Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
HUKUMAN UNTUK JESIKA



Sela yang masih merasa heran malah memilih duduk mengikuti seperti apa yang di mainkan Brian. Seakan tidak terjadi hal yang aneh...


Sesekali melihat Brian yang sedang makan seperti biasanya, dengan sikap dingin ,datar dan cuek, berbeda sekali dengan beberapa detik tadi.


Setelah selesai makan bersama, mereka berdua akhirnya meninggal restoran tersebut tanpa di ikuti Jesika di belangnya.


Di tempat Jesika duduk...


Terlihat dia menelepon seseorang dengan tampang serius, namun sangat terlihat senyuman yang sangat mencurigakan, yaitu senyuman jahat yang dia layangkan setelah selesai bicara sebelum akhirnya menutup sambungan teleponnya.


"Lihat saja kau, jika Brian memang tak ingin bersama ku, maka..selama aku masih hidup, semua perempuan di dunia ini tidak akan yang bisa bersama nya, termasuk juga dirimu" Lanjut nya dengan tatapan tajam, jika saja ada seseorang yang melihat nya, mungkin mereka akan memilih melirik ke arah lain sekalipun Jesika sangat cantik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya...pagi yang begitu cerah seakan menghantarkan setiap langkah demi langkah seseorang berjalan.


Semua orang dapat tersenyum dan begitu ceria dengan suasana alam bumi sekarang... tidak terik namun juga tak mendung...


Dengan melihat kanan kiri dengan berjalan hati hati... akhirnya dia siap menyebrang setelah lampu merah menyala, dengan sedikit kendaraan yang tidak terlalu ramai.


Namun...baru saja dia berada di tengah jalan sedang menyebrang....suara teriakan begitu banyak terdengar dengan suara keras..


"Sekertaris selaaaaa, awas...."


"Nona...."


"Awaaaaaas"


Mendengar teriakan itu, membuat sela ingin menolong ke semua orang yang meneriakinya...


Bruk


Bruk


"Akhhhh" Teriak semua orang histeris ketika melihat sela yang sudah terkapar di tengah jalan dengan luka ditubuhnya, dan tak lupa darah yang terus mengalir deras merembes ke aspal.


Tabrak lari tak bisa di hindarkan, membuat sela hanya bisa terdiam pasrah dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya setelah mobil yang belum sempat dia lihat sudah menghantamnya dengan sangat keras.


Bahkan setelah dia terpelanting beberapa meter dan menghantam aspal, mobil itu seakan menambah kecepatan nya kembali untuk melarikan diri.


Semua orang pada mengerumuninya untuk melihat keadaan sela terlebih dahulu, namun... ketika melihat sela yang terlihat sangat terluka, mereka langsung saja Ingin membawanya dengan salah satu mobil di kantor KD.


Kebetulan beberapa pegawai di sana yang melihat tabrakan itu langsung menghampiri mengikuti kerumunan.


Baru saja sela akan di angkat oleh salah satu dari kerumunan tersebut.


Suara tercekat sela terdengar oleh mereka semua...


"Dev"


Bukan tanpa alasan...sela dapat melihat jika ada kedatangan Brian walaupun dengan pandangan sedikit buram.


Sungguh... rasanya dia seakan mau pingsan sekarang, namun itu juga yang dia ingin kan jika harus menahan sakit seperti ini.


Brian yang memang tiba tiba merasa khawatir tentang keadaan sang pujaan hati berniat menemuinya ke kantor tempat nya bekerja.


Tapi... baru saja dia sampai, dia melihat sela sudah berbaring di tengah jalan dengan orang orang yang sedang berlari mendekati tubuh yang seketika tak berdaya itu.


Membuat Brian langsung keluar dari mobilnya dan mendekati sela dengan buru buru.


Dengan langkah pelan menahan tangis, Brian mendekati sela yang tadi baru saja memanggilnya.


Sungguh... rasanya sangat sakit melihat orang yang kita sayangi sedang terkulai lemah dengan menahan sakit serta darah yang masih mengalir di kepalanya.


