
"Dia siapa...akhhh, seharusnya aku tadi tak perlu kesal dan marah padanya" Ucapnya mengingat perilakunya tadi yang sangat buruk dan bahkan berteriak.
"Seharusnya aku tak bicara begitu bukan, dia yang membantu keluar rumah" Gumamnya.
Setelah mengatakan itu, hari hari terus berlalu, tentang brian dan sela sudah sepakat jika Ingin menunduk pernikahan nya jika itu keinginan sela, tapi sela sudah berjanji. Jika memang bang nanda tak juga menikah, maka dengan berat hati harus meloncat dirinya.
Bukan brian juga namanya jika terus mematuhi sela, memang dirinya sangat menyayangi sang kekasih, tapi ayolah, brian juga bisa di katakan cepat dewasa.
Seperti sekarang, brian terus saja mengoceh kepada sela dari tadi, bahkan jika di gambarkan kuping sela seakan sedang berasap saking pusing nya mendengar ocehannya yang terus tanpa henti.
Mereka berdua sedang di apartemen yang di tempati sela, dengan sela sedang memasak dan terus di buntuti brian.
"Sayang, ayok kita menikah" Rengek brian, kata kata yang sejak tadi terus di ucapkan.
Jika ada pasukan yang melihat nya, mungkin mereka terus menyangkal jika dia bukan bos mereka.
Sangat manja... berbeda ketika bersama kami..
"Sayang, kamu taukan jika aku orang kaya" Ucapan Brian tiba tiba menghentikan sela dan melihat nya.
"Tau, Kenapa" Tanya sela meneruskan aktifitasnya membawa makanan ke meja untuk di hidangkan dengan terus di ikuti brian.
"Tampan?"
"Ya ya ya, kau sangat tampan, siapa yang tidak akan tergoda dengan wajah tampan mu itu" Ucap sela, seakan sadar yang apa dia katakan, dia langsung melirik brian yang sedang tersenyum.
"Apa kau bermaksud..."
"Jika kau terus memperpanjang waktu tunda kita untuk menikah, mungkin bisa saja" Jawab brian seakan tak perduli perasaan sela.
Dia mengatakan itu hanya untuk memancing sela agar cepat menikah dengannya.
"Apa kamu hanya main main dengan ku dev " Ucap sela.
"Bukan main main, aku sangat sayang padamu, tapi kamu tau sendiri umur ku akan terus berjalan, jika sekarang kau 23, dan aku 27, dan jika kau menunggu abang mu yang tua itu untuk menikah, terus umurku terus bertambah sayang" Jelas Brian membuat sela terdiam.
"Memang benar apa yang di katakan devan" Batin sela.
Sedangkan ananda yang sudah datang dari tadi namun masih di depan pintu mendengar semua ucapan sela yang mengatakan dirinya "tua" seakan merasa kesal dan langsung berjalan mendekati brian dan memukul pundak nya dengan sedikit keras.
"Heyyy" Geram brian tidak tau siapa yang memukul nya.
"Apa?" Tantang nanda berani.
"Aku tidak setua itu tau" Lanjutnya tak perlu menunggu brian menjawabnya.
"Heyyy, keberuntungan ada kau di sini" Ucap brian memeluk ananda seakan-akan mereka sahabat.
"Kenapa dengan pacar mu ini sel" Ucap ananda melepaskan perlukan devan.
Sela hanya menggeleng tidak tau sebagai jawaban.
"Apa kau merestui jika adikmu yang aku sayangi menikah dulu?" Tanya Brian dengan santai.
"Apa yang kau katakan, tentu saja aku merestuinya"
"Tuh kan apa yang aku katakan sayang, dia tidak akan marah" Ucap brian melirik sela.
"Kenapa kamu berpikir aku marah dek?" Tanya anada dengan lembut.
