Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
TIDAK AKAN



Sela yang mendengarnya hanya diam menyimak setiap ucapan yang keluar dari pandi.


"Terus? "ucap sela.


Baru saja pandi ingin menjelaskan, suara ponsel dari sela menghentikannya dan langsung mengangkat nya setelah izin dari pandi dengan isyarat.


"Iya buk, apa kau sudah menemukan buktinya"Ucap sela gembira ke si penelepon yang ternyata buk jun.


Beberapa harinya yang lalu setelah pembicaraan mereka berdua, buk jun mulai berusaha menemukan bukti kejahatan Nugraha yang sudah lama terjadi itu dengan cara apapun samampunya, tapi itu seperti tidak berhasil. Tapi seperti nya itu tidak berhasil...


"Maaf non" Jawab buk jun di sebrang sana.


Mendengar itu, sela pun diam, senyum yang tadi terbit di wajahnya tiba tiba saja menghilang, dia tau dari cara bicara buk jun bahwa dia tidak berhasil.


"Yasudah buk, terimakasih sudah mengusahakan nya untuk ku" Ucap sela terdengar tulus.


Setelah mengatakan itu, handphone pun di matikan oleh sela dan di Lanjut bekerja kembali setelah buk jun mengiyakan.


Berbeda dengan pandi yang dari tadi memerhatikan nya dan menatap curiga ke arah sela.


*****


"Semoga saja berhasil" Helaan nafas dari nugraha memasuki perusahaan di depannya yang menjulang tinggi, dengan di jaga beberapa penjaga di luarnya.


Seperti yang di rencanakan dan di pikirkan semalam oleh Nugraha untuk meminta bantuan kembali ke perusahaan BD.


Di sebuah ruangan lain masih di perusahaan yang sama.


Terlihat brian yang sedang menatap seorang pria di depannya tajam, dengan di temani sang sekertaris han berdiri di samping nya dengan wajah nya datar.


Pria itu yang tak lain adalah nugraha yang sedang menatapnya dengan hati hati, sekaligus berharap atas ucapannya meminta bantuan untuk perusahaan yang di ambang ke bangkrut.


Tapi semua itu di tolak dengan nada dinginnya oleh brian yang keadaan nya sedang kesal dan khawatir sejak tadi sela pergi dari mension nya.


"Aku mohon tuan" Ucap Nugraha dengan memohon.


Brian bukan nya iba melihat orang tua di depannya, dirinya malah teringat dengan sela yang selalu Nugraha siksa di rumah nya sendiri yang membuat dirinya tiba tiba merasa marah.


"Han" Panggil Brian dengan nada mulai tak bersahabat, seperti sedang memerintahkan sekertaris han.


"Baik tuan" Jawab han.


Setelah mendengar itu, Brian pun keluar dari ruangan itu.


Siapa sangka, setelah Brian keluar, han memanggil penjaga untuk mengusir Nugraha keluar dari perusahaan BD.


Walaupun Nugraha terlihat memberontak dan marah ketika di usir dari sana dengan di pegang oleh dua penjaga di kedua tangannya.


"Baiklah sepertinya aku harus mencari yang lain, jika tidak perusahaan akan benar benar hancur" Batin Nugraha.


Sedetik kemudian dia teringat pria yang semalam menghubunginya, dan berusaha menghubungi nya kembali.


Beberapa kali dia coba menghuni nomor ponselnya tidak terhubung, membuat dirinya lagi lagi kesal, baru saja dirinya di usir dari perusahaan dengan di tatap aneh oleh para pegawai di sana dengan beberapa orang terlihat mengejek.


Sekali lagi dia berusaha menghubunginya, tapi tetap saja tidak aktif.


"Kemana dia?"


Diapun mencari nomor telepon yang semalam pria itu pakai.


"Siapa" Suara berat terdengar sangar di telinga Nugraha ketika telepon terhubung.


Orang itu salah satu pasukan brian yang semalam handphone nya terjatuh dan di bawa pria itu semalam.


Sesaat Nugraha terheran, siapa dia, kenapa Suara nya berbeda?, tapi dia tak mau ambil pusing, dan langsung menanyakan pertanyaan yang dia penasaran.


