Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
AJAKAN BRIAN MENIKAH



"Memang dengan meminta maaf ayahku akan kembali apa"Kesal nya.


Brian yang sedang bersamanya hanya diam, dirinya juga paham bagaimana rasanya sela saat ini, antara sedih karena tak mengenal sang ayah,dan senang karena akhirnya bisa membalas Paman nya itu.


"Sudah sayang jangan sedih lagi oke, dia sudah masuk ke penjara seperti apa yang kamu mau "ucap Brian.


"jika kau menyerahkan padaku, mungkin dia sudah tiada"Lanjut Brian membatin.


"Apa ingin makan sesuatu, kebetulan sebentar lagi siang"


"heem "angguk sela.


Kebangkrutan perusahaan Nugraha tak menghentikan heti yang harus berhenti berkuliah, tetapi itu dia ambil sebagai kekuatan agar dirinya tak melakukan seperti ayahnya yang sampai masuk penjara karena ulahnya.


Ya.. sekarang dirinya sadar,dia sudah terlalu jahat kepada sela ketika dia di rumah tanpa tau apa kesalahan sela sebenarnya.


Dia juga berpikir kembali...dia itu tetap adikku walaupun bukan anak dari orang tuanya..tapi seharusnya dirinya tak bersikap begitu hanya karena anak yang tidak punya orang tua.. disini ayahnya yang salah.


Di tempat dirinya berkuliah... teman teman yang begitu dia miliki tiba tiba saja menghilang... bukan karena tidak ada orang nya... melainkan seperti pura pura tidak melihat nya dan tidak tau.. padahal mereka berpapasan dengan nya..


"Hay tes.. kenapa kalian seperti menjauhi ku" Tanya nya menghentikan temannya itu.


"Siapa kamu..apa kami mengenal mu sebelumnya... Jika pun kenal..kami bukan teman mu lagi"ucap nya sinis.


"Dan mulai sekarang,anggap saja kita tak pernah saling kenal"Lanjut nya meninggalkan sela yang hanya diam mematung melihat kemana sekumpulan temanya dari belakang.


Begitu Kaget nya heti ketika temannya sendirinya bicara seperti itu, kami berteman sangat dekat..


"Tapi kenapa,aku ini teman kalian,heti Nugraha... Apa kalian sedang bercanda nya"Ucap heti pelan, namun Suara itu masih bisa di dengar oleh mereka semua.


"Kau pernah mengatakan sebelum nya jika jangan pernah bermain bersama orang yang tidak sama level nya dengan kita"Ucap salah satu dari mereka Tanpa melihatnya.


Perkataannya seakan sedang menyindir heti sekarang, dulu dia sangat sombong dan tak ingin bermain bahkan perkenalan tidak dengan orang yang dia anggap miskin.


"Maksud mu...aku tidak selevel dengan kalian?.. Begitu?.."


"Kau sudah tau jawabannya... sudah jangan membahasnya lagi..."Ucap nya sambil melanjutkan jalannya bersama yang lain.


"Kita pulang dari sini jalan jalan dulu sebentar..."


"iya..aku juga ingin membeli barang yang aku butuhkan.."


"Ekhh.. Minggu lalu bukannya ada tas dan baju keluaran terbaru kan"


"iya..."


Ucapan mereka dengan diiringi suara bercanda sambil berjalan menjauhi heti yang tampak sedih.


"Sekarang tak punya siapapun di sini, bahkan teman sekalipun "Ucap nya lirih dan melanjutkan perjalanan sambil mendengarkan ucapan orang orang yang sedang membicarakan nya.


Bergosip dengan cara suara keras lebih tepatnya...


"Lihat lah dia... waktu dulu dia begitu sombong karena kaya.. sekarang ketika sudah miskin seperti itu..baru tau rasa"


"Temannya yang sangat akrab dengan nya saja menjauhi nya"


"Apa kau ingin berteman dengan nya?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu...mana mungkin aku mau...dia sudah menghina ku dengan kata kata sombongnya itu"


"Iya.. benar... pepatah bilang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya... bisa saja dia seperti ayahnya yang sekarang sudah masuk penjara itu"


"Berita bilang...dia mencelakai temannya sendiri "


Serta tentang kebangkrutan perusahaan yang mereka tau yang hanya di ambang kebangkrutan sudah berpindah tangan, dan berarti perusahaan itu sudah bangkrut jika Masih di tangan nya.