"Aku gak berpikir jika abang akan marah, tapi aku hanya bilang aku gak mau nikah dulu jika abang belum"
"Tidak apa apa, jika kamu sangat ingin, menikah saja dulu, pria dewasa baru menikah itu wajar, tapi jika seperti mu dek menikah di usia tua, baru terdengar aneh" Jelas ananda.
"Yasudah berhenti membicarakan itu, jika kalian berdua memang benar benar ingin, kita bicara nanti saja, ayok makan dulu " lanjut nya dengan duduk di kursi meja bersiap makan.
"Ini tempat tinggal adik ku jika kau lupa" Jawab ananda.
"Sudah dev, dia itu abang ku, kenapa kau bicara seperti itu"
Seakan sedang di bela oleh sela, ananda hanya tersenyum mengejek melihat Brian yang juga sedang melihat nya.
"Lihatlah sayang, dia mengejekku " Tunjuk brian dengan manja.
Namun ketika sela melihat arah tunjuk ananda sedang makan, tidak ada yang mengejek '
"Abang ku sedang makan ,tidak ada yang mengejek mu disini"
"Tapi dia" Ucap brian sambil melihat ananda yang tak menurunkan senyuman menyebalkan itu ketika sela tak melihat nya.
"Sudah makan saja, jangan banyak bicara, aku sudah harus berangkat sebentar lagi" Ucap sela mengambil makanannya.
Mereka akhirnya makan bersama dengan tenang, sesekali tertawa dan bercanda sampai mengakibatkan mereka tersedak dan melanjutkan makannya kembali.
Di gedung apartemen yang sama namun berbeda lantai dan kamar, terlihat seorang gadis baru saja terbangun dari tidur nyenyak nya karena sinar matahari yang menyilaukan matanya memasukinya celah celah kamar.
Seketika dirinya bangun dengan tiba tiba dan langsung melihat handphone di laci meja hanya untuk melihat jam. Siapa lagi jika bukan heti yang baru saja kemarin pindah.
"Mampus..."Ucapnya ketika melihat jam menunjukkan pukul 08:05, yang berarti dirinya kesingan karena waktu masuk pelajaran jam 08:30.
Dia langsung saja bangun dan segera bersiap siap untuk mandi dan sebagainya.
Tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah siap memakai peralatan kampus nya siap untuk berangkat saja.
Di depan apartemen, heti terlihat sedang menunggu sesuatu, namun tiba tiba sebuah mobil datang menghampirinya.
"Ekh tuan" Ucap heti ketika sang pemilik mobil membuka kaca mobilnya, yang mengakibatkan wajahnya terlihat.
"Ada apa lagi, kau sedang menunggu sesuatu?" Tanya deril datar.
Ya..dia adalah dokter deril yang ingin menuju rumah sakit di mana dirinya bekerja, kebetulan memang jalannya melewati apartemen ini.
"Tidak ada tuan, aku hanya sedang menunggu taksi lewat" Jawab heti dengan terlihat gusar, namun berusaha terlihat baik.
Tapi dengan mata deril dan memang seorang dokter, dia bisa tau jika heti sedang khawatir, tapi semua orang juga tau jika melihat heti yang terlihat gusar begini.
"Tak bisa mengekspresikan diri rupanya, ayo masuk" Ucap nya mengejek dan menyuruhnya masuk.
"Hah?" bingung heti, apa maksud perkataan nya tadi.
"Ayo masuk, kau tak bisa membohongi seseorang jika gerak gerik mu bertolak belakang dengan kata kata nya" Ucap deril.
Heti diam sejenak, apa khawatir dirinya akan sangat bisa terlihat, tapi kan sudah ku katakan jika tak ada apa apa' pikir heti.
"Jarang jarang aku baik kaya gini tau" dengus deril kesal dan bersiap menjalankan mobil nya, tapi...
"Tunggu" Ucap heti menghentikan nya.
"Aku ikut" Lanjut nya dengan menunduk tak enak, baru kemarin bertemu sudah merepotkan nya.
"Hem..masuk" Titah deril dengan datar.
.
.
.
Bersambung 🍁