Mafia Boss Love Story

Mafia Boss Love Story
PENJELASAN



Namun... seperti nya tidak.... Terlihat sela hanya melihat nya saja dengan tatapan tak terbaca, membuat dirinya seketika merasa aneh.


"Suasana macam apa ini?, tatapan apa yang di berikan sela itu?, seumur umur aku mengenal nya tak pernah dirinya memberikan tatapan kaya gini?" Batin heti sedang berperang dengan dirinya sendiri.


Segelas minuman yang sela sediakan dan dia minum sekarang sudah tandas tak tersisa di gelasnya, suasana canggung di antara mereka semakin kuat, rasanya heti ingin pergi saja dari ruangan ini yang tiba tiba terasa sangat dingin.


Gelas yang masih berada di tangan dia simpan di atas meja di depannya dengan pelan, bahkan sampai tidak ada suara sama sekali.


"Sel?" Panggil heti pelan dan gugup ketika tidak ada pembicaraan di antara keduanya yang cukup lama.


"Hem" Gumam sela.


Jawaban sela yang dingin membuat heti sedikit takut dengan sela, sungguh.. baru kali ini dirinya melihat sela seperti ini, tidak banyak bicara... Bahkan untuk berkata menyapa saja tidak, apa lagi mengajaknya mengobrol.


"A aku kan sudah minta maaf... apa..apa kau tak ingin memaafkan ku" gugup heti dengan saling memegangi tangannya sendiri, berharap akan membantu mengurangi rasa yang begitu tak enak di rasakan.


"Sejak kapan aku membencimu?" Tanya balik sela dengan hanya meliriknya.


Seketika heti tersadar dengan pertanyaan sela...


"Jadi..jadi kau sudah memaafkan ku, begitu..?" Ucap heti dengan tersenyum bergembira, dan dengan refleks memeluk sela.


"Terimakasih sela, terimakasih kau sudah memaafkan ku, dan tidak menaruh dendam padaku" Lanjutnya dengan terharu dengan jati sela, sungguh..hati sela menurut nya sangat baik, jika orang lain.. mungkin tidak akan begitu gampang memanfaatkan seseorang dengan hatinya.


Orang mungkin saja berkata dengan memaafkan seseorang, tapi belum tentu dengan hatinya yang sering bertolak belakang dengan ucapan.Tapi sejak dirinya memahami sifat sela, dirinya sangat senang dan ingin sekali menjadi sela.


"Bagaimana pun kau tetap kakakku, bagaimana pun keadaan nya, aku juga orang yang ku anggap keluarga ka" Ucap sela menerima pelukan heti.


"Kau sangat baik, aku sadar aku salah sel, aku minta maaf, jika dari dulu aku tau jika kau tidak salah, dan aku tidak terhasut dengan sikap mamahku , mungkin kita akan jadi sahabat dari dulu" Ucap heti melepaskan pelukannya.


"Tunggu..."Ucap sela merasa heran dengan kata kata heti.


"Kau bilang kau sadar, terhasut? maksudnya?" Lanjut nya.


"Ya, aku sudah sadar.. selama ini kau tidak salah, seharusnya ku tau jika yang salah di sini ayah ku, maaf kan soal itunya" jelas heti.


"Etsss Jangan bilang kau baik hanya ingin ayahmu bebas" Ucap sela curiga, bisa saja kan jika orang melakukan itu demi keselamatan orang yang mereka sayangi, seperti heti dan sang ayah yang sedang di penjara.


"Bukan, bukan begitu, bisa tidak pemikiran otakmu itu bersifat positif dulu padaku" kesal heti.


"Tidak" ketus sela.


"Hah" Heti hanya bisa menghela nafas mendengar suara sela yang ketus itu, itu hal biasa orang terjadi jika sudah tak percaya pada seseorang, itu juga di maklumi oleh heti.


"Aku sudah menyadari jika aku salah sela, dan aku juga tak meminta mu mengeluarkan ayah ku, dia memang pantas masuk sel tahanan seperti penjahat lainnya" Lanjut Heti.


Seketika sela melihat heti yang mengatakan nya sedikit tegas dan terdengar sangat serius.