"Pantas saja jika temannya meninggalkan dirinya, rupanya dia sudah seperti kita" kata kata itulah yang ada di benak semua orang di kampus.


Sedangkan heti hanya bisa pasrah di bicarakan oleh mereka semua.


"Jadi gini rasanya jika orang orang tak menganggap kita"


"Apa lagi perasaan sela yang selalu di perlakukan tidak baik oleh ku" Ucap heti tersadar apa kesalahan.


Setelah mengatakan itu, akhirnya diapun masuk ke kelasnya yang memang baru saja waktunya tiba.


Sedangkan di kediaman Nugraha....


Lita merasa sangat begitu kesal setelah kepergian Nugraha yang di bawa oleh polisi.


"Sudahlah mah... kenapa mamah marah marah gak jelas Begitu...apa mamah juga mau masuk penjara kaya ayah" Ucap salsa yang sudah bosan Melihat mamah nya yang tidak jelas.


Otomatis mata lita terbelalak mendengar nya... bagaimana mungkin anak nya menyuruh nya mengikuti Nugraha.


"Sembarang saja kamu sal...bukan itu yang mamah pikirkan...ayah mu sudah masuk penjara.. kehidupan kita siapa yang akan mengurus nya... mamah tak pernah bekerja...apa kau mau" ucap lita dengan kesal.


"Dari dulu aku sudah bekerja dengan ayah... sekarang perusahaan itu sudah Bukan punya kita lagi mah...dan begitulah..mamah juga pasti tau jawabannya"ucap salsa.


"sudahlah jangan di pikirkan lagi hal itu...uang untuk setahun mungkin bisa dari penjualan perusahaan itu...jadi kita nikmati saja dulu...pikirkan ke depannya nanti saja... untuk apa mamah membawa sela kesini jika tidak ada manfaatnya kan... lagian dia bekerja di perusahaan tuan Kenzo.. pasti banyak uangnya kan" Lanjutnya dengan tersenyum.


Namun senyuman itu bukan perbuatan baik seperti nya.


"Aaah kau pintar sekali sayang...apa lagi dia bekerja sebagai sekertaris kan" Ucap lita membenarkan dengan di iringi Tertawa pelan dengan senyum merekah.


Di Dalam mobil brian... mereka akan berangkat ke perusahaan kenzo setelah di restoran makan siang tadi untuk menghantarkan sela.


"Sayang...apa kamu sudah siap jika kita menikah" brian buka suara dengan tampang serius tanpa ada ke gugupan.


Jujur saja.. dalam hati brian begitu gugup berusaha terlihat tenang..dia sudah memantapkan untuk menikahi sela sejak semalam dan terus berbicara di depan cermin untuk berbicara kata kata pendek itu.


Sela yang mendengar hal itu seketika terdiam.. seperti ada sesuatu yang seakan dirinya harus berkata... tapi takut akan menyakiti brian.


"Ada apa, kenapa diam seperti itu...apa ada yang mengagu mu sayang" tanya Brian penasaran. Sebab sela tak pernah ragu ragu seperti ini.


"Dev...aku... aku.."


"Katakan saja jangan takut...apa kamu sedang sakit? "Khawatir Brian melirik sela tanpa memberhentikan mobilnya.


Sela otomatis menggelengkan kepalanya...


"Apa dia tidak akan marah jika aku bilang padanya" Batin sela tak berani mengungkapkan nya.


"Devan... seperti nya... aku.. aku..aku tak bisa.."Ucapan Gugup sela tiba tiba terhenti ketika ada suara telepon masuk.


.


.


.


Bersambung 🍁


Bantu dukungannya semua☺️ like komen share jika Masih ada tabungan vote boleh juga🤭 jangan lupa subscribe nya juga😁


Salam sejahtera semuanya dari saya sendiri 🙏