Tapi begitu kaget nya dia ketika mendengar jawaban pria di sebrang telepon yang mengatakan jika pria itu sudah menjadi almarhum, Dan dia juga mengatakan siapa pembunuhnya dengan cara sedikit mengancam.


"Dia.... dia meninggal" Kaget Nugraha.


"Dan apa tadi, Ketua diamond?, Bukan kah itu musuh dari nya?"


"Dan dia dia.." Ucapnya seperti tak bisa meneruskan ucapannya dan melirik berusaha di belakang nya.


"Pemilik perusahaan BD" Lanjutnya membuat dia lagi lagi Kaget bahkan terkesan sangat syok.


Orang yang suruh dia lawan perusahaan BD, bahkan dirinya saja beberapa menit lalu akan meminta bantuan nya, dan untung saja tidak jadi.


Nugraha dengan keadaan Kaget dan syok bahkan ketakutan memilih pergi dari perusahaan itu, bukan perusahaannya yang dia takuti, tapi pemiliknya.


" Sudah ku usir tuan" Ucap han memasuki ruangan brian yang hanya di jawab deheman dari sang bos.


Waktu terus berlalu tanpa terasa oleh semua orang, bahkan Sekarang sudah waktunya para pekerja dan semua manusia bahkan makhluk hidup di dunia untuk beristirahat.


Begitu juga sela yang baru saja datang dari kantor nya, dan sekarang dirinya ingin memasuki apartemen miliknya.


Tapi sebelum itu...


Suara hak sepatu yang berwarna hitam menghampiri ya.


*****


Terlihat sela sedang menatap brian intens di hadapan yang sedang berdiri dengan memegang tangannya erat. Dengan mencari kebenaran di kedua mata brian yang juga menatapnya.


Beberapa menit lalu dirinya di bawa oleh sang pemilik sepatu itu yang tak lain adalah Brian yang Ingin membawanya ke mension miliknya.


Dan sekarang mereka berdua sedang di ruangan kerja brian di mensionya setelah tadi menceritakan masalahnya dan kenapa dirinya membunuh pria itu.


Sela yang mendengar curhatan Brian seketika meneteskan air mata dan ikut merasa sedih mendengar nya.


Ternyata dirinya juga sama dengan brian, yang bedanya, brian sudah membalasnya, sedang dirinya Ingin mengetahui buktinya saja masih belum.


"Maafkan aku dev" Ucap sela memeluk Brian.


"Aku hanya Kaget melihat itu di depan mataku sendiri... sungguh.. aku sangat mencintaimu.. tapi aku juga sangat tak suka apa yang kau lakukan itu dev..." Lanjut dengan menangis di pelukan brian yang juga memeluknya.


Brian hanya diam mendengar semua ucapan sela, yang membuat dirinya tersenyum mendengar pengakuan perasaan nya, akhirnya bukan hanya dirinya yang selalu mengungkapnya, tapi kekasihnya juga.


Senyuman itu selalu terbit di wajah Brian selama mereka berpelukan.


"Sudah, Kenapa kau malah menagis, apa kau ingin cepat tua" Canda Brian tersebut sambil mengusap pipi sela dengan lembut.


Sela seketika tersenyum dan Tertawa kecil dengan mengusap air matanya, apa brian tidak tau jika dirinya sedang menangis, dan sekarang berakhir menangis tapi Tertawa di wajah sela, begitu juga Brian yang melihat nya ikut bahagia.


setidaknya sela tak berniat pergi' pikir brian.


"Isssh apaan sih" ucap sela memukul dada Brian pelan.


"Sudah... kau tidak akan pergi dari ku kan"Tanya brian sekali lagi memastikan, yang langsung di angguki sela pertanda"iya".


Setelah itu, Sela dan brian keluar dari ruangan itu dan masuk ke kamarnya masing masing yang lokasinya saling berhadapan.


Tapi sebelum mereka berdua masuk, Brian sempat mengatakan akan mengajaknya keluar sebentar.


.


.


.


Bersambung 🍁