"Devan" Suara yang menahan sakit itu terdengar kembali.


Membuat semua orang seperti ikut merasakan sakit yang sela rasakan sekarang ini.


"A aku disini sayang....a aku di sini" Ucap Brian menahan tangis dengan memangku kepala sela.


"De dev van...ra rasanya sakit sekali... apa ini hari akhir ku me melihat mu.." Ucap sela.


"Jangan katakan itu lagi...kau akan selamat sayang...kau tidak boleh pergi tanpa seizin ku" Tegas Brian dengan memangku membawa tubuh sela ke dalam mobilnya.


Dengan kecepatan di atas rata-rata namun dengan hati hati agar tak menambah luka sela dengan kecepatan nya. Han melajukan mobilnya dengan sangat cepat, dia khawatir melihat sela yang terluka itu.


Ya...Han yang memang sebagai sopir Brian tadi pagi yang ingin membawa tuannya ke perusahaan atas perintah nya.


"Sayang... jangan membuat ku khawatir...Buka matamu..." Ucap Brian dengan khawatir melihat sela yang seakan akan sudah mengantuk ingin tidur. Dengan memukul mukul pipi sela dengan pelan, berharap sela tak menutup matanya.


"Kamu sudah sembuh Dev? " Ucap sela menahan sakit, sekuat tenaga dia kerahkan hanya untuk perkataan itu.


"Jangan banyak bicara...dan jangan tutup matamu..." Ucap Brian.


"Aku sangat senang mendengarnya" ucap sela diiringi senyuman manisnya.


Baru saja ucapan selesai, rasa sakit di tubuhnya seakan makin terasa, rasa pusing dan sakit di kepalanya terasa menjadi jadi, pandangannya mulai buram... sedikit demi sedikit pandangan itu memudar, namun dengan pasti... Sela mulai tak sadarkan diri di dekapan Brian.


Brian sendiri seketika Teriak memanggil namanya...


"Sayang...sela... buka matamu sayang... jangan pernah tinggalkan aku sayang....aku mohon bangun...sayang...."Teriak Brian menangis tak terbendung lagi.


"Sela...."Batin han yang juga menahan tangis.


Tanpa memikirkan nyawanya, dia langsung menancapkan mobil nya dengan sangat cepat, yang dia pikirkan nyawa adiknya sekarang...


.....


" Selamat datang tuan Brian" Ucap para suster dan dokter ketika melihat nya.


Tanpa menjawab, Brian dengan rasa cemasnya berteriak memanggil Deril.


"DERIIIIIL"


Dengan sekali Teriakan memanggil nya, sang pemilik nama sudah berada di depannya secara langsung, sesibuk apapun dia, jika sebagai dokter khusus nya,dia akan selalu siap.


Begitu juga dengan berangkar rumah sakit yang langsung di sediakan oleh para suster di sana.


"Selamatkan dia Deril, jika terjadi apa apa padanya, rumah sakit mu sebagai taruhannya" Ancam Brian dengan serius.


"Hmm" Angguk Deril mengiyakan.


Walaupun dia tidak bisa menjamin semua pasien nya sembuh, namun dia akan tetap berusaha semaksimal mungkin, Ayolah.... dia hanyalah dokter, kesembuhan bukan di tangan nya, dia sebagai perantara saja.


"Han...suruh Rey atau Angga mencari siapa pelakunya" Ucap Brian dengan dingin dan marah sedang menyelimuti dirinya.


"Baik tuan"


.......


Kecelakaan yang terjadi sudah sampai terdengar di telinga Kenzo dan Pandi dari para pegawai nya saha, membuat mereka berdua langsung bergegas ke rumah sakit dimana sela berada.


Begitu juga Angga yang langsung mencari informasi siapa pelakunya, dengan hanya bermodalkan kecerdasan dan laptop di depannya, dia bisa mencari pelakunya.


