang tumbang namun tak sampai mati di tempat karena memakai pakaian anti peluru yang melekat di tubuh mereka yang sudah di persiapkan.
Berbeda dengan Anggota yang di serang tak ada persiapan sam sekali...
"STOP" Teriak pemimpin sang penyerang menghentikan pasukan nya.
"Anggota yang lain sudah banyak yang tumbang, jika di teruskan, kalian semua akan mati di sini" Jawab nya dingin.
Para anggota yang masih sadar seketika melihat sekeliling, memang kebanyakan orang sudah begitu terlihat tak berdaya, namun semuanya terlihat masih bernafas, hanya begitu banyak darah di sekitar tubuh mereka yang terkena tembakan.
"Baik bos" Lanjut nya paham.
Setelah mengatakan itu, mereka semua akhirnya bergegas dari sana begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya....
Berita pasukan nya di serang sudah terdengar di telinga brian yang seketika merasa marah, darah yang selama ini di dalam tubuhnya seketika seperti mendidih siap keluar dengan ke bulan asap yang dia keluarkan.
Gertakan suara yang di timbulkan tangan dan meja di depannya terdengar begitu pelan, namun terdengar sangat menakutkan dengan tampang Brian yang sudah berubah.
"Siapa yang melakukan nya?" Ucapan dingin Brian baru saja terdengar setelah lama.
Semua temannya yang berada di samping nya seketika terdiam tak berani menjawab.
Baru saja mereka datang keruangan kerja brian di mension nya, namun malah mendengar suara brian yang begitu dingin dan menyerahkan.
Mereka hanya bisa diam tak menjawab,bagaimana ingin menjawab jika pertanyaan saja sudah terdengar tak bersahabat, membuat bulu kuduk mereka merinding seketika, apa lagi mereka tidak tau apa yang di maksud Brian.
"SIAPA YANG MELAKUKAN NYA HAH??" Bentak Brian dengan suara keras, membuat temannya lagi lagi terdiam takut seketika, dan hanya bisa menutup mata sejenak.
Walaupun mereka tidak tau, tapi mendengar teriakannya saja, mereka seperti paham apa maksud dari teriakan itu, apa Lagi jika bukan masalah yang menyangkut kelompok mafianya.
"Kami baru saja sampai, kenapa tuan berteriak dengan marah begini?, apa ada masalah yang begitu serius?" Tanya sekertaris han memberanikan diri, walaupun sangat pelan, tapi mereka semua yang di sana bisa mendengar.
Seketika tatapan mereka menuju padanya, apa lagi mata brian yang seketika menatap nya tajam, membuat dirinya hanya bisa menelan ludahnya sendiri berusaha menghilangkan ketakutan.
"Aiiis, seharusnya aku tak bertanya padanya" Kesal Han menggerutu diri sendiri, begitu deg degan yang dia rasakan sekarang karena takut menyelimuti dirinya.
"Cek, kenapa kau bertanya B****" Batin Reyhan memaki han kesal, jika keadaan seperti ini, mereka semua lebih baik memilih diam dari pada bertanya seperti apa yang di lakukan han.
"Dasar han, apa dia tidak tau keadaan Brian sekarang, seharusnya tutup mulutmu han" Batin Angga yang juga merasa miris mendengar pertanyaan han, biasanya mereka akan kena bogeman mentah dari Brian ketika sedang merasa kesal.
Walaupun itu tidak di sengaja, tapi kelakuan brian yang satu ini lebih sering mereka rasakan.
"Han" Panggil Brian dingin, membuat han seketika gelagapan dan melihat brian dengan bingung, begitu juga kedua temannya yang lain yang juga merasa was was.
"Kenapa temanku ini sangat menakutkan sekarang" Batin han.
"Semoga saja dia hanya meninju han sekarang, aku tidak siap jika dia meninju ku juga" Batin Rey dengan berharap.
Biarkan lah dia berharap hanya han saja yang merasakan nya, sekalipun dia mengelak dari Brian, biasanya juga tak bisa di elakan, sekeras apapun mereka menghalangi bogeman nya, namun tenaganya tidak bisa di lawan jika dia sedang marah.
"Ayo pukul sekarang...aku tidak sabar ingin melihatnya juga, biarkan lah jika aku di pukul juga, yang penting mereka semua merasa nya" Batin angga yang sedikit berbeda dari mereka, namun dia tidak sadar jika mengatakan nya dengan diiringi sedikit tertawa.
"Han... perusahaan hari ini ku serahkan semuanya padamu, semua kau urus, dan jika tidak bisa tanpa ku, kau handle saja dan batalkan yang ingin bekerja sama dengan kita" Ucap Brian memecahkan keheningan yang sempat mencekam.
Membuat semua temannya yang di sana seketika melongo...
"Hah?" Ceplos mereka bersamaan.
.
Bersambung 🍁