Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
SELA KE RUMAH SAKIT



"Aaah aku lupa jika dia sedang amnesia "Batin Jesika.


Di gedung yang sama, para pengawal terlihat tergeletak di lantai begitu saja berusaha bangun Ketika mereka satu persatu tersadar.


Dengan rasa bingung dan sedikit pusing yang mereka rasakan, namun berusaha sadar dan saling melirik satu sama lain.Namun sedetik kemudian... mereka semua seakan tersadar, mereka seperti merasakan ada asap ketika berjaga, namun setelah itu mereka tak mengingat nya kembali.


Tok tok tok 'Suara yang mereka buat dengan mengetuk pintu yang berada di dalamnya.


Bisa saja mereka langsung masuk, namun mereka tau aturan... mereka harus sopan jangan menerobos masuk begitu saja.


"Bos"


"Bos"


Tok tok tok


"Bos"


Cklek


"Siapa kalian semua!... kenapa mengganggu ku hah!" Teriak Brian dengan kesal setelah membuka pintunya.


Para anak buah seakan tersentak mendengar ucapan brian yang terdengar marah, suara meninggi dan marah sudah biasa, namun bukan itu yang buat mereka kaget. Tapi ucapan Brian yang seperti tak kenal dengan mereka semua.


"Siapa sayang?" suara Jesika yang menghampiri Brian, dan itu sukses membuat mereka semua melotot dengan sempurna karena kaget ketika melihatnya.


"Bos...kau"Kaget mereka semua.


"Apa?, siapa kalian?...berani sekali menunjuk padaku " Marah Brian ketika salah satu dari mereka tak sengaja menunjuknya, membuat nya seketika menurunkan tangannya sendiri karena takut.


"Maaf bos"


"Siapa mereka semua sayang?" Tanya Jesika menggelayut manja di tangan Brian tanpa di tolak sang pemilik tubuh.


Pemandangan ini lagi lagi membuat para pengawal nya di buat syok, tangan itu... tangan yang tidak bisa sembarang orang memegangnya, bahkan untuk menyentuh nya saja seperti harus meminta izin, Hanya sela yang bebas menyentuh tangan itu...


Tapi ini... sudah tercemar oleh tangan wanita lain, tak bisa di banyangkan jika kekasih aslinya mengetahui nya' pikiran mereka yang tak habis pikir.


"Maaf bos sudah menggangu waktunya, bos bisa kembali beristirahat, semoga cepat sembuh bos" ucap salah satu dari mereka dengan sedikit gugup, dan menutup kembali pintu itu tanpa persetujuan dari Brian sendiri.


"Ini tidak beres kawan"


"Iya, sangat tidak beres, biar ku telepon tuan Rey"


Salah satu dari mereka akhirnya menghubungi Rey...


"Hem" Ucap Rey di sebrang telepon.


"Tuan, bos sudah sadar, tapi ada seorang wanita di dalam ruangan bersamanya" Ucapnya.


"Wanita, sela?"


"Bukan tuan, aku juga tidak tau, sebaiknya tuan kesini sekarang"


"Kau jaga bos di sana, aku akan ke sana sekarang " Jawab Rey.


"Baik tuan"


Rey langsung saja mematikan telepon nya dan langsung bergegas ke rumah sakit di mana Brian berada.


Sela yang masih merasa khawatir dengan keadaan Brian, padahal dia tidak tau keadaan Brian sekarang, tapi seakan dirinya bisa merasakan jika Brian sedang tidak baik baik saja.


Dengan duduk di kursi kerjanya di kantor KD, Bukan untuk bekerja, namun hanya melamun melihat depan, sesekali melihat ponsel yang dia pegang sekarang, berharap ada sebuah pesan atau telepon dari Brian atau Abang nya.


"Hey pan" Panggil sela melihat pandi yang sedang melihat laptop nya.


"Hem"


"Kudengar, seorang mafia biasanya bisa melacak, atau mengetahui seseorang hanya melihat laptop?" Ucap sela berbasa-basi.


"Apa kau juga bisa seperti itu?" lanjutnya.


"Tidak semua mafia bisa, itu hanya di miliki oleh hacker saja, memang nya kenapa?" Ucap pandi.


