
"Menurut mu, siapa yang berani melakukannya pak" Bisik temannya kearah dirinya, seperti sudah menduga siapa pelaku nya.
Sedangkan Kenzo yang mendengarnya pertanyaan Hanya diam bingung, apa aku harus mengatakannya ' pikir dia.
"Apa bos dari diamond 💎, Tuan Brian Devano sekaligus pemilik perusahaan BD" Lanjut nya lagi membuat kenzo lagi lagi kaget dan hanya bisa diam melihat pak polisi yang duduk di depannya dengan berusaha tampak terlihat datar, seperti Ingin mendengar ucapan nya Kembali.
"Sepertinya ucapan ku benar tuan" Ucap polisi lagi. Dan beranjak dari duduknya untuk berpamitan kepada kenzo, Begitu pun teman dan dirinya.
Polisi yang melihat Kenzo Hanya diam berdiri tanpa ingin bicara padanya, dirinya pun berucap Kembali.
"Tuan tak perlu heran, kenapa kami tak Kaget dan tak berusaha menangkap tuan brian Yang berani membunuhnya"
Tanpa di Tanya, polisi itu menjelaskan bahwa Brian dan para polisi sudah sepakat jika brian menemukan pria itu akan membantu menangkapnya dengan cara apapun atas kasus yang sangat melanggar peraturan dan norma hukum menurut negara, tapi dalam pembicaraan waktu itu juga.
Brian sempat berucap jika dia bertemu tak sengaja menembak atau bahkan yang lebih parah lagi dari hal itu. Dan itu sudah di sepakati oleh para polisi maupun pengurus hukum yang lainnya Karena jika di tangkap juga pria itu akan di hukum mati sebagai hukuman nya.
Waktu itu dirinya belum tau tentang kasus kedua orang tuannya, Apa lagi dirinya tau tentang kasus orang tuannya, pantas saja.
Kenzo hanya mendengar dan menyimak setiap perkataan yang keluar dari salah satu polisi.
"Oh, pantas saja jika begitu"Monolog Kenzo memahami setiap ucapan polisi di depannya.
Setelah mengatakan itu, para Polisi yang sekitar empat orang itupun pergi meninggalkan mension nya setelah berpamitan kepadanya.Begitu juga dirinya yang bergegas ke perusahaan dengan di supiri pandi yang sudah menunggu nya beberapa menit lalu.
"Bagaimana dengan sela, apa dia baik baik saja"Tanya Kenzo.
"Tidak tau tuan" Jawab pandi dengan jujur sambil menyetir.
Sedangkan di tempat sela berada, dirinya yang baru saja bangun dari tidurnya merasakan sedikit pusing di kepalanya di sebabkan kejadian semalam yang membuat dirinya tidur terlalu malam, yang membuat dirinya kekurangan istirahat.
Di lantai bawah di tempat meja makan dengan masih di lokasi yang sama.
Brian yang sedang duduk dengan di temani beberapa hidangan untuk dirinya sarapan dengan di layani beberapa pelayan di mensionnya, dengan sesekali melirik ke arah atas, dimana tempat sela berada dengan perasaan sedikit khawatir dihatinya.
"Dimana dia"
"Jangan sampai dia Kabur karena semalam, tapi itu tak mungkin kan, semalam dia berbicara dengan nada kesal, berarti dia baik baik saja"
"Tuan, Apa perlu saya panggil nona sela" Tanya pak jo yang dari tadi berdiri melihat, seperti mengetahui apa yang di pikir kan brian.
"Tidak perlu pak jo, biarkan dia istirahat "Jawab Brian.
Tidak lama kemudian, sela turun menggunakan tangga menghampiri brian yang sedang menatap nya dengan tatapan lembut.
"Selamat pagi sayang"
"Selamat pagi dev, selamat pagi pak..." Jawab sela tersenyum.
"Panggil saja pak jo nona" Ucap pak jo melihat Sela.
"Iya, selamat pagi pak jo"
"Selamat pagi juga nona "
Sela dan Brian akhir nya sarapan bersama Tanpa ada suara sedikit dari suara mereka, dengan keadaan sudah sama sama rapih menggunakan pakaian Kantor, Hanya terdengar suara dentingan sendok yang mereka berdua ciptakan.