"Seperti nya dia memang sudah baik, dan serius" Batin sela.


"Ya ya, aku percaya kau sudah tobat" Ucap sela dengan kata kata sedikit tajam ketika mengatakan tobat.


"Aku sudah bilang aku juga memanfaatkan mu bukan, jadi kakak sebaiknya pulang saja, sebentar lagi akan malam, ini sudah sangat sore" Jelas sela bermaksud agar kakaknya itu pulang.


"Ehhh, Kakak bilang kau sudah sadar jika mamah mu salah, jangan bilang kakak juga di usir dari rumah, atau kau keluar rumah" Tebak sela menatap heti tajam dengan tampang menyelidik menuntun penjelasan.


Heti merasa deg degan, dan hanya bisa menelan ludah nya sendiri saking gugupnya, baru saja dirinya ingin berbuat baik, sudah setakut ini melihat sela. Jika dia pikir pikir, jika sela dari dulu berperilaku begini pada keluarganya, mungkin siksaan dan hinaan tak kan sela dapat kan karena sangat takut melihat perilaku sela.


Namun itu mana mungkin terjadi, sela di rumahnya sejak kecil, mana mungkin bisa melawan orang orang yang sangat sangat dekat dan keras padanya jika masih di lingkungan yang sama.


"Kakak keluar dari rumah itu" Jawab Heti jujur.


"Kenapa?"


"Waktu itu aku baru saja pulang dari kampus ku, dan kebetulan sebelum sampai rumah kakak menolong seorang wanita yang hampir tertabrak, jadi kakak yang menolong nya malah menggantikan wanita tersebut yang harus nya terluka, setelah di bawa dan di rawat di rumah sakit untuk di cek keadaan ku, aku pulang dengan di hantar oleh seorang pria yang entah siapa?, mungkin saja anaknya" Jelas heti berhenti sejenak.


"Lalu?"


"Setelah sampai rumah, dan bertepatan hari itu adalah ayah di bawa ke kantor polisi pagi ya, tapi setelah aku sampai, mereka berdua malah sedang tertawa bergembira dengan aku mendengar sepertinya mereka berdua sedang mengatakan uang hasil penjualan perusahaan yang hampir bangkrut itu"


"Setelah aku sampai, mamah ku sangat khawatir padaku ketika dia melihat luka luka lecet di tubuhku"


"Anak manja..."


"Dengarkan dulu" Kesal heti ketika sela menyelanya.


"Mamah bertanya padaku dari mana luka ku ini berasal, Tapi setelah aku mengatakan yang sebenarnya, dia marah besar karena aku menolongnya" Lanjut nya.


"Karena itu kakak keluar dari rumah?" Tanya sela.


"Bukan itu, beberapa waktu sebelumnya aku sudah sadar, seperti aku katakan padamu tadi jika menyadari keluarga ku salah padamu, dan setelah dia marah padaku karena menolongnya dan mengatakan jika aku tak boleh menolong seseorang yang jika melukaiku" Jelas heti.


"Waaah,,,aku sangat tersanjung dengan cerita mu ka, akhirnya kau telah sadar sepenuhnya" ucap sela dengan heboh dengan sedikit bercanda.


"Ya..aku juga tidak mau terpengaruh dengan ucapan mamah ku yang menurutku pelajaran nya tidak baik padaku" Ucap heti.


"Terus, sekarang kaka tinggal dimana?" Tanya sela.


"Di apartemen ini" singkat heti yang langsung dapat pelototan dari sela.


"Kakak disini juga, sejak kapan?" kaget sela.


Akhirnya heti pun menjelaskan dan menceritakan semuanya pada sela ketika sela terus saja bertanya, kecuali seorang dokter ahli bedah yaitu deril tidak dia ceritakan, karena dirinya tidak tau deril itu siapa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam yang semakin dingin dan mencekam tak membuat semua orang di dalam rumah untuk mengisyaratkan tubuh mereka.


Terbukti salah satu kelompok di kalangan mafia sedang menjalankan tugasnya di salah satu kawasan yang sudah mereka target kan.


.


Bersambung 🍁