"Apa kau bisa?" Tanya sela sekali lagi dengan berharap.


"Bisa.." Jawab pandi singkat, namun sukses membuat sela tersenyum, Dan langsung beranjak dari kursi kerjanya mendekati pandi.


"Aku minta tolong padamu, lacak nomor ini" ucapnya menunjukan nomor yang tertulis "Devan ku"


"Devan?, siapa devan?" Tanya pandi tidak tau.


"Dia Brian devano, cepat kerjakan, aku ingin sekarang juga" Ucap sela.


"Ya ya...sini..biar ku lacak, kenapa kau jadi memaksa begini " Ucap pandi namun mengerjakan apa yang sela perintahkan.


Dengan jari jari tangan nya yang begitu lincah menekan beberapa keyboard, pandi akhirnya bisa melacak nomor handphon yang sela berikan.


"Untung kau memberikan nya setelah meneleponnya" Ucap pandi dengan melihat layar laptopnya.


"Sudah?, gitu doang?, kenapa cepat sekali?" Heran sela dengan melihat laptop nya, terpampang sebuah seperti JPS dengan menampilkan tanda merah.


"Nah, yang ini tempat di mana Brian berada" Tunjuk pandi di tanda merah.


"Jika mencari seperti ini, biasanya setelah nomor itu di hubungi, dan kau kan baru saja menghubungi nomor tuan Brian, makanya cepat bisa di lacak, jika sudah dua hari atau seterusnya, biasanya susah di lacak" Jelas nya.


Membuat sela hanya mengangguk paham...


"Oooh, untung aku tadi menghubunginya... tunggu.."Ucap sela terhenti ketika melihat kembali tanda merah di layar.


"Rumah sakit, Devan ku ada di rumah sakit.."Ucap sela kaget sekaligus khawatir ketika melihat tanda merah yang pas berada di gambar rumah sakit.


"Sekertaris pan...aku akan ke sana dulu, kau bilang pada bos jika aku meminta izin hari ini" Ucap sela menatap pandi sejenak sebelum akhirnya bergegas keluar begitu saja dari ruangan kerjanya.


Dengan membawa handphone dan memasukan nya kedalam tas kecil yang selalu dia bawa.


Belum sempat pandi menjawab, pintu sudah tertutup rapat dengan sela yang sudah tidak terlihat.


"Jika saja itu orang lain, sudah pasti kau sudah di pecat sela andini, seenaknya saja kau meminta izin dan pergi begitu saja...Entah kenapa kau bisa di terima di perusahaan KD ini?.. Sedangkan kau saja seperti menganggap perusahaan ini perusahaan mu saja" Ucap pandi dengan suara pelan.


Dia memang sempat heran dulu, kenapa seorang wanita muda bisa masuk keperusahaan KD dengan modal lulusan SMA saja, sedangkan di perusahaan KD ini rata rata lulusan perkuliahan.


Tapi kenapa bisa?, sela yang notabenya hanya lulusan sekolah menengah atas bisa menjadi karyawan, bahkan sebagai sekertaris.


Mungkin bukan hanya dirinya saja yang heran, semua pekerja yang mengetahui sela bisa saja seperti nya juga merasa aneh.


Apa lagi jika mereka tau pekerjaan sela yang sebenarnya, hanya menjadwalkan waktu pandi saja, sungguh membuat orang iri atau malah bosan jika menjadi sela.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BRAK


Suara keras dari pintu rumah sakit yang terbuka dengan sangat keras, menampakkan wajah sela yang terlihat khawatir.


Ya...sela yang baru saja masuk dengan khawatir dengan keadaan Brian tak menghiraukan jika ini adalah rumah sakit, setelah mengetahui di mana kamar brian, dia langsung saja bergegas kesana.


Namun...raut wajah yang semula khawatir tiba tiba tergantikan dengan raut wajah yang mulai berubah.


Rasa menusuk dalam hati seakan terasa begitu saja dengan cepat.


Dengan langkah cepat, dia masuk dan menghampiri orang yang melihatnya dengan tampang heran.


.


.


.


Bersambung 🍁