Seperti sedang adanya peperangan dingin dari keduanya yang sama sama diam tidak seperti tadi ketika saling bersapa.
Para pelayan yang melihat itu saling lirik sesama temannya,tak terkecuali pak jo yang juga merasa aneh dan heran melihat keduanya.
Brian yang tak suka dengan keadaan seperti ini sesekali menatap sela yang sedang memakan sarapannya dengan tatapan datarnya.
"Ada apa?"
"Kenapa diam saja dari tadi"
"Tidak ada,dan sebaiknya kau diam saja"Ketus sela melirik brian.
"Apa kau masih memikirkan hal semalam, sudah kubilang aku ada alasan nya"
"Tetap saja"
"Sela "Bentak brian membuat sela terdiam.
"Sudah ku bilang aku ada alasannya, mana mungkin aku melakukan hal yang membuang waktuku cuma untuk membunuhnya sela"
"Bahkan kau mengatakan membunuhnya membuang waktu mu"Ucap sela sinis melirik Brian.
Brian yang melihat sela seperti itu membuat dirinya marah, bagaimana tidak marah jika orang di depannya tak memahaminya walaupun sudah dia katakan berulang kali jika dia punya alasan tersendiri.
"Sela!!.. cukup!!, kau sudah membuat pagi ku tiba tiba buruk karna mu"
"Ya,dan sudah sebaiknya aku pergi dari sini, terimakasih atas tumpangan nya" Ucap sela beranjak dari duduknya, bahkan sarapan yang dia makan hanya sedikit dia habiskan tanpa ingin menghabiskan nya.
Setelah mengatakan itu, sela bergegas meninggalkan mension Brian menggunakan taksi yang sudah lama dia pesan sebelum turun kelantai dasar di mension Brian, tanpa menghiraukan teriakan Brian yang meneriakinya untuk berhenti.
"Arrrrghhhh" Geram Brian sendiri ketika sela tak berhenti dan malah pergi menggunakan taksi.
Di perusahaan daraga..
"Selamat pagi tuan Kenzo, sekertaris pan" Sapa sela di dalam lift menuju ruangan nya bersama kedua pria yang dia anggap seperti teman.
Kebetulan ke dua pria itu baru saja sampai seperti dirinya (pandi dan kenzo)
Tapi mendengar ucapan sela seperti ini yang sangat terdengar formal di telinga kedua nya, seketika tak jadi menjawab sapaan dari sela dan malah menatap sela.
Sela yang sebenarnya merasa sedikit merasa takut setelah melihat kejadian semalam, membuat diri nya agak sedikit melonggarkan perbatasan di antara mereka, apa lagi ketika tadi di meja makan ketika Brian membentak nya yang sebenarnya membuat dirinya semakin takut dan semakin waspada kepada semua pria di dekatnya.
"Jangan terlalu formal sel, Seperti biasa saja ketika kau menyapa kami" Ucap pandi.
"Dan nya, selamat pagi juga untuk mu" Lanjut nya ramah.
Ting' suara lift pertanda sudah sampai.
"Apa tuan mu dan dirimu tidak sedih atas kematian ayah tuan kenzo"Bisik sela dengan pelan kearah pandi setelah mereka berdua duduk di meja kerjanya, Takut jika menyinggungnya perasaan pandi menurut sela.
"Dari mana kau tau jika dia ayah tuan?" Heran pandi, pasal nya tidak ada siapapun yang tau tentang orang tua bos nya, kecuali orang orang yang bersangkutan.
"Aaaah, semalam aku tak sengaja mendengar nya"
Pandi hanya mengangguk mengerti.
"Sudah ku duga jika kau mengikuti kami, mana mungkin kau bisa sampai kesana" Ucap pandi tersenyum.
"Aku pikir begitu, sama seperti yang kau pikirkan sela, tapi ternyata tidak, dia bukan orang yang seharusnya di panggil ayah oleh taun kenzo" Lanjutnya.
Sela yang mendengarnya Hanya diam menyimak setiap ucapan yang keluar dari pandi.
.
.
.
Bersambung 🍁