
Dengan langkah cepat, dia masuk dan menghampiri orang yang melihatnya dengan tatapan heran.
Dia tak menghiraukan tatapan orang itu yang terlihat kebingungan, namun dengan tatapan datar dan dingin tak seperti biasanya.
Ya, dia Brian Devano, seorang pria yang selalu terlihat tersenyum dan perhatian sekarang terlihat berubah di mata sela.
Dengan menahan cemburu menghampiri Brian yang sedang duduk di kasur rumah sakitnya, dengan di temani seorang wanita muda di samping nya yang terlihat sedang merayu brian, dengan menampakan senyuman yang mengembang, dan tak lupa tangan yang selalu menggelayut manja di tangan Brian.
Namun secara terang-terangan selalu Brian tolak dengan aura dingin nya, maklum... orang dingin akan tetap dingin walaupun amnesia mungkin..
Membuat Jesika sesekali di buat kesal dengan tingkah brian.. namun dengan percaya dirinya, dia berusaha sebisa mungkin agar terlihat serasi di semua mata jika melihat nya.
Dengan kasarnya sela langsung melepaskan tangan Jesika yang dia anggap sudah memegang seseorang yang dia klaim milik nya itu.
"Lepas" Bentak sela, membuat Jesika sampai tersungkur ke lantai saking kasar nya, namun langsung berdiri kembali dengan kesalnya.
"Hey!!! ... siapa kau!! Berani nya kau mendorong ku hah!! "Teriak Jesika marah dengan tatapan tajam, dia sebenarnya sudah tau siapa sela, namun kata kata itu penonton keluar begitu saja dari mulutnya.
"Kau bertanya pada ku dengan marah?, harusnya aku yang marah padamu!!!" Teriak sela dengan marah.
"Sayang..."Ucap Jesika dengan manjanya mendekati Brian yang dari tadi hanya melihat mereka berdua.
"Dia mendorongku...Sakit pinggangku karena dia sayang.."Lanjutnya dengan terlihat sedih menatap Brian.
"Devan, ada apa dengan mu" Tanya sela menahan amarah ketika tangan Jesika berusaha memegang tangannya.
"Devan?, Apa nona salah bicara, atau wanita di sampingku yang bersalah?" Ucap Brian dengan dinginnya.
Membuat sela lagi lagi sakit mendengar perkataan Brian, bukan hanya tampangnya saja yang seperti tak mengenalnya, namun kata katanya yang singkat itu bisa membuat nya terpaku sesaat.
"Apa maksudmu dev" Ucap sela dengan kaget, siapa yang tidak kaget jika seseorang yang sangat menyayangi kita tiba tiba berkata seperti itu, seakan dia tak mengenal nya.
"Siapa nona ini jes?, Apa aku mengenalnya? "Tanya Brian lagi, membuat sela lagi lagi kaget, bahkan terkesan syok bercampur sedih, kecewa, bahkan serasa merasakan tertangkap sesuatu di hatinya.
Devan lupa padaku, dia tak mengenalku?, bahkan dia menanyakan nya pada orang lain.."Batin sela.
Setetes air mata jatuh dari mata indahnya setelah beberapa detik, namun langsung dia hapus.
Dengan berusaha terlihat tenang, namun sungguh... dalam lubuk hatinya berbeda jauh dengan keadaan yang dia buat sebaik baiknya agar tak terlihat begitu sedih.
Namun... seakan usaha itu tidak mempan baginya, dia sudah mencintai brian sepenuhnya, bukan Brian saja ... Tapi... dengan adanya kejadian hari ini... entahlah... bahkan dirinya saja tak bisa mengatakan nya.
"Devan.... Apa kau sedang bercanda..aku sela...aku sela Devan" ucap sela dengan memegang tangan Brian dengan menangis.
Sekuat apapun agar tak mengeluarkan air mata sedikit pun, namun apa daya, sela tak bisa menahannya detik ini juga, isak tangis nya terdengar di kamar Brian yang kedap suara ini.
Brian dengan dingin dan tatapan datar, dia melepas kan cekalan tangan sela, namun tak seperti dirinya mendorong Jesika tadi dengan kasar.