"Walaupun dengan kecepatan di atas maksimal, Tapi sepertinya aku lebih pintar dari mu kawan" Ucap pelan angga melihat layar laptop nya, dimana tempat mobil itu berada sekarang.


"Sekalipun kau melepas plat nomor mobil mu, itu bisa ku atasi, apa lagi ini, kau bisa bisa nya memasang plat nomor asli nya" Lanjut nya dengan tersenyum, seakan lucu dengan orang kali ini.


"Bagaimana keadaan nya sekarang?... Apa dia baik baik saja der?..." Tanya Brian dengan tergesa gesa ketika Deril keluar ruangan pemeriksa sela tadi.


" Dia sudah baik baik saja, tidak ada yang perlu di khawatir kan lagi, untung saja luka di kepalanya tidak sampai berakibat fatal, untung saja kau membawanya tepat waktu" Jawab Deril.


Brian hanya mengangguk paham...


"Terimakasih sudah menolongnya der" Ucapan Brian yang terdengar dingin, Namun itu sukses membuat deril melongo namun juga tersenyum senang, semenjak berteman dengan Brian, belum pernah dia mendapat ucapan terimakasih yang tulus dari Brian.


Ya, dia tau jika Brian mengatakan dengan tulus sekarang, walaupun dengan Dingin.


"Dok" panggil seseorang yang mengagetkan Deril.


"Ekhh, sus... dimana Tuan Brian" Bingung Deril tersadar.


"Baru saja pergi Dok" Jawab suster.


"Oh" Ucap deril hanya ber oh ria, dan meninggal kan sang suster yang diam melongo melihat kelakuan nya.


.....


"SIAL!" Bentak Brian ketika Angga memberi tahukan siapa pelakunya.


Mereka semua sedang berkumpul di mension Brian malam ini untuk membahas siapa dalang di balik kecelakaan sela.


"Ya Bri...orang yang melakukan ini adalah salah satu utusan Jesika yang ingin melihat nona tiada, dia berasumsi bahwa, dia sekarang menyerah untuk memiliki mu Bri, tapi dia juga tidak mau jika kau dimiliki sela" Jelas Angga.


"Beraninya dia" Geram Rey terdengar marah.


"Dia ingin menghabisi calon istriku, beraninya kau... wanita sialan" Teriakan Brian lagi lagi terdengar marah, dengan sekali pukulan, meja di depannya terbagi menjadi dua dengan begitu mudahnya.


Membuat semua orang di sana terkaget melihat nya (Han, Rey, dan Angga)


Dengan amarah yang berkobar di hati mereka semua...


Angin malam yang dingin seakan tak bisa mendinginkan hati mereka yang sudah memanas.


BRAK' sebuah pintu terdobrak begitu saja, membuat lantai yang di lapisi keramik itu ikut pecah atas benturan pintu kamarnya yang terjatuh itu.


"Sayang... kenapa kau kesini dengan keadaan marah, apa kau sedang mabuk?" Ucap sela bangun dari duduk nya dengan spontan ketika melihat pintunya yabg tegap itu seketika roboh.


Tidak ada suara marah yang dia ucapkan...


"Otak mu yang sedang mabuk dasar wanita sialan" Teriak marah Brian dengan mencengkram leher Jesika dengan cukup kuat.


Jesika yang melihat seketika ketakutan melihat kemarahan Brian.


"Ada apa sayang... kenapa kau marah begini...le lepaskan ta tangan mu" Ucap Jesika dengan berusaha melepaskan tangan Brian di lehernya.


"Berhenti berkata yang membuat ku jijik mendengar nya, kau bukan siapa siapa bagiku, dan kau berani berbuat macam macam pada kekasihku hah" Bentak keras Brian dengan melepaskan cekikan ya begitu saja.


"Hah hah uhuk uhuk hah" Batuk Jesika terdengar.


"Kau...kau sudah mengingat nya... kau...kau sudah sadar dan ingat semuanya"


.


.


.


Bersambung 🍁