
"Hah?" Ceplos mereka bersamaan.
"Ada apa dengan kalian" Heran brian melihat mereka bergantian.
"Tidak ada" Geleng mereka bersamaan.
"Apa kalian berpikir ingin di pukul oleh ku hem" Tebak brian dengan tersenyum, membuat temannya kalang kabut melihat kana kiri, kenapa bisa tebakannya pas.
"Tidak tuan, apa tadi tuan?, tadi tuan bilang apa?" Ucap sekertaris han mengalihkan pembicaraan, sekaligus dirinya memang tidak tau apa yang di ucapkan Brian tadi.
"Aku akan ke markas dulu hari ini, kau tau lanjutan nya" Jawab brian dengan bergegas keluar ruangan itu dengan merapihkan jas nya.
Han yang mendengar nya langsung paham, walaupun dia tidak tau ucapan nya tadi, tapi dia tau ucapan yang barusan brian katakan, apa lagi jika bukan dirinya menggantikan pekerjaan nya hari ini.
Han Hanya bisa menghela nafas, sudah biasa dia lakukan jika brian sedang sibuk di kelompoknya, untung saja dirinya hanya bekerja di satu perusahaan, jika lebih dari ini, mungkin saja kepala han akan keluar asap saking terlalu biasa mengerjakan pekerjaan bis nya.
"Aku ikut juga"Ucap angga sedikit berteriak di ikuti rey di belakangnya.
Setelah kepergian brian dan kawannya, han pun bergegas ke perusahaan BD untuk mulai bekerja apa yang harus dia kerjakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat datang bos" Ucap semua pasukan ketika mereka melihat Brian baru saja masuk dengan sopan dan sedikit menunduk.
Tanpa menjawab dan hanya mengangguk sedikit untuk membalas, Brian berjalan begitu saja ke arah depan dengan seperti mengeluarkan aura dingin yang sangat mencekam.
Membuat semua orang yang berada di sana tak berani mengangkat kepala mereka walaupun hanya untuk sekedar melihat wajahnya saja.
Karena terlalu takut dan hanya menunduk saja dari tadi, mereka tak menyadari jika brian dan rangga juga sampai dengan hanya melihat mereka dingin, namun agak sedikit beda dengan angga yang memang sifatnya sedikit ramah dari temannya yang lainnya yang malah menyapa mereka duluan dengan nada datar.
"Pagi" Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut nya.
Dengan tegap dan tegas, para pasukan seketika melihat nya, dan langsung sedikit membungkuk hanya untuk menghormati kedatangan nya.
"Selamat datang tuan angga, dan tuan rey" Ucap mereka semuanya.
"Maaf kami tidak tau jika kalian berdua juga datang" Lanjut salah satu dari mereka, seperti kepala pasukan nya.
"Hem" Gumam mereka berdua ( angga+ rey) dengan mengikuti Brian yang sudah duduk di tengah tengah para pasukan nya.
Tanpa brian bertanya, salah satu dari mereka maju menghadap brian dengan memberikan selembar kain berwarna hitam ke tangannya, setelah itu dirinya langsung kembali ketempat nya semula.
Brian yang menerima nya memperhatikan kain di tangan nya dengan sangat teliti, namun dengan tatapan dingin.
"Apa pasukan kita ada yang meninggal?" Ucap dingin brian.
"Karena serangan kemarin malam sangat mendadak dan sangat tiba tiba, membuat kami tidak bisa menghalangi serangan nya dengan mudah, mengakibatkan banyak pasukan diamond 💎 yang merenggang yawa tuan" Jelas salah satu dari mereka.
"50 orang meninggal dan 50 orang lainnya sekarang sedang kritis di ruangan medis di markas ini, dan sebagian lainnya luka luka ringan saja" jelasnya lagi.
Seketika brian meremas kain di tangannya dengan sangat kuat, seperti sedang meluapkan kemarahannya dengan kain yang dia pegang sekarang.
Di markas ini sudah di sediakan ruangan seperti rumah sakit beserta alat medis yang mereka selalu gunakan khusus untuk mereka.
Serta di tempatkan nya dua orang dokter yang di siapkan oleh brian di markasnya hanya untuk pasukan nya, sedangkan brian sendiri biasanya menggunakan tenaga deril untuk mengobatinya.
"Beraninya kau main main dengan ku b*****t" Ucap brian dengan marah dan kesal.
Seperti nya dia tau siapa pelaku nya yang sudah Bermain main dengan nya semalam.
Para anak buahnya yang melihat nya hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar melihat sifat dan raut wajah brian yang seketika berubah menyeramkan, tadi Brian berwajah dingin tapi tiba tiba saja berubah garang, siapa yang tidak takut jika melihat Brian sekarang ini.
Tak terkecuali kedua temannya yang juga hanya bisa terdiam melihat kemarahan brian, Sudah keberuntungan mereka tadi pagi tak kena bogeman mentah dari brian, Tapi sekarang... lihatlah.. Brian tersulut emosi lagi hanya karena seseorang yang mereka semua tidak tau.
"Pulihkan tenaga kalian mulai dari sekarang, dan jangan melawan jika ada yang menyerang kembali, panggil pasukan yang berada di markas yang lain untuk berjaga, tapi jangan sampai mengosongkan markas yang lain juga, sebagian saja panggilnya, aku yakin jika mereka akan bermain main kembali" Titah Brian pada pasukannya.
"Kenapa bos, kenapa harus memanggil pasukan yang lainnya, disini markas utama nya, bukan kah markas disini yang sangat ketat keamanan nya?" Tanya salah satu dari mereka hera.
Biasanya jika ada yang menyerang mereka akan di tugasnya untuk bersiap siap melawan, bukan tidak melawan, itulah yang mereka semua heran.
"Itu salah kalian juga, kenapa semalam ketika markas di serang tak menghubungi ku, mereka tau jika aku dan temanku tidak ada, mangkanya mereka berani kesini , apa kalian lupa hah" Teriak brian kesal kearah mereka.
Membuat semua orang yang mendengar nya Hanya diam tak berani menjawab...
"Reyhaaaaan... cepat kau saja yang jawab, tenang kan temanmu yang satu ini" Batin angga melirik brian dengan mulut sedikit berbicara, namun tidak terdengar.
Reyhan yang tak sengaja sedang melihat angga seperti paham apa yang Angga maksud hanya melirik dengan mata nya saja, sambil membatin...
"Kau saja sana, aku bahkan tidak tau jika semalam ada penyerangan" Batin Reyhan dengan menatap angga dan melirik brian agar angga saja yang mengatakan nya.
Memang benar, mereka tidak tau jika semalam ada penyerangan, yang mereka tau jika ada penghianatan di markas diamond ini, mereka juga tadi pagi baru saja sampai di mension brian dan mendapati dirinya sedang menahan amarah.
Dan yang terakhir langsung mengikuti nya ke markas setelah menitipkan pekerjaan kepada temannya yang sering di sebut sekertaris han itu.
"Bos, sebaiknya tenanglah dulu..." Angga yang berinisiatif menenangkan Brian seketika hanya bisa diam terpaku dan menelan ludah kembali dengan susah payah hanya dengan melihat mata brian yang seketika menatap nya tajam.
"Kau juga tidak tau apa apa, kau diam saja, seharusnya kau menjaga markas ini semalam" Ucap Brian tanpa mengalihkan tatapan nya.
Ya...ini seperti nya salah nya, semalam harusnya dia yang berjaga, mereka sudah sepakat jika markas harus ada pemimpinnya atau bergantian, dan semalam angga lah yang harus nya berjaga.
.
Bersambung 🍁