"Lihat ini..."Lanjut sela menunjukan Cincin yang melingkar di jari manisnya, terlihat sama persis seperti yang Jesika kenakan tadi.
"Tidak sayang...dia meniru Cincin ku" Ucap Jesika menyela, dipikiran nya hanya berharap jika Brian mempercayainya.
"Ini adalah cincin yang ku berikan padaku, kau yang melamar ku ketika di malam hari di pantai..."Ucap sela yang berusaha menyakinkan, namun langsung di potong oleh ucapan Brian.
"Cukup" Tegasnya.
"Cukup ucapan mu nona, kau membuat kepala ku pusing saja" Lanjutnya dengan memegang kepalanya.
Jesika yang melihat itu dibuat khawatir, bukan dengan khawatir Brian yang kesakitan, tapi khawatir jika dia akan mengingat sela sang kekasih yang sebenarnya.
"Jangan dengarkan dia sayang.. sebaiknya kau istir.."Ucapan Jesika terpotong dengan bentakan Brian.
Berbeda dengan sela yang lagi lagi seperti tertancap di hatinya mendengar panggilan Jesika pada Brian.
"Aku kecewa padamu Devan!!!" Bentak sela memukul dada Brian beberapa kali dengan tangis yang lagi lagi mulai terdengar.
"Aku kecewa padamu....aku kecewa hiks"
Grep
Tangan yang terus memukul itu terhenti oleh tangan Brian yang mencekal nya.
"Nona, hentikan...apa kau ingin membunuhku dengan tanganmu itu" ucap Brian.
Tanpa menjawab, dengan perasaan yang bercampur aduk, sela keluar dari ruangan kamar Brian begitu saja dengan perasaan sedih.
"Aku kecewa padamu devan"
"Kau sudah berselingkuh di belakangku"
"Dan jika aku tidak kesini, mungkin aku tidak akan tau selingkuhan mu itu"
"Aku benci padamu devan!!!, Aku benci benci benci...."
Umpatan keal sela dan marah yang di layangkan untuk satu orang pria, yaitu brian.
,........
"Jangan menyentuh ku..kau pulang saja sana sebelum aku mematahkan tanganmu yang berani memegang ku tadi" Dengan dingin dan kejamnya Brian katakan kepada Jesika yang hanya diam mematung itu.
"Sial, walaupun dia amnesia, dia tetap saja bersikap begini padaku" Batin Jesika dengan kesal.
"aku bilang keluar!!!" Bentak Brian yang membuat Jesika tersentak dan langsung keluar kamar Brian begitu saja.
Brian yang melihat kepergian Jesika langsung saja ke kamar mandi yang berada di ruangan kamar ini.
Dengan menahn kesal dan marah yang begitu juga sangat terlihat. Dia mengosokan di bagian tangan yang sempat Jesika pegang walaupun hanya menyentuhnya.
Dia tidak suka jika ada sembarang orang memegangnya, apa lagi itu seseorang yang dia sangat tidak suka.
Hanya kekasihnya saja yang bisa memegang dan menyentuh nya tanpa izin darinya.
Dengan kasarnya... Brian menggosokan sikat di tangannya yang sudah dia berikan sabun sebelum nya.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku sudah membuatmu menangis" Ucap Brian dengan menahan sedih dan penuh sesal di hatinya.
Dia tanpa sengaja sudah mengingkari janjinya untuk tidak membuat sela menangis, namun hari ini... dia sudah melanggar janjinya sendiri.
"Aku janji, hanya masalah ini yang terakhir membuat mu menangis karna ku sayang, bahkan aku pastikan tidak ada seorang pun juga yang membuat menangis" Lanjutnya dengan tanpa henti terus menggosokkan sikat itu ke kedua tangannya sendiri dengan bergantian.
Bahkan sampai terlihat memerah di tangan nya seperti akan mengelupas dari kulitnya saja.
"Aku mendukungmu Brian, tapi aku sangat kecewa juga padamu" suara dengan nada datar terdengar di telinga Brian, Membuat nya seketika melihat orang tersebut.
.
.
.
Bersambung 🍁